Latihan Militer AS-Korea Selatan Dibatalkan, Dampak Perang Iran

Euronews.com

Euronews.com

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Latihan amfibi gabungan AS-Korea Selatan, Ssangyong, dibatalkan karena perang Iran menguras ketersediaan pasukan Amerika Serikat. Keputusan ini menambah daftar pemangkasan latihan militer AS-Korea Selatan, setelah Ulchi Freedom Shield juga dipangkas atas perintah Presiden Donald Trump. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Korea Selatan menyatakan pada Senin bahwa Amerika Serikat membatalkan latihan pendaratan amfibi gabungan skala besar yang dijadwalkan bulan depan karena keterbatasan ketersediaan pasukan akibat perang Iran. Latihan Ssangyong yang digelar dua tahunan melibatkan Korps Marinir Korea Selatan dan Amerika Serikat untuk memperkuat operasi gabungan. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Biasanya latihan ini mencakup kapal perang, pesawat, dan pasukan darat yang berlatih pendaratan amfibi. Pembatalan itu terjadi setelah Trump memerintahkan pemangkasan latihan tahunan terpisah, Ulchi Freedom Shield, dari 11 hari menjadi lima hari. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Trump menyebut biaya latihan terlalu tinggi dan menilai latihan itu mengirim sinyal “tidak pantas dan bermusuhan” kepada Korea Utara. Ia juga menonjolkan kedekatannya dengan Kim Jong-un sebagai alasan politik yang lebih luas. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Juru bicara Korps Marinir Korea Selatan, Han Seung-jeon, mengatakan Korps Marinir AS secara resmi memberi tahu pada Juni bahwa kemampuan pengerahan pasukan untuk Ssangyong akan terkendala karena situasi di Timur Tengah. Seoul dan Washington disebut masih berkonsultasi untuk melanjutkan kembali latihan amfibi tersebut, tanpa rincian waktu maupun format pengganti. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Pentagon tidak segera merespons permintaan komentar atas pengumuman Seoul, sehingga ruang tafsir publik melebar. Dalam konteks aliansi, ketiadaan penjelasan cepat sering dibaca sebagai sinyal bahwa keputusan operasional sedang ditarik ke ranah politik yang lebih sensitif. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Di atas kertas, alasan “ketersediaan pasukan” terdengar teknis dan lazim dalam situasi perang. Namun dalam praktik, pembatalan latihan besar berdampak pada ritme interoperabilitas, terutama untuk skenario pendaratan amfibi yang membutuhkan sinkronisasi lintas matra dan latihan berulang. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Pemangkasan Ulchi Freedom Shield mempertegas pola yang sama, yaitu pengurangan durasi dan intensitas latihan gabungan. Trump menyampaikan bahwa penting untuk “rukun” dengan Kim, sambil menyebut Pyongyang kini memiliki 57 senjata nuklir yang “sangat kuat”. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Seoul memperkirakan Korea Utara memiliki sekitar 80 hingga 120 senjata nuklir, yang menunjukkan adanya perbedaan angka dan ketidakpastian intelijen. Ketika estimasi ancaman masih bergerak, pengurangan latihan dapat dinilai sebagai taruhan kebijakan yang besar, karena kesiapan militer diukur lewat kebiasaan dan pengulangan. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Trump dan Kim bertemu tiga kali pada masa jabatan pertama Trump, tetapi program nuklir Korea Utara justru dipercepat setelah KTT Hanoi 2019 berakhir tanpa kesepakatan denuklirisasi. Fakta ini membuat argumen “meredakan ketegangan lewat pemangkasan latihan” tidak otomatis menghasilkan perlambatan nuklir di pihak lawan. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Pembatalan Ssangyong dapat dibaca sebagai efek domino perang Iran, tetapi juga sebagai cermin prioritas global Washington yang berubah cepat. Ketika Timur Tengah menyedot sumber daya, Indo-Pasifik berisiko menerima pesan bahwa komitmen militer bisa dinegosiasikan oleh krisis lain. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Di sisi lain, Trump tampak ingin menukar “intensitas latihan” dengan “ruang diplomasi” terhadap Kim. Masalahnya, diplomasi tanpa pengungkit kesiapan sering berubah menjadi simbolisme, apalagi ketika Korea Utara tetap meningkatkan kemampuan nuklirnya pasca-Hanoi. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Seoul berada pada posisi paling rumit karena harus menjaga deterensi sekaligus mengelola persepsi publik tentang ketahanan aliansi. Jika latihan gabungan terus dipangkas, Korea Selatan dapat terdorong mempercepat opsi kemandirian pertahanan, termasuk perdebatan sensitif soal postur strategis jangka panjang. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Yang paling berbahaya adalah normalisasi pengurangan latihan sebagai kebijakan rutin, bukan respons situasional. Ketika musuh menguji celah, yang mereka amati bukan hanya jumlah kapal atau pesawat, tetapi konsistensi keputusan dan keteguhan sinyal. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Pemangkasan Ulchi Freedom Shield dan pembatalan Ssangyong menunjukkan bagaimana perang Iran dapat mengubah peta prioritas militer AS-Korea Selatan dalam hitungan minggu. Di saat yang sama, narasi “mengurangi latihan demi meredakan Korea Utara” berbenturan dengan fakta bahwa program nuklir Pyongyang tetap melaju. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)

Pertanyaan kuncinya bukan sekadar kapan latihan amfibi itu kembali digelar, melainkan apa harga strategis dari jeda yang dibiarkan terlalu lama. Jika kesiapan adalah bahasa deterensi, maka dunia sedang menyaksikan apakah aliansi ini masih berbicara dengan suara yang tegas, atau mulai berbisik karena sibuk di front lain. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)