Penguatan SDM Pelindo Sinergi Lokaseva Dorong Transformasi Logistik

islnewstv.com

islnewstv.com

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Penguatan SDM Pelindo Sinergi Lokaseva menjadi kunci yang dikedepankan PT Pelindo Sinergi Lokaseva (SPSL) untuk mengamankan transformasi bisnis di sektor maritim dan logistik. Di tengah target besar RPJMN 2025–2029 menuju Indonesia Emas 2045, SPSL menautkan program talent development, budaya adaptif, dan integritas sebagai satu paket strategi.

Industri maritim dan logistik Indonesia bergerak dalam tekanan ganda: tuntutan efisiensi rantai pasok dan ekspektasi tata kelola yang bersih. Dalam situasi seperti ini, perusahaan tidak cukup hanya membeli teknologi, karena yang menentukan adalah orang yang mengoperasikan dan memutuskan.

RPJMN 2025–2029 menempatkan penguatan kualitas sumber daya manusia sebagai prioritas strategis pembangunan. SPSL memosisikan kebijakan internalnya sejalan dengan arah itu, sekaligus menjadikannya pembenaran publik atas agenda transformasi.

Pertanyaannya, seberapa jauh program penguatan SDM mampu menjawab masalah struktural di logistik nasional, dari biaya tinggi hingga praktik rente. Di titik ini, narasi pengembangan manusia harus diuji dengan indikator, bukan hanya kalender pelatihan.

Pada kuartal I 2026, SPSL melakukan asesmen kompetensi internal untuk pekerja level BoD-4 (Pratama A/B) dan BoD-5 (Executor) di lingkungan Pelindo Group. Asesmen ini penting karena banyak kegagalan transformasi justru terjadi pada lapisan eksekusi, ketika kebijakan pusat tidak diterjemahkan menjadi perilaku kerja.

Perusahaan juga menyusun kalender learning and development 2026 untuk memastikan pengembangan kompetensi lebih terarah dan berkelanjutan. Langkah ini terdengar administratif, tetapi ia bisa menjadi alat disiplin organisasi jika diikat pada kebutuhan bisnis dan evaluasi kinerja.

Pelatihan dan sertifikasi Qualified Internal Auditor (QIA) Basic Level pada awal Maret 2026 memberi sinyal bahwa SPSL ingin memperkuat fungsi pengendalian. Dalam praktiknya, auditor internal yang kompeten dapat mempercepat deteksi risiko, dari kebocoran proses hingga ketidakpatuhan yang berbiaya besar.

Direktur Keuangan, SDM, dan Manajemen Risiko SPSL, Herman Susilo, menegaskan arah itu dengan kalimat yang tegas. Ia menyatakan, “Business transformation can only be optimal if supported by superior, adaptive human resources with a passion for continuous development.”

Namun, kompetensi teknis saja tidak otomatis menciptakan organisasi yang cepat dan lincah. SPSL menambahkan penguatan budaya adaptif melalui Sharing Sessions dan program Change Catalyst 2026 lewat Culture Management System (CMS).

Di banyak perusahaan, program budaya sering berakhir sebagai slogan yang tidak mengubah cara kerja. Karena itu, ukuran keberhasilan seharusnya konkret, misalnya kecepatan pengambilan keputusan, kolaborasi lintas unit, dan penurunan rework akibat miskomunikasi.

Bagian yang paling politis sekaligus paling menentukan adalah integritas. SPSL menyelesaikan penandatanganan Pakta Integritas 2026 oleh seluruh karyawan untuk mencegah fraud dan konflik kepentingan.

Langkah tersebut diperkuat dengan implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) SNI ISO 37001:2016 dan pembentukan Fungsi Kepatuhan Anti Penyuapan (FKAP). Kebijakan “No Bribery, No Kickback, No Gift, and No Luxurious Hospitality” juga disosialisasikan ke karyawan, anak usaha, dan afiliasi.

Audit berkala dengan melibatkan lembaga sertifikasi independen bertaraf internasional menjadi elemen verifikasi. Tetapi audit hanya efektif jika temuan ditindaklanjuti dan sanksi konsisten, karena budaya integritas runtuh ketika pelanggaran dibiarkan tanpa konsekuensi.

Penguatan SDM Pelindo Sinergi Lokaseva patut dibaca sebagai strategi bertahan sekaligus strategi reputasi. Di industri logistik, kepercayaan adalah mata uang, dan integritas sering menjadi pembeda antara efisiensi sistemik dan biaya siluman.

Meski demikian, publik berhak menuntut lebih dari sekadar daftar program. Transparansi indikator akan membuat upaya ini kredibel, misalnya berapa persen pekerja lulus asesmen, berapa temuan audit yang ditutup, dan bagaimana tren pelanggaran etik dari tahun ke tahun.

Kalau SPSL serius menjadikan SDM sebagai fondasi transformasi, maka SDM harus diperlakukan sebagai investasi yang terukur. Tanpa metrik, pelatihan bisa berubah menjadi rutinitas, dan pakta integritas bisa menjadi formalitas.

Herman Susilo juga menutup narasi perusahaan dengan pesan yang mengunci dua kata kunci: talenta dan integritas. Ia menyatakan, “We want to build a work ecosystem that is not only performance-oriented but also upholds professionalism, transparency, and good corporate governance.”

Transformasi logistik nasional pada akhirnya bukan hanya soal pelabuhan, aplikasi, atau prosedur, melainkan soal manusia yang memegang kendali. Program asesmen, kalender pembelajaran, sertifikasi auditor, budaya adaptif, dan SMAP ISO 37001 memberi SPSL perangkat yang relatif lengkap untuk bergerak.

Tetapi perangkat hanya akan bermakna bila menghasilkan perubahan yang bisa dirasakan: proses lebih cepat, biaya lebih terkendali, dan ruang gelap korupsi makin sempit. Di titik itu, pertanyaan reflektifnya sederhana namun tajam: apakah penguatan SDM ini akan menjadi mesin perubahan, atau sekadar etalase kepatuhan yang rapi di atas kertas? (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)