Ancaman Houthi di Bab el-Mandeb Guncang Jalur Minyak Saudi

ORBITINDONESIA.COM – Ancaman Houthi di Bab el-Mandeb kembali menekan keamanan Laut Merah selatan, setelah pusat informasi maritim memperingatkan kesiapan serangan terhadap kapal dagang. Kelompok itu disebut menempatkan rudal dan drone dekat selat strategis, sementara beberapa tanker bermuatan Saudi memilih berbalik arah.

Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC) yang dipimpin Angkatan Laut AS memperingatkan pelaut bahwa sumber yang dekat dengan kelompok Houthi menyatakan persiapan serangan sudah “selesai.” Dalam pemberitahuan Selasa, JMIC menyebut pengerahan rudal dan drone yang diposisikan di sekitar Selat Bab el-Mandeb.

Misi angkatan laut Uni Eropa di Timur Tengah pada Rabu meminta “kapal dagang yang terkait kepentingan Israel, AS, atau Saudi” menghindari transit di Laut Merah dan Teluk Aden hingga tingkat ancaman menurun. Bab el-Mandeb adalah pintu selatan Laut Merah yang menghubungkan ke Teluk Aden, Laut Arab, dan pasar global.

Houthi pekan ini mendeklarasikan embargo maritim terhadap Arab Saudi. Mereka menyatakan semua kapal yang memuat atau membongkar kargo dari pelabuhan Saudi “dilarang,” menurut pemberitahuan misi Uni Eropa.

Embargo ini menyasar titik yang paling sensitif: ekspor minyak Saudi melalui Laut Merah dan Bab el-Mandeb. Jalur ini selama ini menjadi “katup pengaman” pasar minyak global ketika Iran meningkatkan serangan terhadap tanker di Selat Hormuz.

Riyadh diketahui mengalihkan jutaan barel per hari melalui pipa menuju terminal Yanbu di Laut Merah. Data Kpler menunjukkan ekspor dari Yanbu yang melewati Bab el-Mandeb melonjak ke 3,5 juta barel per hari pada Juni, dari 240 ribu barel per hari pada periode yang sama tahun lalu.

Di atas kertas, JMIC menilai ancaman tetap “moderat” dan dua hari terakhir tidak ada serangan di Laut Merah selatan. JMIC juga menyatakan tidak ada perubahan besar pada pola rute komersial, dan kapal tetap memakai jalur pelayaran yang mapan tanpa gangguan.

Namun indikator perilaku pasar bergerak lebih cepat daripada pernyataan resmi. Kpler mengamati penurunan lalu lintas 34% melalui Bab el-Mandeb pada Selasa dibanding Senin, tepat setelah embargo diumumkan.

Firma intelijen maritim Windward mencatat empat tanker bermuatan Saudi berbalik sebelum mencapai Bab el-Mandeb pada Selasa. Total muatannya sekitar 3,8 juta barel, terdiri dari minyak mentah, gasoil, dan nafta.

Tekanan di Bab el-Mandeb tidak berdiri sendiri karena Hormuz ikut memanas. Dalam sepekan ini, tiga tanker minyak mentah, produk, dan kimia diserang di lepas pantai Oman serta Uni Emirat Arab, ketika Iran mendorong kapal melintas melalui perairan teritorialnya.

Ancaman Houthi di Bab el-Mandeb memperlihatkan bagaimana “perang selat” menjadi instrumen politik energi, bukan sekadar isu keamanan. Ketika satu chokepoint dipaksa berisiko, arus perdagangan akan mencari jalan lain, tetapi biayanya naik dan premi risiko merembet ke harga global.

Yang paling mengkhawatirkan adalah efek psikologis pada pelayaran, karena keputusan berbalik arah sering terjadi sebelum peluru pertama ditembakkan. Penurunan trafik 34% dalam sehari adalah sinyal bahwa industri menganggap risiko nyata, meski otoritas masih menyebut ancaman “moderat.”

Di sisi lain, embargo Houthi terhadap Saudi menguji batas respons internasional yang selama ini terfragmentasi. Uni Eropa memberi peringatan selektif pada kapal terkait Israel, AS, dan Saudi, tetapi pasar melihat Laut Merah sebagai satu ekosistem risiko yang sulit dipilah.

Jika tekanan di Bab el-Mandeb dan Hormuz terjadi bersamaan, dunia menghadapi skenario “dua pintu sempit” yang sama-sama terganggu. Dalam kondisi itu, bahkan negara yang tidak terlibat langsung akan menanggung biaya lewat inflasi energi, gangguan pasokan, dan tarif asuransi yang melonjak.

Krisis Bab el-Mandeb menegaskan bahwa jalur minyak dan jalur politik kini bertumpuk di peta yang sama. Ketika drone dan rudal menjadi argumen, kapal tanker akan menjawab dengan rute memutar, dan konsumen global membayar selisihnya.

Pertanyaannya bukan hanya apakah serangan akan terjadi, melainkan seberapa lama dunia membiarkan perdagangan internasional disandera oleh ancaman yang “cukup kredibel” untuk mengubah perilaku pasar. Di titik ini, keselamatan pelayaran bukan lagi isu teknis, melainkan ujian tata kelola keamanan maritim global.

(Orbit dari berbagai sumber, 2 Agustus 2026)