Live Action Moana 2026 Dikritik Datar, Dwayne Johnson Disorot
ORBITINDONESIA.COM – Live action Moana 2026 resmi tayang Jumat, tetapi ulasan awal banyak menyebut film ini “datar”, “membosankan”, hingga “suram”. Remake Disney ini kembali mengandalkan Dwayne Johnson sebagai Maui, namun debut pemeran Moana, Catherine Laga’aia, ikut terseret dalam perdebatan kualitas adaptasi.
(Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)Disney sekali lagi mengubah salah satu hit animasi terbesarnya menjadi format live-action, kali ini mengambil Moana (2016) sebagai bahan utama. Pola “remake live-action” sudah menjadi strategi industri, tetapi juga memicu kelelahan penonton yang menuntut alasan kuat selain nostalgia.
Dalam versi terbaru ini, Dwayne Johnson mengulang perannya sebagai demigod Maui, sementara Moana diperankan Catherine Laga’aia, pendatang baru berusia 19 tahun berdarah Australia-Samoa. Secara premis, film tetap berangkat dari kisah putri kepala suku Polinesia yang berlayar melawan takdir, namun eksekusinya dipersoalkan.
(Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)Mayoritas kritik menilai live action Moana kehilangan energi yang membuat versi animasinya hidup, dengan label “flat”, “dull”, dan “dismal” berulang di berbagai ulasan. Kata-kata itu bukan sekadar pedas, melainkan sinyal bahwa film dinilai gagal menciptakan pengalaman sinematik baru yang setara dengan sumbernya.
Variety melalui Owen Gleiberman menjadi salah satu suara yang lebih positif, menyebut film ini “escapes the remake blues” dan bahkan “soars above them”. Ia menilai film “benar-benar menghadirkan Moana—keindahan, kepribadian komedi, pesona dongeng”, serta menyebut kecocokan Johnson “sempurna”.
Namun The Guardian lewat Peter Bradshaw mengambil posisi berseberangan, memberi dua bintang dan menyebutnya “kompeten tetapi sia-sia dan tidak menarik”, sebuah “back-to-basics” yang tidak punya urgensi. Ia bahkan menilai Johnson tampil “di autopilot, seperti perangkat lunak”, kritik yang tajam karena menyasar jantung daya tarik bintang filmnya.
Bradshaw juga menyorot CGI yang “terlalu tertanam” sampai terasa seperti “animasi lain”, paradoks bagi proyek yang menjual label live-action. Ketika efek digital mendominasi, klaim “lebih nyata” menjadi rapuh, dan penonton bertanya apa bedanya dengan versi 2016 selain tekstur visual yang berbeda.
Di titik ini, persoalannya bukan sekadar soal akting atau sinematografi, melainkan soal nilai tambah adaptasi. Remake yang baik biasanya menawarkan pembacaan ulang, kedalaman karakter, atau perspektif budaya yang lebih kaya, sementara film yang dinilai “pointless” dianggap hanya memindahkan produk ke kemasan baru.
(Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)Kontroversi live action Moana memperlihatkan risiko terbesar strategi remake Disney: nostalgia tidak otomatis menjadi kualitas. Ketika penonton sudah hafal ritme cerita, film baru harus memberi alasan emosional dan artistik yang lebih kuat daripada sekadar “melihat ulang” dalam format manusia nyata.
Kritik “autopilot” terhadap Dwayne Johnson juga mencerminkan masalah industri yang lebih luas, yakni ketergantungan pada persona bintang untuk menutup kekurangan visi. Jika performa terasa seperti pengulangan, maka yang tersisa hanya merek, bukan pengalaman.
Di sisi lain, pujian Variety menunjukkan bahwa sebagian penonton masih bisa menerima remake bila nuansa “keindahan” dan “pesona dongeng” tetap terjaga. Tetapi perpecahan ulasan justru menegaskan bahwa remake kini diuji dengan standar lebih keras: bukan apakah film itu rapi, melainkan apakah film itu perlu.
(Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)Live action Moana 2026 menjadi cermin bahwa adaptasi bukan pekerjaan menyalin, melainkan membuktikan relevansi. Saat banyak kritik menyebutnya datar dan tidak menggigit, pertanyaan yang tertinggal adalah apakah Disney masih mengejar imajinasi, atau hanya mengulang mesin yang dulu pernah berhasil.
Jika CGI membuatnya terasa “animasi lain”, maka “live-action” berubah menjadi label pemasaran, bukan pilihan estetika. Pada akhirnya, penonton akan terus menuntut satu hal sederhana: cerita lama boleh kembali, tetapi harus pulang dengan makna baru.
(Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)