Perang Iran-AS di Selat Hormuz, Jordan Terseret Serangan Rudal

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Perang Iran-AS di Selat Hormuz kembali memanas saat Iran menembakkan rudal balistik ke wilayah Jordan dan Amerika Serikat menghantam lebih dari 170 target militer Iran dalam dua hari. Serangan ini terjadi ketika Iran memakamkan Ayatollah Ali Khamenei di Mashhad, dan harapan kesepakatan damai jangka panjang kian meredup. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Artikel sumber menggambarkan situasi yang paradoks di Iran: upacara pemakaman nasional yang dimaksudkan sebagai panggung persatuan, berlangsung bersamaan dengan kembalinya saling serang antara Teheran dan Washington. Di saat prosesi jenazah Khamenei bergerak menuju Kompleks Imam Reza, laporan media pemerintah Iran menyebut serangan Amerika menghantam kota-kota pelabuhan di selatan dan jalur rel di utara. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Di luar Iran, dampaknya menyebar ke negara-negara yang menampung pasukan Amerika, termasuk Kuwait, Bahrain, dan Jordan. Militer Jordan menyatakan mencegat delapan rudal yang memasuki wilayahnya, sementara Iran mengklaim menargetkan Pangkalan Udara Muwaffaq Salti yang juga digunakan pasukan AS. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Ketegangan berakar pada Selat Hormuz, jalur energi vital yang menjadi alat tawar utama Iran. Nota Kesepahaman 14 poin yang ditandatangani 17 Juni hanya menggariskan kerangka, dengan janji pembukaan selat ditukar keringanan ekonomi, sementara isu nuklir ditunda. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Data operasi militer menunjukkan ketimpangan daya pukul: Komando Pusat AS menyebut sekitar 170 target dihantam dalam dua hari, termasuk pertahanan udara, gudang drone dan rudal, kapal cepat, serta infrastruktur logistik pesisir. Iran membalas dengan serangan lebih terbatas ke pangkalan Amerika di beberapa negara Teluk, dan banyak proyektilnya dilaporkan dicegat sistem pertahanan udara. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Kementerian Kesehatan Iran melalui juru bicara Hossein Kermanpour menyebut 14 orang tewas dan 78 terluka di lima provinsi akibat serangan udara, meski angka itu tidak dapat diverifikasi independen. Sementara itu, Kuwait melaporkan satu orang terluka akibat serpihan setelah mencegat tiga rudal balistik, satu rudal jelajah, dan 10 drone. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Serangan ke infrastruktur sipil berlapis militer, seperti jalur kereta Tehran-Mashhad dan jembatan rel dekat Agh Qala, menambah dimensi baru: perang tidak hanya memukul basis militer, tetapi juga mobilitas dan psikologi publik. Video yang diverifikasi media internasional menunjukkan kerusakan pada menara kendali maritim di Chabahar, menandakan pelabuhan menjadi medan tekan strategis. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Ekonomi global ikut bereaksi, terutama lewat minyak dan pelayaran. Data Kpler menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun dari 49 menjadi 25 kapal dalam sehari, jauh di bawah level pra-perang yang lebih dari 130 kapal per hari. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Harga Brent sempat turun ke sekitar 76 dolar per barel, tetapi tetap di atas level pra-perang yang berada di kisaran 70 dolar. Kenaikan biaya energi memicu kecemasan inflasi, dengan imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik mendekati 4,6 persen, tertinggi sejak Mei. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Jordan menjadi contoh paling jelas dari dilema sekutu Amerika yang ingin terlihat berdaulat, tetapi tetap terikat arsitektur keamanan Washington. Amman menegaskan tidak ada “pangkalan AS yang berdiri sendiri,” namun fakta bahwa Muwaffaq Salti menjadi hub AU AS dan menampung hampir 4.000 tentara Amerika membuat perbedaan itu tampak semantik. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Di dalam Iran, pemakaman Khamenei memperlihatkan retakan elite yang justru membesar ketika perang hidup kembali. Presiden Masoud Pezeshkian dan kubu negosiator dituduh “melemah” oleh kelompok garis keras, bahkan terjadi penyerangan fisik terhadap pejabat, menurut laporan dan video yang beredar. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Jika Selat Hormuz adalah kartu tawar, maka Iran tampak bermain dengan taruhan yang kian berbahaya. Analisis di artikel sumber menilai Teheran khawatir kendalinya atas selat “terlepas pelan-pelan,” sehingga memilih menekan lewat serangan tanker dan ancaman terhadap rute pelayaran. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Namun tekanan itu berisiko menjadi bumerang, karena memberi legitimasi politik bagi Washington untuk memperluas serangan, sekaligus memaksa negara Teluk memperketat pertahanan. Pernyataan negosiator Mohammad Bagher Ghalibaf, “Selat Hormuz hanya akan dibuka di bawah pengaturan Iran, bukan ancaman Amerika,” memperlihatkan logika kontrol sebagai simbol kedaulatan, bahkan di atas pendapatan. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Amerika, di sisi lain, tampak menegosiasikan perang melalui tindakan kinetik: serangan besar, sanksi minyak yang diaktifkan kembali, lalu sinyal bahwa kesepakatan masih mungkin. Presiden Trump menyebut serangan sebagai “pembalasan” dan mengatakan gencatan senjata “berakhir,” tetapi juga mengklaim Iran “ingin membuat kesepakatan,” sebuah ambiguitas yang menambah ketidakpastian pasar dan sekutu. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Di titik ini, Jordan dan negara Teluk menjadi ruang benturan yang tidak mereka pilih, tetapi harus mereka tanggung. Serangan yang “terbatas” tetap merusak citra aman untuk bisnis dan wisata, dan Jordan sendiri sudah terpukul pariwisatanya sejak perang Gaza 2023 lalu berlanjut ke konflik Iran. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Yang paling rapuh adalah narasi kemenangan yang ingin dibangun Iran lewat pemakaman Khamenei sebagai simbol persatuan dan defiance. Ketika serangan kembali meledak, panggung itu berubah menjadi pengingat bahwa perang modern bukan hanya soal wilayah, tetapi juga soal persepsi, pengaruh, dan kemampuan mengendalikan arus energi dunia. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Perang Iran-AS di Selat Hormuz memperlihatkan bagaimana sebuah jalur laut sempit bisa mengunci keputusan politik banyak negara, dari Teheran hingga Amman. Ketika rudal melintas di langit Jordan dan kapal-kapal mengurangi pelayaran, “gencatan” menjadi kata yang mudah diucapkan namun sulit dijaga. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)

Pemakaman Khamenei seharusnya menjadi penutup sebuah bab, tetapi justru menjadi latar bab baru yang lebih tak menentu. Pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang menang dalam pertukaran serangan, melainkan siapa yang mampu menghentikan spiral eskalasi sebelum dunia membayar harga lebih mahal lewat energi, keamanan, dan kemanusiaan. (Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)