Penghapusan Leap Second: UTC dan Zona Waktu Tanpa Rotasi Bumi

KSL News

KSL News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Penghapusan leap second kembali memanas karena para penjaga waktu dunia bersiap memutus kaitan jam resmi dengan rotasi Bumi. Di Greenwich, patokan siang hari pernah terasa fisik saat matahari melintasi meridian, tetapi kini waktu global kian ditentukan laboratorium dan server.

Selama berabad-abad, manusia membaca waktu dari langit, dari jam matahari hingga observatorium seperti Royal Observatory Greenwich yang berusia 351 tahun. Namun, jam modern kini lebih percaya pada getaran atom dalam jam atom yang sangat presisi, bukan pada putaran Bumi yang berubah-ubah.

Sejak 1972, leap second sudah disisipkan 27 kali untuk menyelaraskan dua dunia, yakni waktu astronomi dan Coordinated Universal Time (UTC). UTC ditetapkan oleh jam atom sejak 1950-an, sementara waktu astronomi berakar pada rotasi Bumi yang dipantau observatorium.

Masalahnya, Bumi bukan “jam” yang stabil karena rotasinya bergoyang dan tidak konstan. Jeff Sherman dari National Institute of Standards and Technology menyebut Bumi pada dasarnya “jam yang buruk”, karena dipengaruhi tarikan gravitasi Bulan, dinamika inti planet, serta perpindahan air dan es.

Krisis iklim ikut memperparah ketidakstabilan itu melalui mencairnya es kutub yang mengubah distribusi massa Bumi. Di titik ini, dunia harus memilih, apakah waktu harus tetap setia pada langit di atas garis bujur Greenwich, atau mengikuti jam buatan manusia yang lebih stabil.

International Bureau of Weights and Measures (BIPM) yang beranggotakan 69 negara dijadwalkan memilih resolusi untuk menghapus leap second. Jika disetujui, perubahan berlaku mulai Mei 2027, dan UTC akan bergerak tanpa koreksi detik kabisat.

Patrizia Tavella, direktur departemen waktu di BIPM, menilai koreksi detik kini menjadi isu serius bagi aplikasi modern. Dahulu, keterikatan pada waktu astronomi penting karena navigasi masih bergantung pada metode langit, tetapi era GPS mengubah kebutuhan itu.

Di sisi lain, detik tambahan yang datang tidak teratur dan diumumkan hanya enam bulan sebelumnya menyulitkan sistem digital. Infrastruktur seperti telekomunikasi, jaringan listrik, komputasi awan, hingga perdagangan frekuensi tinggi menuntut stempel waktu yang rapi dan konsisten.

Risikonya bukan teori, karena detik kabisat pernah memicu gangguan besar pada 2012, termasuk Reddit, LinkedIn, dan sistem pemesanan Qantas. Pada 2016, Cloudflare juga sempat mengalami gangguan ketika servernya tidak menangani penambahan detik dengan benar, dan Meta menyebut leap second sebagai “sumber rasa sakit besar”.

Urgensinya meningkat karena dunia mungkin segera menghadapi sesuatu yang belum pernah dicoba, yaitu negative leap second atau pengurangan satu detik. Tren jangka panjang rotasi Bumi memang melambat, tetapi dalam jangka pendek Bumi tampak mempercepat putaran, sehingga koreksinya bisa berbalik arah.

Laporan 2025 dari International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS) memperkirakan peluang negative leap second meningkat tajam. Menurut BIPM, probabilitasnya bisa mencapai 30% pada 2035, dan operator infrastruktur kritis dinilai “sebagian besar belum siap” menghadapi penghapusan detik.

BIPM bahkan membandingkan biaya persiapan industri untuk sinkronisasi waktu dengan skala kesiapan menghadapi Y2K. Dalam dunia yang semuanya bertanda waktu digital, menghapus satu detik bisa menimbulkan kekacauan yang lebih sulit dipetakan daripada menambah satu detik.

Namun ada penolakan yang konsisten, termasuk alasan teknis dan filosofis. Profesor Marek Ziebart dari University College London menilai tantangan teknis leap second sering dibesar-besarkan, dan sistem yang ada sebenarnya bekerja menjaga skala waktu tetap selaras dengan rotasi Bumi.

Ziebart juga menekankan biaya perubahan jika leap second dihapus, karena perangkat lunak harus diperiksa, didesain ulang, dan diperbaiki. Ia menyebut ada kenyamanan intelektual saat waktu harian manusia tetap terikat pada rotasi, karena ritme biologis kita tumbuh dari matahari terbit dan terbenam.

Resolusi BIPM menawarkan jalan tengah yang diam-diam radikal, yaitu membiarkan waktu atom “melenceng” perlahan dari waktu astronomi. Batas selisih yang direkomendasikan adalah 3.600 detik atau satu jam, dan Tavella memperkirakan butuh lebih dari 3.000 tahun untuk mencapai jurang itu.

Louise Devoy dari Royal Observatory Greenwich menyebut skenario itu sebagai mewariskan keputusan “leap hour” kepada generasi masa depan. Ia juga menilai perubahan ini akan terjadi di balik layar dan tidak mengganggu rutinitas, karena manusia tetap mengejar cahaya siang dan ritme sirkadian.

Perdebatan penghapusan leap second sebenarnya bukan sekadar soal detik, melainkan soal siapa yang memegang otoritas atas realitas waktu. Jika dulu langit menjadi hakim, kini pusat data dan jam atom menjadi penentu, dan pilihan itu mencerminkan pergeseran peradaban dari alam ke sistem.

Argumen “stabilitas” jam atom memang kuat, karena ekonomi digital tidak menyukai kejutan. Tetapi ketergantungan penuh pada waktu laboratorium juga berarti kita menerima bahwa jam resmi bisa semakin jauh dari rotasi Bumi, meski pelencengannya baru terasa ribuan tahun lagi.

Di sini ada ironi yang patut dicatat, karena krisis iklim turut mengubah perilaku rotasi Bumi melalui redistribusi massa es dan air. Kita bukan hanya menyesuaikan jam dengan planet, melainkan juga mengubah planet yang menjadi rujukan jam.

Ketika BIPM menyebut industri “belum siap” untuk negative leap second, itu juga cermin rapuhnya infrastruktur digital yang kita anggap kokoh. Detik adalah unit paling kecil yang sering diabaikan, tetapi justru di situlah sistem finansial, logistik, dan komunikasi bisa tersandung.

Namun mempertahankan leap second pun bukan tanpa biaya, karena setiap koreksi memaksa operator sistem menambal risiko yang berulang. Pilihan yang paling jujur mungkin adalah mengakui bahwa kita sedang memilih antara dua ketidaknyamanan, yakni gangguan teknis kini atau deviasi astronomis kelak.

Jika leap second dihapus, dunia akan memasuki era UTC yang semakin “kontinu” dan semakin jauh dari ritme rotasi Bumi. Greenwich tetap menjadi simbol sejarah, tetapi otoritas waktunya akan makin bersifat kultural, bukan teknis.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah manusia bisa hidup tanpa detik kabisat, karena sebagian besar memang tidak pernah menyadarinya. Pertanyaannya adalah apakah kita siap menerima waktu sebagai produk teknologi murni, ketika planet yang kita huni semakin sulit dijadikan patokan. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Oktober 2026)