Steven Chiavarone Bullish Saham AS dan Emerging Markets 2026

Pensions & Investments

Pensions & Investments

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Steven Chiavarone, calon chief investment officer-global equities Federated Hermes, terang-terangan bullish pada saham AS dan emerging markets. Di tengah pasar yang mudah panik oleh suku bunga dan geopolitik, pernyataan itu terdengar seperti taruhan besar pada dua mesin pertumbuhan paling diperdebatkan.

Rotasi kepemimpinan investasi di manajer aset besar sering dibaca sebagai sinyal perubahan selera risiko. Ketika Chiavarone menyebut AS dan emerging markets (EM) sebagai fokus, ia menempatkan diri di persimpangan antara “kualitas” pasar maju dan “pertumbuhan” pasar berkembang.

Investor global saat ini hidup dalam dua narasi yang saling tarik-menarik. Di satu sisi ada dominasi korporasi AS dan kedalaman likuiditasnya, di sisi lain ada janji demografi, konsumsi, dan industrialisasi di EM.

Namun bullish bukan sekadar optimisme, melainkan tesis yang menuntut pembuktian. Pasar AS mahal menurut sebagian metrik, sementara EM kerap dihantui risiko mata uang, utang, dan kebijakan yang berubah cepat.

Dari sisi struktur pasar, AS tetap menjadi magnet modal karena transparansi, kedalaman pasar modal, dan ekosistem inovasi. Data World Bank menunjukkan AS masih menjadi ekonomi terbesar dunia berdasarkan PDB nominal, yang memberi “daya tarik default” bagi banyak portofolio global.

Keunggulan lain adalah kualitas laba dan akses pembiayaan yang lebih stabil saat siklus mengetat. Bahkan ketika volatilitas meningkat, pasar AS sering diperlakukan sebagai tempat berlindung relatif dibanding banyak bursa lain.

Meski begitu, bullish pada AS berarti menerima risiko konsentrasi. Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja indeks sering ditopang segelintir saham berkapitalisasi raksasa, sehingga koreksi pada kelompok pemimpin bisa menyeret keseluruhan pasar.

Sementara itu, emerging markets menawarkan cerita yang berbeda: pertumbuhan jangka panjang dengan harga yang sering lebih “masuk akal”. IMF dalam World Economic Outlook beberapa tahun terakhir berulang kali menegaskan bahwa kontribusi pertumbuhan global banyak datang dari negara berkembang, meski jalurnya tidak mulus.

EM juga diuntungkan oleh pergeseran rantai pasok dan strategi “China+1” yang mendorong investasi ke Asia Tenggara, India, dan Meksiko. Jika tren ini berlanjut, laba perusahaan di sejumlah pasar EM bisa mendapat dorongan struktural, bukan sekadar siklus.

Namun EM bukan satu blok yang seragam, dan itu sering dilupakan saat orang menyebutnya sebagai “satu tema”. China, India, Brasil, Indonesia, hingga Afrika Selatan memiliki dinamika inflasi, politik, dan mata uang yang sangat berbeda, sehingga seleksi negara dan sektor menjadi penentu hasil.

Risiko terbesar EM biasanya datang dari dolar AS dan biaya pendanaan global. Ketika dolar menguat dan yield naik, arus modal bisa keluar cepat, lalu menekan mata uang dan memperburuk sentimen, meski fundamental domestik tidak selalu memburuk.

Di titik ini, posisi Chiavarone menarik karena ia menggabungkan dua kutub: AS sebagai jangkar stabilitas dan EM sebagai mesin pertumbuhan. Secara portofolio, kombinasi itu bisa dibaca sebagai upaya menyeimbangkan kualitas dengan valuasi, sekaligus mencari diversifikasi sumber laba.

Federated Hermes sendiri dikenal memiliki tradisi riset dan pendekatan berkelanjutan dalam sebagian strategi. Jika bullish itu disertai disiplin valuasi, pengelolaan risiko mata uang, dan fokus pada kualitas neraca, narasinya bisa lebih dari sekadar slogan pasar.

Yang patut diuji dari pernyataan bullish ini adalah apakah ia berbicara tentang “pasar” atau “saham-saham tertentu” di dalam pasar. Bullish pada indeks AS berbeda dengan bullish pada perusahaan yang benar-benar mampu menjaga margin di tengah biaya modal yang lebih tinggi.

Demikian pula, bullish pada emerging markets akan gagal jika diperlakukan seperti tiket lotre makro. Investor yang serius harus memandang EM sebagai kumpulan cerita mikro: bank dengan kualitas aset membaik, produsen komoditas dengan disiplin belanja modal, atau perusahaan konsumsi yang menunggangi kelas menengah.

Sudut tajamnya ada pada keberanian memilih dua wilayah yang sama-sama membawa risiko versi masing-masing. AS membawa risiko valuasi dan konsentrasi, sedangkan EM membawa risiko tata kelola, mata uang, dan guncangan politik.

Karena itu, tesis Chiavarone seharusnya dibaca sebagai undangan untuk lebih selektif, bukan lebih nekat. Optimisme yang matang selalu punya rem, dan rem itu bernama manajemen risiko serta kesediaan mengakui kapan narasi berubah.

Bullish pada saham AS dan emerging markets terdengar seperti merangkul masa depan sekaligus menantang ketakutan pasar. Tetapi masa depan di pasar modal jarang datang sebagai garis lurus, melainkan zigzag yang menguji kesabaran dan disiplin.

Jika Chiavarone benar, imbal hasil akan datang dari kemampuan membaca kualitas di AS dan menemukan pertumbuhan yang “benar” di EM. Jika ia keliru, pelajarannya tetap mahal: keyakinan tanpa kerangka bisa berubah menjadi bias.

Pertanyaan bagi investor ritel maupun institusi sederhana namun menentukan: apakah kita membeli cerita, atau membeli fundamental yang sanggup bertahan ketika cerita runtuh. Di situlah bullish diuji, bukan saat pasar naik, melainkan saat alasan untuk bertahan semakin sedikit. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)