Gencatan Senjata Gaza dan Serangan Israel: Damai Semu Pascaperang
ORBITINDONESIA.COM – Gencatan senjata Gaza yang diumumkan Donald Trump pada Oktober tahun lalu disebut menandai “perang berakhir” dan “damai di Timur Tengah” tercapai. Namun bagi Asma Baroud, “damai” itu runtuh saat suaminya tewas oleh serangan udara Israel, sementara putranya Mohammad kehilangan mata dan harus menjalani operasi berulang. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Hampir setahun setelah Donald Trump mendeklarasikan gencatan senjata Gaza, realitas di lapangan menunjukkan kekerasan tetap berjalan. Asma Baroud, 34 tahun, sebelumnya hidup di tenda kamp pengungsi Gaza setelah keluarganya berulang kali mengungsi akibat operasi militer Israel pascaserangan Hamas 7 Oktober 2023. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Setelah Trump menyatakan perang berakhir, suaminya, Bahaa Baroud, kembali ke utara untuk memperbaiki rumah keluarga yang rusak akibat serangan udara. Mereka sempat kembali tinggal di rumah itu, tetapi serangan tidak berhenti, dan pada 16 Mei sebuah serangan udara Israel menewaskan Bahaa seketika. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Militer Israel (IDF) menyatakan Bahaa, 41 tahun, adalah “komandan” di markas Hamas yang merencanakan serangan dan “menjadi ancaman langsung.” Asma membantah, menyebut Bahaa pekerja kemanusiaan yang melayani warga termiskin di Gaza, sementara IDF menolak memberi bukti dan tidak menjawab rinci soal luka Mohammad. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 74.245 warga Palestina tewas dalam tiga tahun sejak serangan 7 Oktober 2023, tanpa membedakan kombatan dan sipil. Sejak Oktober lalu, saat Trump menyatakan “perang di Gaza berakhir,” tercatat 1.462 kematian tambahan, angka yang menantang klaim “akhir perang.” (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Secara formal, proses damai berjalan melalui “Board of Peace” yang dibentuk Trump dan memimpin rekonstruksi Gaza. Namun analis menyebut Gaza berada dalam limbo, karena Israel terus melancarkan serangan udara dan perlahan mengambil wilayah, sementara perhatian internasional dan diplomasi meredup. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Hugh Lovatt dari European Council on Foreign Relations menyebut gencatan senjata “hanya ada dalam nama,” dan korban justru meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Ia menilai pemerintah Israel di bawah Benjamin Netanyahu tidak ingin terlihat “melunak” terhadap Hamas atau Gaza menjelang pemilu nasional 27 Oktober. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Dalam kasus Mohammad, dokter menyebut ia sadar dari koma setelah 21 hari, tetapi kehilangan mata kiri dan membutuhkan beberapa operasi rekonstruksi wajah. IDF mengklaim telah melakukan langkah mitigasi dampak sipil dengan amunisi presisi dan pengawasan udara, serta menuduh Hamas berulang kali melanggar kesepakatan, sementara Israel “beroperasi sesuai perjanjian.” (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Amjad Iraqi dari International Crisis Group menyebut pola “kekerasan tingkat rendah” telah dinormalisasi sejak gencatan senjata diumumkan. Ia menilai target serangan jarang benar-benar “ancaman langsung” yang bisa membenarkan serangan, karena Israel “menembak sesukanya” dan terus ofensif. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Iraqi juga menyoroti kendali besar Amerika Serikat atas Board of Peace yang membuat pengawasan internasional melemah dan tekanan diplomatik menurun. Ia menyebut warga Palestina hanya menguasai sekitar sepertiga wilayah Gaza, sementara Israel “merangsek maju” tanpa dorongan balik berarti dari luar. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Nasser Khdour dari Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) menyebut dua pola pembunuhan paling umum setahun terakhir. Pertama, penembakan terhadap orang termasuk sipil yang mendekati rumah atau mobil dan dianggap terlalu dekat “yellow line,” dan kedua, pembunuhan terarah terhadap orang yang dituduh militan. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Khdour mengatakan ia tidak melihat “bukti” bahwa Bahaa Baroud adalah komandan Hamas. Ia menekankan pentingnya membedakan militan Hamas dari warga sipil, seraya mengingatkan Hamas juga membentuk “komite darurat” penyaluran bantuan yang sebelumnya berulang kali diserang Israel. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Di tengah itu, Asma kini tinggal sementara di Amman, Yordania, agar Mohammad mendapat perawatan melalui program pemerintah Yordania. Ia juga menyebut dukungan perjalanan datang dari Palestinian Australian New Zealand Medical Association, tetapi pikirannya tetap tertambat ke Gaza saat dunia terasa bergerak maju dan melupakan. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Kata kunci “gencatan senjata Gaza” kini terdengar seperti label politik, bukan kenyataan keamanan bagi warga. Jika kematian tetap terjadi, wilayah terus diambil, dan serangan udara berlanjut, maka “damai” lebih mirip pengaturan ulang intensitas kekerasan, bukan penghentian konflik. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Klaim “target ancaman langsung” menjadi problem besar saat bukti tidak dibuka dan pertanyaan soal korban sipil tidak dijawab. Dalam ruang hampa akuntabilitas, narasi keamanan mudah mengalahkan fakta, dan warga seperti Asma dipaksa menerima duka sebagai rutinitas. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
“Yellow line” memperlihatkan bagaimana peta kekuasaan diciptakan lewat garis, bukan lewat kesepakatan yang adil. Ketika garis itu membuat orang ditembak saat mendekati rumah atau mobil, maka yang terjadi bukan sekadar kontrol militer, melainkan pembatasan hidup sehari-hari. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Gencatan senjata yang sangat dipengaruhi satu kekuatan besar juga menyisakan paradoks. Saat Board of Peace dikuasai Amerika Serikat dan sorotan internasional menurun, peluang koreksi dari luar melemah, sementara pihak yang lebih kuat di lapangan punya ruang lebih luas untuk menentukan “aturan main.” (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Asma berkata, “Mereka tidak menginginkan kehidupan di Gaza, semua orang adalah target.” Kalimat itu bukan hanya ratapan, tetapi indikator runtuhnya rasa aman kolektif, ketika warga sipil tak lagi yakin ada kategori “bukan sasaran.” (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Mohammad, 10 tahun, berkata ia “pasti” ingin kembali, karena Gaza adalah rumah, meski ia kehilangan mata dan kebebasan yang dulu ia kenal. Asma pun ingin pulang, tetapi mengakui setiap hari di sana akan diiringi rasa takut, sebuah definisi damai yang berlawanan dengan makna damai itu sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)
Jika gencatan senjata Gaza hanya memindahkan perang ke bentuk “kekerasan rendah” yang terus menelan korban, maka pertanyaan paling mendasar belum dijawab: damai untuk siapa, dan dengan biaya siapa. Barangkali ukuran damai yang paling jujur bukan deklarasi pemimpin, melainkan apakah seorang ibu bisa membesarkan anak tanpa menunggu ledakan berikutnya. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)