Penerus Messi: Franco Paz dan Pilihan Argentina di Piala Dunia
ORBITINDONESIA.COM – Franco Paz, nama yang mulai dicari publik sebagai “penerus Messi”, akhirnya benar-benar menjejak panggung Piala Dunia bersama Argentina. Ia masuk lapangan menggantikan Lionel Messi, pada momen yang terasa seperti serah-terima simbolik generasi.
Penampilan Paz membawanya ke Amerika Serikat untuk putaran final Piala Dunia bersama tim nasional Argentina. Di skuad Albiceleste, ia disebut sebagai penerus sah Messi, dan pujian itu datang langsung dari sang ikon.
“Dia memiliki banyak kualitas, pikiran yang jernih, dan mampu membaca permainan dengan sempurna,” kata Messi. “Saya berharap dia terus berkembang dan melanjutkan perjalanan ini.”
Pelatih Lionel Scaloni juga menegaskan Paz punya “masa depan yang cemerlang” dan memberinya debut di Piala Dunia. Pada laga grup pertama, ia masuk 15 menit sebelum akhir, menggantikan Messi yang mencetak tiga gol.
Debut itu juga mengikat narasi keluarga, karena Paz mengikuti jejak ayahnya, Pablo, yang tampil di Piala Dunia 1998. Dalam sepak bola Argentina, garis keturunan sering menjadi bumbu, tetapi jarang menjadi jaminan.
Yang membuat kisah ini lebih kompleks adalah asal-usulnya. Paz lahir di Tenerife pada 2004, dibesarkan di Spanyol, dan memegang kewarganegaraan ganda.
Secara administratif, ia bisa memilih jalan berbeda, termasuk membela Spanyol. Namun ia menegaskan ikatan emosionalnya pada tanah ayahnya: “Itu adalah negara yang paling mewakili diriku,” katanya.
Label “penerus Messi” biasanya lebih banyak membebani daripada membantu, karena publik menuntut replikasi keajaiban yang tak bisa disalin. Argentina pernah mengalami siklus ini, dari “New Maradona” hingga “Messi berikutnya”, yang sering berakhir sebagai karier yang patah oleh ekspektasi.
Kasus Paz menarik karena ia tidak datang dari mitologi yang sepenuhnya sama. Ia lahir di luar Argentina, tumbuh dalam kultur sepak bola Spanyol, tetapi memilih identitas Albiceleste sebagai kompas emosional.
Ia memulai karier junior sebagai bek tengah, sebuah detail yang menandai fleksibilitas dan pendidikan taktis. Perjalanan dari lini belakang ke peran yang lebih kreatif sering melahirkan pemain dengan “membaca permainan” yang kuat, tepat seperti pujian Messi.
Debut resminya terjadi pada Oktober 2024 dalam kualifikasi Piala Dunia, sebelum ia akhirnya mencicipi panggung final. Ini menunjukkan jalur promosi yang relatif cepat, tetapi juga terukur, karena ia sempat merasakan atmosfer tim senior sejak remaja.
Paz mengaku pernah bertemu Messi saat berusia 17 tahun, ketika ia berlatih bersama tim nasional senior sebagai bagian dari tim U-20. Ia berkata kepada DAZN bahwa ia begitu “gugup” hingga tidak berani menyapa Messi, karena “terlalu malu.”
Di level tim nasional, keputusan Scaloni memberi menit bermain saat Messi sedang “on fire” dengan tiga gol bukan sekadar hadiah. Itu adalah sinyal bahwa Argentina mulai menyiapkan transisi, tanpa harus mengumumkan pensiun Messi sebagai drama nasional.
Secara taktis, menit-menit akhir laga grup sering menjadi laboratorium untuk menguji pemain muda dalam tekanan yang tetap nyata. Jika Paz bisa menjaga ketenangan dan membaca ruang pada fase seperti itu, ia berpeluang menjadi bagian dari struktur, bukan sekadar cameo.
Namun narasi publik cenderung menyederhanakan: seolah Paz harus menjadi Messi versi baru. Padahal, sepak bola modern lebih membutuhkan ekosistem pemain yang saling mengunci peran, bukan satu jenius yang memikul seluruh beban sejarah.
Argentina tampaknya belajar bahwa regenerasi tidak boleh menjadi ajang “mencari Messi baru”, melainkan membangun Argentina baru. Pujian Messi dan dukungan Scaloni memang mengangkat Paz, tetapi juga menguji kedewasaan federasi dan media dalam mengelola harapan.
Paz sendiri berada di persimpangan identitas yang sering dialami pemain diaspora. Ketika ia berkata Argentina adalah negara yang paling mewakili dirinya, itu bukan sekadar pilihan seragam, melainkan pilihan narasi hidup.
Di era kewarganegaraan ganda, perebutan talenta adalah kompetisi diam-diam antarnegara. Jika Argentina bisa merangkul Paz tanpa memaksanya menjadi replika Messi, mereka mendapatkan lebih dari sekadar pemain, yaitu simbol kontinuitas yang sehat.
Yang perlu diwaspadai adalah romantisasi berlebihan atas “jejak ayah” dan “pengganti Messi.” Sepak bola sering menghukum mereka yang dibentuk oleh slogan, bukan oleh proses.
Kisah Franco Paz memperlihatkan bahwa Piala Dunia bukan hanya panggung gol, tetapi juga panggung keputusan identitas dan manajemen ekspektasi. Ia masuk menggantikan Messi pada malam yang gemerlap, namun masa depannya ditentukan oleh konsistensi pada hari-hari biasa.
Jika Argentina ingin benar-benar melampaui era Messi, mereka harus membiarkan pemain muda tumbuh sebagai dirinya sendiri. Pertanyaannya, mampukah publik dan media menahan diri untuk tidak menuntut keajaiban yang sama, dan mulai menghargai kehebatan yang berbeda?
(Orbit dari berbagai sumber, 4 Juli 2026)