Tarantino Bocorkan Film Cliff Booth, Fincher Sutradara 2027
ORBITINDONESIA.COM – Quentin Tarantino membuat kejutan di AFI Fest Los Angeles dengan menayangkan 17 menit pertama The Further Mis-Adventures of Cliff Booth, proyek lanjutan semesta Once Upon a Time in Hollywood. Naskah ditulis Tarantino, David Fincher menyutradarai, dan Brad Pitt kembali sebagai Cliff Booth dalam kisah yang berlatar 1977.
Terjemahan akurat artikel sumber: Tarantino hadir di AFI Fest untuk pemutaran Once Upon a Time in Hollywood dan sesi tanya jawab setelahnya. Saat acara nyaris selesai, ia mengejutkan penonton di TCL Chinese Theater dengan cuplikan pertama film susulan, menampilkan 17 menit awal.
Terjemahan akurat artikel sumber: Tarantino menulis skenario Cliff Booth, sementara David Fincher mengambil alih kursi sutradara kali ini. Proyek baru ini membuat Brad Pitt mengulang peran pemenang Oscar sebagai pemeran pengganti Cliff Booth, dan berlatar tahun 1977, delapan tahun setelah peristiwa film sebelumnya.
Terjemahan akurat artikel sumber: Sebelum memutar cuplikan, Tarantino menjelaskan alasan kembali ke karakter itu. Ia mengingat sebuah komentar tentang Once Upon a Time in Hollywood yang menyebut itu “dunia pertama Tarantino yang ingin ia tinggali,” dan ia mengaku menyukai karakter Booth serta cara Pitt memerankannya.
Terjemahan akurat artikel sumber: Tarantino membayangkan Booth sebagai “pahlawan novel paperback,” seolah bisa ada seri petualangan yang terus berlanjut. Ia mengatakan seiring waktu ia ingin menempatkan Booth pada “petualangan yang berbeda” dan melihat apa yang terjadi.
Terjemahan akurat artikel sumber: Cuplikan memperlihatkan Booth bekerja sebagai operator proyektor bioskop, sambil menangani urusan sampingan yang lebih “tidak sedap.” Tarantino juga menyebut dirinya sangat tenggelam dalam mitologi dunia film itu, termasuk karena ia menulis novel Once Upon a Time.
Terjemahan akurat artikel sumber: Dalam percakapan itu Tarantino mengaku jika ia menonton ulang filmnya sendiri, yang ia pilih adalah Once Upon a Time in Hollywood. Ia menyukai film itu karena terasa seperti “tidak benar-benar punya cerita,” dan penonton hanya “nongkrong” bersama para karakter.
Terjemahan akurat artikel sumber: Menjelang latihan untuk drama panggung terbarunya, Tarantino menjelaskan ia kini menempatkan diri sebagai penulis terlebih dahulu. Ia menyebut semakin tua, menjadi “man of letters” lebih cocok baginya, yakni menulis skenario, buku, dan naskah drama, “apa pun kecuali puisi.”
Kabar “Tarantino menulis, Fincher menyutradarai” adalah kombinasi yang jarang, dan karena itu langsung memicu rasa ingin tahu publik. Ini bukan sekadar sekuel, melainkan reposisi kuasa kreatif yang biasanya Tarantino pegang penuh.
Keputusan memutar 17 menit pertama di ruang festival adalah strategi yang cerdas sekaligus berisiko. Ia memberi bukti konkret bahwa proyek ini nyata, namun juga mengundang penilaian dini sebelum mesin promosi resmi berjalan.
Latar 1977 juga bukan pilihan netral. Tahun itu menandai perubahan besar budaya film Amerika, saat New Hollywood matang dan industri mulai bergeser ke era blockbuster pasca-1975.
Cliff Booth sebagai operator proyektor menempatkan karakter di jantung “ekosistem bioskop” yang kini terancam oleh platform digital. Tarantino seperti mengunci nostalgia sinema analog ke dalam profesi yang secara simbolik menjaga cahaya proyektor tetap menyala.
Yang menarik, Tarantino sendiri menggarisbawahi bahwa ia menyukai Once Upon a Time in Hollywood karena terasa tidak terlalu “bercerita.” Pernyataan ini sejalan dengan tren film yang mengutamakan atmosfer, ritme, dan karakter, bukan plot yang ketat.
Dalam konteks industri, itu adalah taruhan yang menantang algoritme selera penonton arus utama. Banyak studio kini menuntut narasi yang cepat, jelas, dan mudah dipasarkan, sementara Tarantino justru merayakan “hanging out movie.”
Fakta bahwa Brad Pitt kembali penting untuk daya tarik komersial. Pitt memenangkan Oscar Aktor Pendukung Terbaik untuk peran Cliff Booth di Academy Awards 2020, yang membuat karakter ini sudah memiliki “cap prestise” di mata publik.
Namun yang lebih besar adalah pertanyaan tentang identitas karya. Ketika Fincher menyutradarai, film ini berpotensi menjadi pertemuan dua disiplin gaya: dialog dan mitologi Tarantino, bertemu presisi atmosfer Fincher.
Tarantino juga mengaku menulis novel Once Upon a Time, yang menunjukkan perluasan semesta ke lintas medium. Ini mengingatkan pada praktik “world-building” modern, tetapi dengan kontrol penulis tunggal yang biasanya lebih ketat daripada waralaba studio.
Di balik kejutan festival, ada pengakuan halus bahwa Tarantino sedang mengubah cara ia hadir di dunia film. Ia tidak lagi harus menjadi sutradara untuk menjadi pusat semesta kreatifnya.
Pernyataan “menjadi man of letters” terdengar seperti evolusi, tetapi juga seperti batas yang sengaja ia pasang untuk dirinya. Tarantino seakan memilih umur panjang melalui teks, bukan melalui set syuting yang melelahkan dan penuh kompromi.
Menariknya, alasan ia kembali ke Cliff Booth bukan karena kebutuhan plot, melainkan karena kebutuhan “dunia.” Ia ingin hidup di dunia itu, dan ia ingin kita ikut tinggal sebentar di sana.
Di titik ini, Cliff Booth berubah dari tokoh pendukung menjadi kendaraan untuk membahas satu hal yang Tarantino cintai: mitologi Hollywood. Booth bukan pahlawan moral, melainkan “pahlawan paperback,” tokoh yang bisa bergerak dari satu misadventure ke misadventure lain.
Di era ketika banyak spin-off terasa seperti pabrik konten, proyek ini punya peluang menjadi pengecualian. Tarantino tidak menjual “lanjutan cerita,” melainkan menjual “kelanjutan suasana,” dan itu jauh lebih jujur.
Namun justru di situ risikonya. Jika penonton datang mengharapkan ledakan plot, mereka bisa kecewa, tetapi jika mereka datang untuk merasakan dunia 1977 yang hidup dan ganjil, film ini bisa menjadi peristiwa budaya.
Cuplikan 17 menit The Further Mis-Adventures of Cliff Booth menegaskan bahwa Tarantino belum selesai dengan mitologi Hollywood yang ia bangun. Bedanya, kali ini ia memilih menjadi arsitek naskah, sementara Fincher menjadi mandor visualnya.
Pertanyaan kuncinya sederhana, tetapi menggigit: apakah kita masih punya kesabaran untuk film yang mengajak “nongkrong,” bukan sekadar mengejar twist? Jika jawabannya ya, Cliff Booth mungkin bukan hanya kembali, tetapi juga membuka cara baru menikmati sinema. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)