Liam Gallagher Kecam Halftime Show Final Piala Dunia FIFA
ORBITINDONESIA.COM – Liam Gallagher menyebut halftime show final Piala Dunia FIFA sebagai “bad trip” di X, setelah menonton penampilan Madonna, Shakira, Justin Bieber, BTS, Burna Boy, hingga The Muppets. Komentar tajam ini langsung memantik perbincangan tentang kualitas hiburan jeda babak, selera publik, dan komersialisasi panggung sepak bola.
Dalam unggahannya, Gallagher menulis, “This is like a bad trip,” lalu menambahkan bahwa “spiritual socks” miliknya menyelamatkan ia dari hiburan yang “bisa mendorongnya melewati batas.” Terjemahan bebasnya, ia merasa pertunjukan itu seperti pengalaman buruk yang membuatnya hampir kehilangan kendali.
Halftime show dibuka Madonna dengan dua lagu, termasuk versi baru hit “Music” (2000) dan single terbaru “Danceteria” dari rilisan Confessions II. Ia digambarkan melaju menembus terowongan stadion dengan golf cart yang dikemudikan legenda Brasil, Ronaldo dan Ronaldinho.
BTS muncul singkat membawakan beberapa detik “Dynamite,” lalu Jason Sudeikis masuk ke lapangan sebagai Coach Ted Lasso bersama Coach Beard. Momen itu menjadi pengantar bagi Justin Bieber yang menyanyikan “Everything Hallelujah.”
Shakira dan Burna Boy juga tampil lewat lagu “Dai Dai,” sementara PS 22 Chorus dari Staten Island membawakan “We Dance” karya Coldplay. Chris Martin ikut bergabung, menegaskan format pertunjukan yang mengandalkan kolaborasi lintas bintang dan kejutan cameo.
Reaksi Gallagher menyorot masalah klasik halftime show: ketika daftar nama besar tidak otomatis menghasilkan pengalaman yang padu. Pertunjukan yang terlalu banyak potongan, cameo, dan pergantian cepat sering terasa seperti “montase promosi,” bukan narasi musikal.
Dalam artikel sumber, BTS hanya tampil “beberapa detik,” yang mengindikasikan strategi “teaser” ketimbang set utuh. Secara televisual, ini efektif menjaga perhatian, tetapi secara artistik berisiko membuat penonton merasa diberi cuplikan, bukan penampilan.
Penggunaan karakter populer seperti Ted Lasso memperlihatkan bagaimana sepak bola kini menjadi panggung lintas industri hiburan. Stadion tidak lagi sekadar arena olahraga, melainkan etalase IP, platform streaming, dan branding selebritas.
Gallagher juga datang dengan konteks emosional yang tidak netral, karena Inggris kalah di laga sebelumnya dan final mempertemukan Argentina melawan Spanyol. Artikel menyebut “Wonderwall” sempat menjadi semacam lagu kebangsaan tidak resmi Inggris menuju semifinal, dan Gallagher ikut mendorong gaungnya.
Di titik ini, kritik “bad trip” bisa dibaca sebagai reaksi estetika sekaligus kekecewaan psikologis penonton yang timnya tersingkir. Dalam situasi seperti itu, pertunjukan yang hiper-ramai justru terasa bising, karena penonton mencari katarsis, bukan parade bintang.
Menariknya, artikel juga menautkan momentum ini dengan kabar dokumenter Oasis berjudul Don’t Look Back in Anger yang rilis September, digarap Steven Knight dan disutradarai Dylan Southern serta Will Lovelace. Penyebutan itu mengingatkan bahwa komentar Gallagher selalu berada di persimpangan opini spontan dan ekonomi perhatian.
Halftime show Piala Dunia FIFA tampak bergerak ke arah “semua untuk semua orang,” tetapi akhirnya berisiko tidak benar-benar memuaskan siapa pun. Ketika Madonna, Bieber, BTS, Shakira, Burna Boy, paduan suara anak, Coldplay, sampai The Muppets dijejalkan dalam satu slot, yang lahir bukan klimaks, melainkan keramaian.
Kritik Gallagher terasa kasar, namun ia menyuarakan kegelisahan yang banyak penonton rasakan: sepak bola kehilangan kesederhanaannya sebagai drama lapangan. Hiburan jeda babak seharusnya memperkuat emosi pertandingan, bukan memutusnya dengan katalog pop culture.
Di sisi lain, FIFA dan penyelenggara punya logika bisnis yang sulit dibantah, karena final adalah siaran global dengan nilai iklan raksasa. Namun justru karena panggungnya raksasa, standar kurasi harus lebih ketat, bukan sekadar memaksimalkan jumlah nama.
Ucapan “bad trip” dari Liam Gallagher adalah alarm kecil tentang arah hiburan olahraga yang makin menyerupai pusat perbelanjaan budaya pop. Piala Dunia FIFA tidak kekurangan bintang, tetapi ia membutuhkan ritme, fokus, dan rasa yang selaras dengan tensi pertandingan.
Pertanyaannya, apakah kita ingin final sepak bola menjadi panggung musik yang kebetulan diselingi laga, atau laga yang kebetulan diselingi musik. Jika jawabannya yang kedua, maka kurasi halftime show harus kembali menghormati emosi penonton, bukan hanya mengejar sensasi. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Juli 2026)