Fairphone dan Ponsel Mudah Diperbaiki: Tren Right to Repair
ORBITINDONESIA.COM – Fairphone kembali menekan tombol debat besar: ponsel mudah diperbaiki dan gerakan right to repair yang kian menguat. Di saat banyak merek mengejar desain rapat dan servis mahal, Fairphone justru memamerkan sakelar samping yang bisa diubah fungsinya dan perangkat lunak yang sengaja membatasi distraksi.
Salah satu sedikit kustomisasi perangkat lunak Fairphone bernama Moments, yang bisa Anda aktifkan lewat sakelar samping berwarna mencolok. Moments membantu membatasi gangguan dengan menyembunyikan sebagian besar aplikasi di balik antarmuka minimalis, meski sebenarnya hanya lapisan aplikasi layar penuh, bukan pengalaman beranda yang benar-benar baru.
Jika pendekatan digital well-being itu tidak cocok, sakelar tersebut bisa dipetakan ulang. Menjadikannya tombol senter adalah contoh kecil yang terasa praktis, sekaligus menegaskan bahwa kontrol ada di tangan pengguna.
Namun, kompromi terbesar Fairphone tampaknya ada pada kamera, terutama bagi pengguna yang pindah dari Google atau Samsung. Perangkat kerasnya khas kelas menengah, dengan sensor utama 50 MP Sony 700C dan sensor 13 MP OmniVision OV13B10.
Lensa ketiga di belakang bukan kamera tambahan, melainkan jendela untuk sensor time-of-flight yang membantu fokus. Dalam cahaya memadai, dua sensor belakang menghasilkan foto yang bagus, dan kamera utama bahkan cukup tahan di kondisi yang lebih menantang.
Masalahnya, kecepatan pengambilan gambar cenderung lambat sehingga sulit memotret subjek bergerak dengan tajam. Warna juga terlihat agak datar, dan kecepatan autofocus terasa di sisi yang lebih pelan.
Kamera swafoto 32 MP tersedia, tetapi hasilnya sedikit lebih redup dibanding banyak perangkat di rentang harga serupa. Ini mengirim pesan tegas: Fairphone memilih prioritas berbeda, dan pengguna harus siap menukar sebagian “kemewahan komputasional” kamera modern dengan nilai lain.
Nilai lain itu adalah arah industri yang mulai dipaksa berubah oleh kebijakan. Di Eropa, regulator sedang menyiapkan aturan yang mewajibkan baterai bisa dilepas, sementara lebih banyak negara bagian di Amerika Serikat mengesahkan undang-undang right to repair.
Dalam konteks itu, Fairphone bukan sekadar “merek idealis”, melainkan semacam bukti konsep yang menyulitkan dalih lama industri. Jika perbaikan dipermudah, umur pakai perangkat bisa lebih panjang, dan siklus ganti ponsel tahunan kehilangan sebagian legitimasi sosialnya.
CTO Fairphone menegaskan bahwa produsen lain sebenarnya sudah punya semua yang dibutuhkan untuk membuat ponsel lebih mudah diperbaiki. “Kami memproduksi ponsel kami di jalur produksi yang sama dengan para pesaing, dan sering kali dengan banyak komponen yang sama,” kata Hatton.
Ia menambahkan, “Ini sebenarnya industri yang cukup kecil ketika Anda ada di dalamnya, dan sangat sedikit ruang bagi pesaing kami untuk mengatakan itu mustahil ketika di jalur produksi sebelah hal itu sedang terjadi.” Kutipan ini tajam karena membongkar narasi “tidak bisa” sebagai pilihan bisnis, bukan keterbatasan teknologi.
Dari sini, kritiknya jelas: kamera yang kalah cepat dan warna yang kurang “menggigit” mungkin mengecewakan, tetapi itu bukan inti pertarungan. Intinya adalah apakah publik dan regulator bersedia mengubah standar, dari ponsel yang paling tipis menjadi ponsel yang paling masuk akal untuk dimiliki lama.
Fairphone menunjukkan bahwa ponsel mudah diperbaiki tidak harus menjadi fantasi, meski ia masih membayar harga pada pengalaman kamera dan kecepatan pemotretan. Ketika aturan baterai lepas-pasang dan right to repair menguat, pertanyaannya bergeser dari “bisakah” menjadi “maukah” para raksasa mengikuti.
Pada akhirnya, ponsel adalah benda harian yang membentuk kebiasaan, konsumsi, dan limbah. Jika sebuah sakelar kecil bisa dipakai untuk menenangkan distraksi, mungkin industri juga bisa menekan “sakelar” yang lebih besar: membuat perbaikan menjadi normal, bukan pengecualian. (Orbit dari berbagai sumber, 9 September 2026)