Lacosamide dan Hydrogel Injeksi: Terobosan Osteoarthritis Perbaiki Tulang Rawan
ORBITINDONESIA.COM – Riset Yale tentang osteoarthritis menyorot lacosamide, obat epilepsi yang dinilai mampu menekan nyeri sendi sekaligus membalikkan kerusakan tulang rawan. Kuncinya ada pada strategi injeksi intra-artikular memakai hydrogel kolagen yang menahan obat lebih lama di lutut.
Untuk jutaan penderita osteoarthritis, nyeri dan kaku sendi membuat aktivitas harian makin sulit. Obat bebas dan suntikan steroid sering hanya meredakan gejala sementara, tetapi tidak menghentikan kerusakan sendi yang terus berjalan.
Dalam sendi sehat, kondrosit menjaga tulang rawan dengan menyeimbangkan pembentukan jaringan baru dan pembuangan jaringan lama. Osteoarthritis merusak keseimbangan itu, sehingga tulang rawan terkikis lebih cepat daripada bisa diganti, lalu tulang bergesekan dan risiko operasi seperti total knee replacement meningkat.
Peneliti utama, Chuan-Ju Liu dari Yale, menegaskan ada “kebutuhan besar yang belum terpenuhi” karena terapi saat ini cenderung hanya menutupi nyeri. Ia menekankan perlunya terapi yang mengubah jalannya penyakit, bukan sekadar menenangkan gejala.
Studi yang dipublikasikan di Bioactive Materials menyasar Nav1.7, protein kanal natrium yang mengatur sinyal listrik sel. Dulu Nav1.7 dianggap terutama bekerja di saraf nyeri, tetapi tim Liu menemukan aktivitasnya juga tinggi pada kondrosit, sel penjaga tulang rawan.
Dalam sendi sehat Nav1.7 relatif “tenang”, tetapi pada osteoarthritis aktivitasnya melonjak. Peningkatan ini, menurut temuan mereka, sekaligus memperkuat sinyal nyeri dan mendorong kondrosit mempercepat perombakan tulang rawan.
Di sinilah taruhannya: satu target biologis memengaruhi dua masalah utama osteoarthritis, yakni nyeri dan kerusakan struktural. Liu menyebut Nav1.7 sebagai “target ganda”, karena memblokirnya berpotensi menenangkan saraf nyeri dan mengarahkan sel tulang rawan untuk berhenti merusak serta mulai memperbaiki.
Alih-alih membuat obat baru, tim menyeleksi penghambat kanal natrium yang sudah ada dan menemukan lacosamide paling menjanjikan. Dibanding obat lama sekelasnya, lacosamide memberi efek kuat pada konsentrasi lebih rendah dan dinilai punya profil keamanan lebih baik.
Namun riset ini juga mengingatkan bahwa dosis bukan sekadar angka. Pada konsentrasi rendah yang “pas”, lacosamide meningkatkan produksi protein pembentuk tulang rawan dan menekan proses perusakan jaringan, sementara dosis terlalu tinggi atau terlalu rendah justru mengaburkan manfaat.
Temuan lain yang penting adalah perubahan komunikasi antarsel. Lacosamide merangsang pelepasan HSP70 dan midkine, dua protein sinyal yang berkaitan dengan respons stres sel, perbaikan jaringan, pengaturan inflamasi, dan perlindungan sendi dari degenerasi.
Masalah berikutnya adalah cara menghantarkan obat agar tidak cepat “kabur” dari sendi lutut. Liu menggambarkan lutut seperti “ember bocor” karena sistem drainase tubuh dapat membersihkan cairan injeksi hanya dalam hitungan jam.
Solusinya adalah hydrogel berbasis Collagen II yang peka suhu. Gel ini cair di dalam syringe yang dingin, lalu mengeras seperti jeli saat mencapai suhu tubuh, sehingga menjadi “gudang lokal” yang melepas lacosamide perlahan selama beberapa minggu.
Dalam uji praklinis, satu injeksi gel berisi lacosamide tiap empat minggu lebih efektif mencegah kehilangan tulang rawan dibanding minum obat oral setiap hari. Klaim ini penting karena osteoarthritis selama ini nyaris selalu diperlakukan sebagai penyakit yang dikelola harian, bukan dimodifikasi secara struktural.
Keunggulan pragmatisnya adalah lacosamide sudah disetujui untuk manusia sebagai obat epilepsi. Artinya, jalur menuju uji klinis osteoarthritis berpotensi lebih cepat dibanding molekul baru, apalagi lacosamide juga pernah diuji pada kondisi nyeri saraf tertentu terkait mutasi Nav1.7.
Terobosan ini menarik karena menantang kebiasaan lama dalam penanganan osteoarthritis: meredam nyeri sambil menerima kerusakan sebagai “takdir penuaan”. Jika Nav1.7 benar-benar menjadi saklar bersama bagi nyeri dan degenerasi, maka paradigma “simptomatik saja” bisa bergeser menuju terapi pemodifikasi penyakit.
Namun, publik perlu menahan euforia karena bukti yang disampaikan masih berada pada ranah praklinis. Banyak kandidat obat terlihat gemilang di laboratorium, tetapi tersandung saat masuk manusia karena variasi respons biologis, keamanan jangka panjang, dan kompleksitas sendi yang berbeda-beda.
Di sisi lain, gagasan menggabungkan obat lama dengan biomaterial cerdas adalah arah yang realistis. Ini bukan sekadar mencari molekul baru, melainkan mengakali “logistik tubuh” agar obat bekerja tepat sasaran, lebih lama, dan mungkin mengurangi ketergantungan pada opioid.
Jika strategi lacosamide plus hydrogel ini kelak terbukti pada pasien osteoarthritis, dampaknya bisa melampaui sekadar penghilang nyeri. Ia berpotensi menunda operasi, mengurangi efek samping sistemik, dan memberi perlindungan struktur sendi yang lebih tahan lama.
Meski demikian, pertanyaan besarnya tetap: seberapa konsisten perbaikan tulang rawan pada manusia, dan apakah manfaatnya bertahan bertahun-tahun, bukan hanya beberapa siklus injeksi. Pada akhirnya, riset ini mengajak kita merenung bahwa masa depan terapi mungkin bukan “obat paling kuat”, melainkan “obat yang paling tepat berada di tempat yang tepat”. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Oktober 2026)