Amplifikasi Gelombang dari Rotasi Sintetis: Penrose-Zel'dovich di Laboratorium

Phys.org

Phys.org

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Amplifikasi gelombang dan ekstraksi energi dari rotasi sintetis kini dibuktikan lewat perangkat radio-frequency yang diam, meniru benda berputar ultracepat. Studi tim CUNY ASRC yang terbit di Nature menunjukkan versi laboratorium dari gagasan Penrose-Zel'dovich, sebuah konsep yang selama puluhan tahun lebih dekat ke astrofisika ketimbang teknologi sehari-hari.

Lebih dari setengah abad lalu, Roger Penrose membayangkan energi bisa “diambil” dari black hole yang berputar sangat cepat. Dalam skenarionya, sebuah partikel yang masuk ke ergosfer dapat terbelah, satu bagian jatuh ke black hole, dan bagian lain lolos dengan energi lebih besar dari semula.

Fisikawan Yakov Zel'dovich kemudian memperluas ide itu ke ranah gelombang: gelombang yang berinteraksi dengan objek berputar cukup cepat dapat teramplifikasi sambil menyerap energi rotasi. Masalahnya, eksperimen nyata sulit dilakukan karena rotasi mekanik punya batas kecepatan, stabilitas, dan keselamatan.

Tim Advanced Science Research Center di CUNY Graduate Center memilih jalan memutar: bukan memutar materi, melainkan “memutar” sifat-sifat perangkat melalui modulasi ruang-waktu. Mereka membangun jaringan resonator elektronik berbentuk cincin, lalu memodulasi parameternya cepat dan berurutan sehingga muncul pola berjalan mengitari cincin.

Perangkatnya tetap diam, tetapi gelombang elektromagnetik “merasakan” seolah sistem sedang berputar ultracepat. Ketika gelombang dengan karakter rotasi yang tepat ditembakkan, gelombang itu mengekstraksi energi dari rotasi sintetis dan keluar dalam keadaan teramplifikasi.

Andrea Alù menyebutnya “broadband selective amplification”, yaitu penguatan selektif yang dapat bekerja pada rentang frekuensi lebar, karena energi datang dari rotasi yang direkayasa oleh waktu. Hady Moussa menegaskan eksperimen ini “mereproduksi fisika esensial proses Penrose–Zel'dovich” melalui metamaterial yang mengendalikan cara rambat gelombang.

Poin teknis yang membuatnya penting adalah akses ke “kecepatan rotasi” yang melampaui kemampuan mekanik, bahkan mensimulasikan gerak melampaui kecepatan cahaya dalam arti pola yang merambat, bukan benda fisik. Ini memperluas ruang eksperimen untuk dinamika rotasi ekstrem tanpa harus membangun rotor yang mustahil atau berbahaya.

Hadiseh Nasari menilai capaian ini memindahkan ide rotasi ekstrem dari teori ke praktik dan menjadi platform serbaguna di pertemuan astrofisika, fisika gelombang, dan sains kuantum. Implikasinya disebut merambah komunikasi nirkabel, optik klasik, hingga fotonik, meski adaptasi ke teknologi praktis masih menjadi pekerjaan lanjutan.

Terobosan ini menarik karena “black hole” tidak lagi hanya metafora kosmik, melainkan sumber inspirasi desain perangkat yang memanipulasi gelombang. Namun publik perlu waspada terhadap salah kaprah: ini bukan mengambil energi dari gravitasi atau menciptakan mesin energi gratis, melainkan memindahkan energi dari sistem yang dipompa dan dimodulasi secara aktif ke gelombang tertentu.

Di sisi lain, justru di situlah nilai strategisnya, karena penguatan selektif yang dikendalikan rotasi sintetis dapat menjadi alat baru untuk pemrosesan sinyal dan kontrol cahaya. Jika konsep ini bisa diskalakan ke platform fotonik dan kuantum, ia berpotensi mengubah cara kita merancang penguat, isolator, atau komponen nonresiprokal tanpa bergantung pada magnet besar atau rotasi mekanik.

Meski demikian, tantangan rekayasa akan menentukan apakah ia berhenti sebagai demonstrasi elegan atau menjadi teknologi luas. Stabilitas modulasi, efisiensi energi, kebisingan, dan kompatibilitas dengan perangkat nyata akan menjadi ujian yang tak kalah keras dari teori Penrose itu sendiri.

Eksperimen CUNY ASRC menunjukkan bahwa amplifikasi gelombang bisa lahir dari “gerak” yang sepenuhnya sintetis, membuka laboratorium mini untuk fisika ekstrem yang dulu hanya hidup di atas kertas. Di tengah perlombaan inovasi komunikasi dan fotonik, pertanyaannya kini bergeser: seberapa jauh kita bisa meniru hukum alam paling ganas untuk membangun perangkat yang paling presisi?

Jika rotasi sintetis mampu membuat gelombang “mencuri” energi secara terarah, maka batas antara inspirasi kosmik dan rekayasa industri semakin tipis. Pada akhirnya, yang mengubah dunia bukan hanya teori besar, melainkan kemampuan kita menundukkan teori itu menjadi alat yang berguna dan bertanggung jawab.

(Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)