Geologi Bumi Antartika: Mantle Waves Membekukan Kutub Selatan

detikInet

detikInet

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Geologi Bumi Antartika kembali mengguncang cara kita memahami lahirnya benua es. Studi di jurnal Science (Juli 2026) menyebut Antartika Timur membeku 34 juta tahun lalu bukan semata karena CO2 turun, tetapi karena daratannya lebih dulu terangkat dan mendingin.

Selama ini, penurunan karbon dioksida (CO2) dianggap pemicu utama pendinginan global. Namun ada teka-teki besar: mengapa Antartika membeku lebih cepat, sementara Kutub Utara tertinggal jauh.

Penelitian terbaru menempatkan topografi sebagai aktor yang selama ini kurang disorot. Antartika Timur ternyata “disiapkan” oleh proses geologi yang berjalan sebelum iklim global benar-benar jatuh ke ambang pembentukan es permanen.

Dalam narasi lama, atmosfer seolah menjadi sutradara tunggal. Dalam narasi baru, panggungnya dibangun dari bawah tanah, perlahan, selama puluhan hingga ratusan juta tahun.

Tim peneliti melacak proses yang dimulai lebih dari 100 juta tahun lalu, saat Gondwana pecah. Perpecahan itu memicu pergerakan material mantel yang disebut mantle waves, gangguan sangat lambat yang merambat dan mengangkat kerak benua.

Pengangkatan ini menaikkan wilayah Antartika Timur secara bertahap, termasuk pegunungan yang kini terkubur di bawah es. Sekitar 45 juta tahun lalu, area yang kian luas disebut telah melampaui ketinggian sekitar 2 kilometer.

Ketinggian mengubah aturan main iklim lokal. Semakin tinggi daratan, semakin rendah suhu, sehingga salju lebih mudah bertahan melewati musim panas.

Salju yang tidak mencair lalu menumpuk, memadat, dan berubah menjadi es. Dari proses akumulasi itulah Lapisan Es Antartika Timur terbentuk sekitar 34 juta tahun lalu, meski Bumi kala itu diperkirakan masih 5 derajat Celsius lebih hangat daripada sekarang.

Prof Thomas Gernon dari University of Southampton menegaskan penurunan CO2 saja tidak cukup menjelaskan perbedaan respons dua kutub. “Jika penurunan kadar CO2 terjadi sendirian, Anda akan mengharapkan kedua kutub merespons secara lebih simetris,” katanya, dikutip dari SpaceDaily.

Di sini, “geologi” bekerja sebagai pengungkit yang membuat Antartika punya keunggulan awal. Daratan yang terangkat menciptakan zona dingin permanen yang siap mengunci salju, bahkan sebelum pendinginan global mencapai titik yang sama di belahan utara.

Para peneliti memakai pemodelan komputer untuk merekonstruksi evolusi Antartika selama sekitar 100 juta tahun. Mereka menggabungkan model geologi, perubahan elevasi, kondisi iklim, hingga dinamika pertumbuhan lapisan es.

Hasil simulasi menunjukkan efek berantai yang kuat. Begitu es mulai terbentuk, ia memperkuat pendinginan lewat efek albedo, karena permukaan putih memantulkan lebih banyak energi Matahari dibanding tanah atau batuan gelap.

Dalam simulasi, perkembangan lapisan es ikut menurunkan suhu global sekitar 1 derajat Celsius. Angka ini memperlihatkan es bukan hanya “produk” iklim, tetapi juga “produsen” pendinginan yang mengunci sistem ke keadaan lebih dingin.

Dr Thea Hincks dari University of Southampton menyebut model mereka mampu menggambarkan dataran tinggi, tebing pesisir, hingga pegunungan yang menjadi lokasi awal pembentukan es. Artinya, peta permukaan yang kita lihat hari ini menyimpan sejarah panjang yang ditulis oleh mesin geologi.

Perbedaan bentuk geografis dua kutub juga penting. Antartika adalah benua yang dikelilingi lautan, sedangkan Kutub Utara berada di atas Samudra Arktik, sehingga “landasan” untuk menumpuk salju permanen tidak sebanding.

Temuan ini memukul kebiasaan kita menyederhanakan krisis iklim menjadi satu tombol bernama CO2. CO2 tetap kunci, tetapi Antartika menunjukkan bahwa sistem Bumi sering bergerak lewat kombinasi pemicu, penguat, dan kondisi awal.

Geologi Bumi Antartika mengajarkan bahwa “waktu” adalah variabel yang sering dilupakan publik. Mantle waves bekerja dalam skala jutaan tahun, sedangkan emisi modern mengubah atmosfer dalam hitungan abad.

Di sini muncul jebakan interpretasi yang perlu dihindari. Fakta bahwa pegunungan bawah es membantu membentuk Antartika tidak berarti Antartika kebal terhadap pemanasan global saat ini.

Justru sebaliknya, kompleksitas membuat risiko sulit diprediksi secara intuitif. Jika lapisan es pernah memperkuat pendinginan lewat albedo, maka kehilangan es juga dapat mempercepat pemanasan lewat albedo terbalik.

Sudut pandang yang tajam adalah melihat Antartika sebagai arsip dan alarm sekaligus. Arsip, karena ia menyimpan jejak kerja sama antara mantel, topografi, atmosfer, dan lautan, serta alarm, karena perubahan cepat manusia bisa mendorong sistem melewati ambang yang tidak menunggu jutaan tahun.

Dalam debat publik, sains sering dipaksa memilih satu penyebab dominan agar mudah dijual. Padahal, pelajaran paling berguna dari studi ini adalah keberanian mengakui banyak sebab yang saling mengunci.

Lapisan Es Antartika Timur lahir dari pertemuan penurunan CO2, daratan yang terangkat, dan efek albedo yang menguatkan pendinginan. Antartika membeku lebih dulu karena ia “diposisikan” oleh geologi, bukan karena ia lebih kebal atau lebih kuat.

Di era pemanasan cepat, pesan paling penting justru soal skala dan kecepatan. Bumi bisa menyiapkan panggung selama jutaan tahun, tetapi manusia bisa mengubah naskah dalam beberapa generasi.

Pertanyaannya kini bergeser: jika es bisa terbentuk karena rangkaian penguat yang rapi, seberapa cepat rangkaian itu bisa berbalik saat pemanasan terus berlanjut. Pada akhirnya, Antartika mengingatkan kita bahwa alam tidak hanya bereaksi, tetapi juga menyimpan mekanisme yang dapat mempercepat arah perubahan.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 September 2026)