DST Permanen di AS: Dampak Kesehatan, Sekolah, dan Ibadah

ORBITINDONESIA.COM – Wacana daylight saving time (DST) permanen di AS kembali menguat setelah DPR meloloskan Sunshine Protection Act. Namun di balik janji “lebih banyak cahaya sore” dan dorongan ekonomi, para ahli tidur memperingatkan efek samping yang bisa terasa pada kesehatan, keselamatan, sekolah, hingga jadwal ibadah.

Artikel sumber menjelaskan bahwa DPR AS menyetujui Sunshine Protection Act yang akan mempertahankan jam maju satu jam sepanjang tahun. Artinya, matahari terbit dan terbenam akan bergeser lebih lambat, terutama terasa pada musim dingin.

Banyak warga Amerika memang ingin mengakhiri perubahan jam dua kali setahun. Para pendukung DST permanen menilai sore yang lebih terang akan mendorong aktivitas luar ruang dan menggerakkan ekonomi.

Namun “mengakhiri perubahan jam” tidak otomatis berarti “memilih DST permanen” adalah keputusan tanpa konsekuensi. Perdebatan muncul karena waktu biologis manusia lebih dekat dengan paparan cahaya pagi daripada cahaya sore.

Jika DST permanen berlaku, musim dingin dapat menghadirkan pagi yang jauh lebih gelap. Peta yang dibagikan meteorolog menunjukkan matahari baru terbit sekitar 08.25 di New York dan 09.01 di Montana.

Konsekuensinya praktis dan langsung: jutaan anak berangkat sekolah dalam gelap, dan komuter menghadapi jam berkendara yang lebih redup. Dalam konteks keselamatan jalan, riset yang dikutip artikel menyebut pagi yang lebih gelap berkaitan dengan peningkatan kecelakaan dan risiko tabrakan.

Efeknya tidak berhenti pada lalu lintas, tetapi menjalar ke kesehatan mental. Penelitian yang dirujuk artikel menyiratkan jam gelap yang lebih panjang dapat memicu peningkatan depresi, kesedihan, dan kelelahan.

Masalah inti ada pada tidur dan ritme sirkadian. American Academy of Sleep Medicine (AASM) menekankan cahaya pagi membantu mengatur melatonin dan membangunkan tubuh secara alami.

Dengan matahari terbit lebih siang, lebih banyak orang akan terjaga sebelum fajar, bangun dalam gelap, dan cenderung tidur lebih larut. Adrian Pristas, direktur sleep medicine di Hackensack Meridian Health, memperingatkan DST permanen “kemungkinan meningkatkan risiko penyakit kronis selama bertahun-tahun” karena sinar matahari adalah kunci kesehatan dan tidur.

Pristas juga menilai perubahan itu dapat mengacaukan jadwal tidur yang sudah rapuh. Ia mengingatkan kurang tidur mengganggu konsentrasi, membuat suasana hati lebih labil, dan memicu masalah inflamasi yang terkait obesitas, penyakit jantung, diabetes, serta tekanan darah tinggi.

Sejarah AS memberi sinyal bahwa penolakan publik bukan sekadar kemungkinan. Pada 1973, Kongres pernah menerapkan DST selama dua tahun dengan dukungan Presiden Nixon, tetapi gelombang protes membuat kebijakan itu akhirnya dicabut.

Alasan penolakan kala itu sangat “rumahan” namun kuat: orang tua khawatir anak-anak menunggu bus sekolah dalam gelap. Seorang pembaca, Jon F. Gasper, mengingatkan Axios pada 2022 bahwa kekhawatiran itu menjadi pemicu utama kemarahan publik.

Dampak sosial juga menyentuh ranah keagamaan. The Forward (2024) mencatat matahari terbit yang lebih lambat dapat mengganggu jadwal doa pagi Yahudi Ortodoks di sinagoga.

Rabi Zalmen Gurevitz dari Rohr Chabad Jewish Center di West Virginia University mengatakan, jika matahari terbit terlambat, pemeluk yang taat harus menunda berangkat kerja atau berdoa di tempat kerja, dan keduanya tidak ideal. Artikel sumber juga menekankan sebagian doa dan observansi Muslim terikat pada waktu matahari terbit dan terbenam, sehingga ikut terdampak.

DST permanen sering dipasarkan sebagai solusi sederhana: berhenti “memainkan” jam, lalu hidup menjadi lebih nyaman. Tetapi kenyamanan administratif tidak selalu sejalan dengan biologi, terutama ketika cahaya pagi—penentu ritme tubuh—dikurangi secara sistematis.

Argumen “sore lebih terang” memang menggoda, karena terasa seperti hadiah setelah jam kerja. Namun kesehatan publik jarang ditentukan oleh apa yang terasa menyenangkan, melainkan oleh apa yang konsisten dengan kebutuhan fisiologis dan keselamatan.

Jika tujuan utamanya adalah mengakhiri perubahan jam dua kali setahun, opsi lain semestinya dibahas lebih jujur: mempertahankan waktu standar permanen. Artikel ini tidak membahas itu secara rinci, tetapi data yang ada mengisyaratkan bahwa mengorbankan cahaya pagi adalah taruhan besar dengan biaya tersembunyi.

Perdebatan ini juga menguji sensitivitas kebijakan pada keragaman sosial. Ketika jadwal doa dan praktik keagamaan ikut bergeser, negara sebenarnya sedang memilih “jam resmi” yang menguntungkan sebagian ritme hidup, sambil menyulitkan ritme hidup yang lain.

Di titik ini, DST permanen bukan sekadar soal ekonomi dan rekreasi, melainkan soal siapa yang menanggung beban adaptasi. Anak sekolah, pekerja pagi, dan komunitas beribadah pada waktu tertentu berpotensi menjadi kelompok yang paling mahal membayar kebijakan.

Sunshine Protection Act mendekatkan AS pada DST permanen, tetapi artikel sumber menunjukkan daftar efek samping yang tidak kecil: pagi musim dingin yang gelap, gangguan tidur, risiko penyakit kronis, potensi kecelakaan, hingga gesekan pada jadwal ibadah. Sejarah 1973 juga mengingatkan, kebijakan waktu bisa runtuh ketika pengalaman sehari-hari warga terasa makin berat.

Pada akhirnya, pertanyaan kuncinya bukan “apakah kita benci mengubah jam,” melainkan “waktu seperti apa yang paling selaras dengan tubuh dan keselamatan.” Jika cahaya pagi adalah fondasi kesehatan, apakah negara pantas menukarnya demi sore yang lebih terang?

(Orbit dari berbagai sumber, 26 Juli 2026)