Belarus Bebaskan 25 Tahanan Politik, Sanksi AS Dilonggarkan
ORBITINDONESIA.COM – Belarus membebaskan 25 tahanan dalam kesepakatan pelonggaran sanksi AS, sebuah langkah yang langsung menghidupkan kembali perdebatan tentang “tahanan politik” di era Alexander Lukashenko. Utusan Presiden Donald Trump, John Coale, menyebut pembebasan itu sebagai “itikad baik”, sementara oposisi menegaskan ratusan orang masih ditahan.
Kesepakatan ini lahir dari negosiasi panjang sejak tahun lalu, ketika Washington menekan Minsk agar membebaskan ratusan orang. Targetnya mencakup aktivis HAM, aktivis politik, jurnalis, dan pengacara, dengan imbalan keringanan sanksi.
Proses ini sensitif karena Lukashenko adalah sekutu dekat Vladimir Putin dan lama dijauhi Barat. Uni Eropa tetap mempertahankan sanksinya terhadap Belarus, terutama karena represi domestik dan dukungan Minsk pada perang Rusia di Ukraina.
Coale menyatakan ada “kesepakatan sementara” yang menukar pembebasan 25 orang dengan pencabutan sanksi atas dua perusahaan. Ia juga menegaskan pembicaraan akan berlanjut untuk membebaskan lebih banyak tahanan dan menghapus sanksi tambahan.
Angka 25 terasa kecil bila dibandingkan dengan klaim Coale pada kunjungan Maret, ketika ia menegosiasikan pembebasan sekitar 250 orang. Selisih ini menunjukkan negosiasi bergerak maju-mundur, dan Minsk masih memegang “stok” tahanan sebagai kartu tawar.
Kelompok HAM Viasna menyebut Belarus masih menahan lebih dari 900 tahanan politik pada awal pekan ini. Tuduhan yang sering dipakai mencakup “ekstremisme”, makar, hasutan kebencian, atau menghina presiden, sebuah paket pasal yang kerap dikritik karena lentur dan mudah dipolitisasi.
Nama-nama yang dibebaskan menegaskan bahwa yang dilepas bukan kasus kecil. Viasna mencatat jurnalis Andrei Alyaksandrau yang dihukum 14 tahun, istrinya Iryna Zlobina yang dihukum sembilan tahun, serta Liudmila Chekina, pimpinan portal TUT.BY yang ditutup pada 2021 dan dijatuhi 12 tahun.
Oposisi Belarus di pengasingan, Sviatlana Tsikhanouskaya, mengatakan 25 orang itu telah dibawa dengan aman ke Lithuania. Namun sumber yang mengetahui situasi menyebut sejumlah tahanan lain diperkirakan dibebaskan tetapi tetap berada di dalam Belarus, sehingga dampak politiknya bisa lebih sunyi dan sulit diverifikasi.
Di sisi sanksi, AS akan menghapus dua perusahaan dari daftar pembatasan: Lakokraska dan Bellesbumprom. Menariknya, sanksi terhadap Lakokraska sudah berlaku sejak 2008, sedangkan Bellesbumprom sejak 2023, menandakan Washington memilih kombinasi “warisan lama” dan “tekanan baru” untuk dinegosiasikan.
Coale juga menjanjikan upaya agar bank-bank AS mengembalikan puluhan juta dolar aset Belarus yang dibekukan. Jika benar terjadi, ini bukan sekadar simbol, karena menyentuh likuiditas negara dan memberi Minsk insentif ekonomi yang nyata.
Kesepakatan ini memperlihatkan diplomasi berbasis transaksi: manusia ditukar dengan pelonggaran sanksi. Secara moral, pembebasan siapa pun patut disyukuri, tetapi secara politik ia berisiko menormalisasi praktik “sandera negara” yang berulang.
Lukashenko menyangkal mereka adalah tahanan politik dan menolak tuduhan bahwa ia menangkap orang baru untuk mengganti yang dibebaskan. Namun pola “tangkap–bebaskan” yang dilaporkan kelompok HAM membuat penyangkalan itu terdengar seperti strategi bahasa, bukan perubahan kebijakan.
Bagi Washington, langkah kecil bisa dipandang sebagai celah untuk mengurangi ketergantungan Belarus pada Rusia. Tetapi selama represi tetap berjalan dan sanksi Uni Eropa masih kuat, ruang manuver Belarus tetap sempit, dan setiap konsesi AS akan dinilai sebagai uji konsistensi Barat.
Di tingkat publik, pembebasan tokoh media seperti Chekina dan Alyaksandrau mengirim sinyal bahwa informasi tetap dianggap ancaman oleh negara. Ketika jurnalisme diperlakukan sebagai kejahatan, maka “stabilitas” yang dijanjikan rezim berdiri di atas ketakutan, bukan legitimasi.
Tsikhanouskaya menulis, “di tengah sukacita, kami mengingat mereka yang masih di balik jeruji,” dan kalimat itu merangkum paradoks hari ini. Kebebasan 25 orang adalah kabar baik, tetapi angka 900 lebih tahanan politik membuatnya terasa seperti setetes air di ruang yang terbakar.
Pertanyaannya kini bukan hanya berapa orang lagi yang akan dibebaskan, melainkan apakah Belarus bersedia menghentikan mesin penangkapannya. Jika sanksi dapat dinegosiasikan, seharusnya martabat manusia tidak menjadi mata uang yang terus diperdagangkan.
(Orbit dari berbagai sumber, 17 September 2026)