Perencana Keuangan ADHD: Strategi Finansial Tanpa Stigma
ORBITINDONESIA.COM – Perencana keuangan ADHD menjadi kata kunci baru ketika Jodie Stauffer membangun Parallax Planning & Wealth di akhir 2019. Ia menantang nasihat finansial konvensional yang sering gagal untuk orang dengan ADHD, terutama saat pandemi memperparah belanja impulsif dan stres.
Stauffer memulai dari pengalaman personal: ia bekerja di dunia finansial bertahun-tahun sebelum didiagnosis ADHD sekitar 18 tahun lalu. Diagnosis itu datang saat ia mencari jawaban untuk anaknya, lalu psikiater melihat pola serupa pada dirinya.
Ia menyebut stigma di tempat kerja membuat banyak orang menyembunyikan kondisi ini. Ia mengaku melihat karier di sektor finansial bisa mandek setelah seseorang meminta akomodasi, meski sebelumnya kinerjanya baik.
Di level klien, masalahnya sering tampak sepele tetapi melumpuhkan. Membuka surat tagihan saja bisa terasa menakutkan, dan pesan tak terduga dapat memicu kecemasan yang berujung pada penghindaran.
ADHD pada orang dewasa bukan isu kecil, karena diperkirakan memengaruhi 4%–6% populasi dewasa di Kanada atau sekitar 1,8 juta orang, menurut Canadian ADHD Resource Alliance. Angka ini menunjukkan pasar kebutuhan dukungan finansial yang besar, tetapi belum banyak dilayani secara spesifik.
Pandemi menjadi akselerator yang memperlihatkan rapuhnya kebiasaan uang pada kelompok rentan. Stauffer mengatakan lockdown memperburuk belanja impulsif dan membuat kebiasaan finansial runtuh di bawah tekanan.
Di titik ini, problemnya bukan sekadar kurang pengetahuan, melainkan mismatch antara metode dan cara kerja otak. Nasihat “buat anggaran rinci dan disiplin” sering tidak menembus hambatan eksekutif seperti kesulitan memulai, mempertahankan fokus, dan menuntaskan tugas.
Stauffer menawarkan format yang lebih ramah: sesi singkat, langkah kecil yang bisa dieksekusi, serta alat visual seperti warna dan tata letak sederhana. Ia menolak pertemuan penuh formulir dan spreadsheet panjang, karena itu justru memicu kewalahan.
Sheila Walkington dari Money Coaches Canada menegaskan pendekatan ini cocok karena banyak klien, bahkan tanpa diagnosis, mengalami kecemasan terkait uang. Ia menilai “quick tips, reassurance, dan clarity on cash flow” lebih efektif daripada penjelasan panjang.
Model fee-for-service dan advice-only juga menjadi faktor penting. Ketika penasihat tidak diburu target menjual produk, ruang untuk pendampingan bertahap menjadi lebih realistis bagi klien yang butuh ritme pelan namun konsisten.
Namun, ada celah besar pada akses. Stauffer mengakui keterjangkauan biaya menjadi penghalang, sehingga dukungan berkualitas sering hanya tersedia bagi mereka yang mampu membayar.
Kisah Stauffer memaksa kita mengubah cara memandang literasi finansial. Selama ini, kegagalan mengatur uang kerap dibaca sebagai kurang disiplin, padahal bisa jadi itu gejala desain nasihat yang tidak inklusif.
Ada paradoks yang tajam di sini: banyak kliennya dokter, pengacara, pengusaha, bahkan pensiunan yang sukses. Prestasi tinggi tidak otomatis berarti sistem pengelolaan uang berjalan, karena ADHD dapat memutus rantai kecil yang menentukan konsistensi.
Ketika seseorang menghindari surat, menunda tagihan, atau “lupa” memeriksa saldo, masalahnya cepat berubah menjadi biaya nyata. Denda, bunga, dan keputusan impulsif adalah pajak tak terlihat dari sistem yang tidak ramah neurodiversitas.
Di sisi lain, pendekatan yang terlalu “terapi” juga berisiko jika mengaburkan kebutuhan akurasi angka. Walkington menekankan kejelasan arus kas agar rencana pensiun dan strategi jangka panjang tetap berbasis data, bukan sekadar rasa nyaman.
Karena itu, spesialisasi seperti ini seharusnya tidak diperlakukan sebagai niche lucu, melainkan inovasi layanan publik. Jika 4%–6% orang dewasa terdampak, maka standar layanan finansial yang inklusif semestinya menjadi arus utama.
Yang paling penting, narasi “kamu rusak” harus diganti dengan “metodenya yang perlu diubah.” Stauffer menyebut inti pekerjaannya adalah membuat orang merasa ada jalan maju yang selaras dengan cara kerja otaknya.
Perencana keuangan ADHD seperti Stauffer menunjukkan bahwa uang adalah soal perspektif, bukan hanya matematika. Ketika metode disesuaikan, orang yang sebelumnya terjebak rasa malu bisa mulai bergerak dengan langkah kecil yang nyata.
Tantangannya kini adalah memperluas akses, agar dukungan tidak berhenti pada mereka yang mampu membayar pendampingan privat. Jika sistem finansial ingin adil, ia harus mengakui neurodiversitas sebagai fakta sosial, bukan catatan kaki.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana tetapi menggigit: berapa banyak “kegagalan finansial” yang sebenarnya hanyalah kegagalan desain layanan? Dan jika jawabannya besar, siapa yang berani mengubah standar agar lebih manusiawi?
(Orbit dari berbagai sumber, 24 Juli 2026)