Enrico dan Virly: Siapa Dominan dalam Hubungan Couple Goals TikTok

jatimnetwork.com

jatimnetwork.com

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Enrico Winaldy dan Kiara Virly kerap disebut couple goals TikTok, tetapi publik penasaran: siapa yang dominan dalam hubungan Enrico dan Virly. Dari pengakuan Virly di kanal YouTube Juan & Eve, jawabannya tegas: Virly lebih banyak mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Pasangan kreator ini mulai menyita perhatian sejak 2021 lewat konten komedi ringan, tantangan, prank, dan dinamika couple yang terasa dekat bagi penonton. Mereka juga bukan pasangan instan, karena hubungan sudah terjalin sejak masa kuliah dan kini berujung pada pernikahan.

Di era TikTok, citra couple goals sering dibangun lewat potongan momen manis dan lucu yang mudah viral. Namun, di balik layar, relasi tetap bekerja dengan pembagian peran, negosiasi, dan siapa yang memegang kendali dalam keputusan harian.

Pernyataan Virly menempatkan isu “dominasi” bukan sebagai drama, melainkan sebagai pola kerja relasi yang nyata. “Aku banyak dominan tu di pekerjaan, bukan dalam ngonten ya, tapi dalam kehidupan aku banyak ngatur,” ucap Virly, dikutip dari YouTube Juan & Eve.

Virly menggambarkan Enrico sebagai pribadi yang santai dan cenderung mengikuti alur, sementara dirinya perlu tahu detail dan tujuan sebelum melangkah. Perbedaan karakter ini sering menjadi alasan praktis mengapa satu pihak lebih sering memutuskan, bukan semata-mata karena kuasa.

Yang menarik, Virly menegaskan dominasi itu tidak berhenti pada urusan kerja atau finansial, tetapi juga merembet ke wilayah percintaan. Kalimat tersebut memberi sinyal bahwa pengambilan keputusan mereka lebih terstruktur pada satu poros, meski tetap dalam kerangka kesepakatan.

Fenomena ini selaras dengan tren pasangan publik figur digital yang memadukan rumah tangga dan “brand” konten. Ketika kehidupan menjadi materi kreatif, pembagian peran sering menuntut satu orang menjadi manajer ritme, jadwal, dan arah, agar produksi tetap konsisten.

Namun, narasi dominan juga rentan disalahpahami sebagai relasi timpang, apalagi jika penonton hanya menangkap potongan kalimat tanpa konteks. Di titik ini, literasi publik penting, karena dominan bisa berarti lebih terorganisir, bukan selalu lebih berkuasa.

Pengakuan Virly justru mematahkan mitos bahwa hubungan ideal selalu “50:50” dalam setiap aspek dan setiap waktu. Dalam praktiknya, banyak pasangan berjalan efektif karena ada pembagian peran yang fleksibel dan disesuaikan dengan kompetensi serta karakter.

Di sisi lain, label couple goals di media sosial kerap membuat relasi terlihat seperti produk yang harus selalu rapi. Ketika publik memuja keharmonisan, pasangan bisa terdorong menampilkan stabilitas, padahal dinamika dominan-mengikuti adalah bagian normal dari negosiasi rumah tangga.

Pertanyaan yang lebih tajam bukan siapa yang dominan, melainkan apakah dominasi itu transparan, disepakati, dan tidak mematikan suara pasangan. Jika “ngatur” berubah menjadi kontrol sepihak, maka relasi akan kehilangan ruang dialog, meski tetap tampak manis di kamera.

Kisah Enrico dan Virly menunjukkan bahwa hubungan yang terlihat ringan di TikTok tetap memiliki arsitektur keputusan yang serius di belakangnya. Virly mengaku lebih dominan, sementara Enrico lebih santai, dan keduanya tampak menemukan ritme yang cocok.

Pada akhirnya, publik bisa belajar bahwa relasi sehat tidak selalu simetris, tetapi harus adil dan disepakati. Pertanyaannya, dalam hubungan kita masing-masing, apakah pembagian peran sudah menjadi kerja sama, atau diam-diam berubah menjadi beban yang dipendam sendiri.

(Orbit dari berbagai sumber, 5 Juni 2026)