Corporate Volunteering Telus: Strategi Engagement Karyawan dan Budaya Kerja

Benefits Canada.com

Benefits Canada.com

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Corporate volunteering kembali naik kelas: Telus menargetkan lebih dari 100.000 relawan di 35 negara tahun ini, dari sekitar 90.000 relawan di 34 negara tahun lalu. Di tengah isu burnout, retensi, dan employee disengagement, program relawan karyawan kini dipasarkan sebagai jawaban atas krisis makna di tempat kerja. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Perusahaan semakin sadar bahwa gaji saja tidak cukup untuk menahan orang tetap tinggal. Patrick Barron, vice-president corporate citizenship and sustainability Telus, menegaskan orang ingin bekerja dengan perusahaan yang sejalan dengan nilai mereka. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Karena itu, corporate volunteering dijahit menjadi bagian dari strategi employee experience dan budaya kerja. Telus menjalankan inisiatif ini selama dua dekade lebih, dan pada 2026 memasuki tahun ke-21. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Namun, meningkatnya popularitas program relawan juga memunculkan pertanyaan: apakah ini murni kepedulian, atau alat manajemen untuk merawat loyalitas? Ketika keterlibatan karyawan turun di banyak tempat, “tujuan sosial” bisa berubah menjadi komoditas yang dijual ulang sebagai citra. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Telus menyebut fleksibilitas sebagai kunci, dengan pilihan relawan luring dan virtual. Ada dukungan untuk lansia, pemetaan respons bencana, hingga layanan bagi penyandang disabilitas penglihatan. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Desain ini penting karena tenaga kerja modern tidak homogen. Pekerja frontline dan shift worker sering tersisih dari program kantor yang serba jam kerja normal, sehingga opsi virtual menjadi jalan masuk yang lebih setara. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Di sisi metrik, Telus melaporkan employee engagement score 85% tahun lalu. Perusahaan juga mencatat lebih dari satu juta jam relawan per tahun selama sembilan tahun berturut-turut, bahkan melampaui 1,5 juta jam dalam tiga tahun terakhir. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Angka-angka ini memberi sinyal bahwa program tidak sekadar seremonial. Sejak 2000, Telus menyebut kontribusi karyawan mencapai 2,5 juta hari relawan dan dukungan amal senilai US$1,85 miliar melalui berbagai inisiatif. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Unsur lain yang sering menentukan keberlanjutan adalah keterlibatan pimpinan. Barron mengatakan eksekutif dan manajer melacak tingkat partisipasi tim tiap tahun, bahkan ada unit bisnis yang mendekati partisipasi total. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Di titik ini, corporate volunteering berubah dari “kegiatan tambahan” menjadi norma internal. Ketika partisipasi dilihat, dicatat, dan dibandingkan, program dapat menjadi pengungkit budaya, sekaligus alat kontrol sosial yang halus. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Corporate volunteering memang bisa memperkuat ikatan sosial di kantor, terutama saat kerja hibrida membuat relasi antarkaryawan makin transaksional. Barron menyebut relawan membantu rasa terhubung dan sense of purpose ketika banyak pekerja mencari makna lebih dari sekadar kompensasi. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Namun, di sinilah garis tipisnya: tujuan sosial mudah berubah menjadi KPI yang membebani. Jika “normalisasi relawan” bergeser menjadi ekspektasi tersirat, karyawan bisa merasa wajib tampil baik, bukan benar-benar peduli. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Risiko lainnya adalah program menjadi etalase ESG yang rapi di laporan tahunan, tetapi tidak menyentuh akar masalah kesejahteraan kerja. Volunteering tidak boleh menjadi plester untuk beban kerja berlebih, kurangnya otonomi, atau sistem penilaian yang menggerus kesehatan mental. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Karena itu, ukuran keberhasilan tidak cukup hanya jam relawan atau jumlah peserta. Ukuran yang lebih jujur adalah apakah karyawan merasa aman untuk tidak ikut, apakah komunitas mendapat manfaat yang nyata, dan apakah perusahaan memperbaiki kondisi kerja yang memicu burnout. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Telus menunjukkan bahwa corporate volunteering bisa menjadi mesin engagement karyawan sekaligus penguat budaya kerja, jika aksesnya fleksibel, kemitraannya berkelanjutan, dan pimpinan ikut turun tangan. Tetapi program paling “ramai” belum tentu paling “bermakna” bila partisipasi berubah menjadi tekanan sosial terselubung. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)

Pada akhirnya, pertanyaan kuncinya sederhana: apakah relawan karyawan ini memperluas daya pulih komunitas, atau hanya mempercantik narasi perusahaan. Jika perusahaan ingin menormalisasi volunteering, mereka juga harus menormalisasi pilihan, batas sehat, dan perbaikan kerja yang membuat kebaikan tidak terasa sebagai kewajiban. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)