Open Championship 2026: Sam Burns Memimpin, Kontroversi Bryson Membayangi
ORBITINDONESIA.COM – Open Championship 2026 di Royal Birkdale berubah jadi panggung sejarah dan drama, saat Sam Burns memimpin menuju final dengan rekor skor beruntun terendah di major. Setelah 62 pada Jumat, Burns menutup Moving Day dengan 65, menciptakan rangkaian 62-65 yang belum pernah terjadi di kejuaraan major.
Turnamen ini terasa “liar” karena dua hal berjalan bersamaan: skor rendah yang tak lazim di The Open, dan ketegangan soal penalti Bryson DeChambeau. Di papan skor, Burns unggul dua pukulan atas Ryan Fox dan Si Woo Kim, sementara Lucas Herbert sempat ikut menekan sebelum terpeleset bogey.
Royal Birkdale yang biasanya menghukum, justru membuka celah untuk serbuan birdie. Data siaran menyebut rata-rata skor Round 3 sempat 69,6, dan jika bertahan akan menjadi salah satu dari sangat sedikit ronde dalam sejarah The Open dengan rata-rata di bawah 70.
Di tengah pesta angka itu, DeChambeau tetap jadi magnet perhatian. Ia mendapat dukungan penonton, bahkan simpati sebagian pemain yang merasa penalti dua pukulan pada Jumat tidak adil.
Kunci cerita hari Sabtu adalah Sam Burns yang menolak turun dari pedal gas. Rangkaian 62-65 miliknya menjadi skor beruntun terendah dalam sejarah major, dan itu terjadi saat tekanan seharusnya memuncak pada Moving Day.
Namun Burns bukan satu-satunya yang “menggila” di Birkdale. Ryan Fox menyamai 62 dan menempel ketat, sementara Si Woo Kim menjaga konsistensi dengan tiga ronde di angka 60-an, termasuk 67 pada Sabtu untuk bertahan tepat di belakang pemimpin.
Menariknya, lonjakan skor rendah ini juga memunculkan pertanyaan tentang kondisi lapangan dan adaptasi permainan modern. Ketika tiga angka 62 muncul dalam satu pekan, The Open yang identik dengan ujian bertahan hidup terlihat seperti kompetisi sprint presisi.
Di sisi lain, statistik menunjukkan Burns datang bukan sebagai pemimpin kebetulan. Catatan PGA TOUR Communications menegaskan ia memburu major pertama pada penampilan major ke-26, setelah tren performanya menanjak dari hanya satu finis top-25 dalam 16 start awal menjadi beberapa finis top-10 dalam periode terakhir.
Faktor psikologis juga menguatkan narasi ini. Burns bahkan sempat berencana absen dari The Open karena baru menyambut kelahiran anak keduanya, tetapi akhirnya terbang dan kini memimpin, sebuah alur yang sering kali melahirkan “minggu terbaik” bagi atlet elit.
Sementara itu, persaingan di belakang Burns menyimpan paradoks: DeChambeau adalah satu-satunya pemenang major yang berada di dalam 10 besar menuju Minggu final. Secara historis, pengalaman menutup major sering menentukan, dan fakta ini memberi sinyal bahwa tekanan terbesar Burns bisa datang dari pemain yang justru paling ramai diperdebatkan.
Kontroversi penalti DeChambeau juga memanaskan atmosfer kompetisi. Rory McIlroy menyebut tak ragu DeChambeau “memperbaiki garis backswing” dan mengkritik sikap yang dinilainya “menahan turnamen,” bahkan berkata, “Saya tidak terlalu suka dia… banyak yang performatif dan untuk perhatian.”
Open Championship 2026 memperlihatkan bagaimana major modern kini bertarung di dua arena: lapangan dan opini publik. Saat skor makin rendah, drama aturan dan persepsi sportivitas justru makin tinggi, seolah emosi penonton ikut menjadi “hazard” tambahan.
Dalam konteks itu, Burns menjadi studi tentang ketenangan yang produktif. Ia tidak memimpin dengan sensasi, melainkan dengan angka yang dingin, dan justru itulah yang membuatnya berbahaya: permainan yang tidak memberi celah bagi lawan untuk berharap.
Namun, ada risiko narasi besar menelan substansi permainan. Ketika penalti DeChambeau menjadi bahan perdebatan utama, publik bisa lupa bahwa inti The Open adalah kemampuan membaca angin, memilih target, dan mengeksekusi pukulan berulang kali tanpa retak.
Birkdale juga mengirim pesan lain: tradisi tidak otomatis berarti kebal terhadap perubahan zaman. Jika teknologi, strategi, dan setup lapangan menghasilkan pekan penuh 62, maka “uji links” perlu didefinisikan ulang tanpa kehilangan karakter, bukan sekadar dibuat lebih sulit demi nostalgia.
Minggu final The Open Championship 2026 menyisakan satu pertanyaan sederhana: apakah sejarah akan ditulis oleh pemimpin baru seperti Sam Burns, atau oleh pengalaman dan kekacauan yang dibawa nama besar seperti Bryson DeChambeau. Dengan Fox dan Si Woo Kim menempel, satu kesalahan kecil bisa mengubah urutan, dan satu putt panjang bisa mengunci trofi.
Di atas semua itu, pekan ini mengingatkan bahwa olahraga besar selalu bergerak di antara prestasi dan kontroversi. Ketika kita terpaku pada drama, kita perlu bertanya: apakah kita masih melihat golf sebagai seni ketepatan, atau sekadar panggung konflik yang kebetulan dimainkan dengan stik dan bola.
(Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)