Serangan Udara Israel Gaza Tewaskan Pekerja Bantuan Palestina

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Serangan udara Israel di Gaza menewaskan Mohammed al-Waheidi, 65, pekerja bantuan Palestina yang disebut keluarganya berperan penting dalam penyaluran bantuan kemanusiaan. Militer Israel menyatakan serangan itu menargetkan seorang militan Hamas, namun mengaku mengetahui klaim bahwa warga sipil yang tidak terlibat ikut terdampak.

Menurut keluarga dan kolega, Mohammed al-Waheidi adalah anggota Komite Mesir di Gaza, sebuah kelompok bantuan yang membantu pengiriman bantuan dan juga memediasi sengketa antar keluarga. Dalam beberapa pekan terakhir, kelompok ini bahkan mengorganisasi acara nonton bareng Piala Dunia di berbagai titik Gaza.

Dalam serangan yang sama, tiga orang lain ikut tewas, termasuk dua anak, kata Zaher al-Waheidi, sepupu korban dan ahli statistik di Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas. Ia mengidentifikasi korban lain sebagai Hamza al-Deri (9), Fadi al-Deri (8), dan Ahmed Doghmosh (30).

Militer Israel menyebut serangan pada Selasa di Gaza utara itu menargetkan seorang militan Hamas, tanpa menyebut nama atau memastikan status kematiannya. Israel juga menyatakan “menyesalkan setiap dampak” terhadap warga sipil yang tidak terlibat.

Kematian seorang pekerja bantuan menyorot satu paradoks besar perang Gaza: jalur kemanusiaan berjalan di ruang yang sama dengan operasi militer. Ketika satu serangan mengklaim target militan, tetapi menghasilkan korban sipil, kepercayaan publik terhadap narasi “serangan presisi” ikut terkikis.

Mohammed Doghmosh, kerabat Ahmed, mengatakan mereka sedang makan di sebuah toko dekat lokasi ketika serangan terjadi. Ia menyebut Ahmed tewas setelah serpihan peluru menghantam bagian tubuhnya.

Israel tetap melakukan serangan udara berkala di Gaza meski telah menandatangani kesepakatan gencatan senjata yang didukung AS dengan Hamas pada Oktober lalu. Pejabat Israel mengatakan operasi itu memburu militan Hamas yang terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023 yang memicu perang Gaza.

Israel menyatakan 1.200 orang tewas dalam serangan 7 Oktober dan sekitar 250 orang disandera ke Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan lebih dari 73.000 warga Palestina di Gaza tewas selama perang, dan data itu tidak membedakan kombatan dan warga sipil.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 1.000 orang telah tewas sejak gencatan senjata Oktober, termasuk anak-anak. Wawancara dengan pejabat medis dan catatan rumah sakit, sebagaimana disebut dalam artikel sumber, menunjukkan korban sipil juga terus berjatuhan selama sembilan bulan terakhir.

Dari sisi kemanusiaan, hilangnya figur seperti al-Waheidi bukan sekadar statistik. Ia adalah penghubung lapangan yang memastikan bantuan bisa masuk dengan aman melalui koordinasi dengan pemimpin lokal, kata Mohammed Mansour, juru bicara Komite Mesir.

Di wilayah yang hancur oleh dua tahun perang, koordinasi semacam itu adalah infrastruktur tak terlihat yang menopang hidup. Ketika orang yang mengelola “keamanan sosial” penyaluran bantuan tewas, dampaknya bisa merembet pada keterlambatan distribusi, meningkatnya ketegangan lokal, dan memburuknya rasa aman pengungsi.

Kisah ini memperlihatkan bagaimana perang modern sering memindahkan garis depan ke ruang paling sehari-hari: jalan menuju rumah teman untuk menonton pertandingan. Putra korban, Fawaz al-Waheidi (22), mengatakan ayahnya sedang berada di mobil menuju rumah teman untuk menonton laga Argentina-Mesir ketika serangan terjadi.

Fawaz bercerita ia menerima kabar ada korban dengan nama keluarga yang sama, lalu panik menelepon ayahnya. Telepon dijawab orang asing yang hanya mengatakan ada seseorang terluka, sebelum Fawaz berlari ke rumah sakit dan mengenali jasad ayahnya yang berlumuran darah.

“Saya benar-benar terpukul,” kata Fawaz. “Dia orang yang sangat baik.” Kesaksian ini penting karena mengembalikan perang ke skala manusia, bukan sekadar pernyataan militer dan angka korban.

Fawaz juga mengatakan ayahnya mendukung perdamaian dan menolak kekerasan. Ia pernah bekerja di Israel bertahun-tahun lalu dan menjadi guru untuk Otoritas Palestina, pemerintah yang didukung Barat dan disingkirkan Hamas dari Gaza pada 2007.

Dalam konflik yang dipenuhi propaganda, identitas korban sering diperebutkan untuk membenarkan tindakan berikutnya. Namun Fawaz menolak logika itu dan meminta kematian ayahnya tidak dipakai untuk memicu kekerasan baru.

Di titik ini, pernyataan “menyesal” dari pihak militer tak cukup menjawab pertanyaan publik tentang akuntabilitas. Jika klaim target militan benar, maka transparansi tentang siapa yang ditargetkan, bagaimana verifikasi dilakukan, dan bagaimana mitigasi risiko sipil diterapkan menjadi krusial untuk mencegah pola berulang.

Serangan udara Israel di Gaza yang menewaskan pekerja bantuan Palestina seperti Mohammed al-Waheidi menegaskan bahwa jalur kemanusiaan tetap rapuh bahkan saat ada gencatan senjata. Di tengah angka korban yang terus bertambah, satu kematian bisa berarti runtuhnya satu simpul kepercayaan yang menjaga bantuan tetap bergerak.

“Yang kami butuhkan adalah perdamaian,” kata Fawaz, seraya menutup dengan doa bagi ayahnya. Pertanyaannya, berapa banyak lagi kisah serupa yang harus terjadi sebelum perlindungan warga sipil dan pekerja kemanusiaan menjadi prioritas yang benar-benar terukur, bukan sekadar kalimat penyesalan. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)