Laser UV Ubah Cacat Berlian, NV Center Tetap Stabil

Phys.org

Phys.org

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Laser ultraviolet (UV) nanodetik kini dilaporkan mampu mengubah “cacat” atomik di berlian CVD tanpa banyak mengganggu nitrogen-vacancy (NV center) yang penting bagi komputasi kuantum. Temuan ini membuka jalan baru bagi rekayasa cacat berlian (diamond defect engineering) yang lebih selektif untuk teknologi kuantum.

Selama ini berlian dipuja karena kesempurnaan, padahal bagi fisika material, justru ketidaksempurnaan skala atomlah yang bisa memberi fungsi baru. Cacat kisi seperti NV center dapat bertindak sebagai qubit dan sensor medan magnet maupun listrik yang sangat peka.

Masalahnya, membuat atau memodifikasi satu jenis cacat sering menyeret cacat lain ikut berubah. Jika cacat-cacat itu tak bisa “dipilah”, perangkat kuantum berbasis berlian akan sulit diproduksi konsisten dan terukur.

Di titik inilah riset Emmanuel Ediri Umukoro dan kolega menjadi relevan, karena mereka menguji kontrol yang lebih presisi. Studi mereka dipublikasikan di jurnal Diamond and Related Materials dan berfokus pada pulsa laser UV 266 nanometer.

Eksperimen memakai berlian CVD kristal tunggal, lalu area tertentu disinari pulsa laser UV 266 nm berdurasi beberapa nanodetik. Durasi singkat ini dimaksudkan agar energi terkirim sangat lokal, bukan memanaskan seluruh kristal.

Sebelum penyinaran, tim memetakan kondisi awal dengan confocal photoluminescence (PL), UV-Vis absorption, dan FTIR. Langkah ini krusial karena klaim “cacat baru” rapuh jika cacat itu sudah ada sejak awal bahan.

Hasil karakterisasi menyatakan berlian CVD yang dipakai tergolong rendah nitrogen, dengan konsentrasi substitutional nitrogen sangat kecil dibanding berlian kaya nitrogen. Artinya, lanskap cacat awal relatif “bersih” untuk melihat perubahan akibat laser.

Setelah iradiasi, perubahan paling mencolok muncul pada spektrum PL di area yang disinari. Muncul emisi baru sekitar 563 nm, disertai fitur kedua sekitar 579 nm, yang dalam studi-studi sebelumnya dikaitkan dengan konfigurasi cacat terkait carbon self-interstitials.

Yang membuat temuan ini tajam bukan sekadar garis emisi baru, melainkan apa yang tidak berubah. NV center yang sudah ada sebelum iradiasi tetap menunjukkan sinyal optik yang secara umum tidak banyak berubah dibanding area kontrol.

Ini menyiratkan laser UV nanodetik dapat “mengutak-atik” satu populasi cacat tanpa memukul rata populasi cacat lain yang relevan bagi perangkat kuantum. Dalam bahasa rekayasa material, ada indikasi selektivitas, bukan perubahan masif tak terkendali.

Namun data juga menunjukkan dinamika yang tidak linier, karena emisi 563 nm tidak terus meningkat seiring paparan laser. Pada paparan lanjutan, sinyal bisa turun setelah mencapai puncak, seolah ada proses pembentukan sekaligus transformasi lanjutan.

Penjelasan mekanismenya masih terbuka, tetapi penulis mengusulkan skenario foton UV sub-bandgap berinteraksi dengan keadaan elektronik yang terkait cacat. Eksitasi lokal itu dapat mentransfer energi ke kisi dan mendorong penataan ulang atom karbon di sekitar situs cacat.

Keterbatasan pentingnya, tanda optik tidak selalu membeberkan struktur atomik secara lengkap. Emisi 563 nm dan 579 nm memang sering diasosiasikan dengan self-interstitial-related defects, tetapi konfigurasi tepatnya belum terkonfirmasi oleh pengukuran ini.

Bagi publik, “laser mengubah berlian” terdengar seperti sensasi, tetapi bagi teknologi kuantum, maknanya lebih sunyi dan lebih strategis. Nilai utama riset ini adalah gagasan bahwa lanskap cacat berlian bisa diperlakukan sebagai komponen yang dapat dipilih, bukan paket tak terpisahkan.

Di ekosistem quantum computing dan quantum sensing, NV center sudah lama menjadi bintang karena stabil dan dapat dibaca secara optik. Karena itu, kemampuan memodifikasi cacat lain sambil menjaga NV center tetap stabil adalah pesan yang lebih kuat daripada sekadar “menemukan emisi baru”.

Namun, ada garis batas yang harus dijaga agar publik tidak salah paham. Penulis sendiri menegaskan mereka tidak mengklaim pusat 563 nm atau 579 nm sebagai qubit baru yang sudah matang, melainkan sebagai bukti kontrol selektif.

Langkah berikutnya yang menentukan adalah menghubungkan parameter laser—energi, jumlah pulsa, fokus, dan waktu paparan—dengan transformasi cacat yang spesifik dan berulang. Tanpa peta sebab-akibat yang reproducible, selektivitas ini bisa berhenti sebagai fenomena laboratorium, bukan teknologi manufaktur.

Jika peta itu berhasil, implikasinya besar untuk diamond defect engineering, karena produksi perangkat kuantum menuntut konsistensi lintas wafer dan lintas batch. Di sini, laser UV nanodetik berpotensi menjadi “alat pemahat” cacat, bukan sekadar sumber kerusakan.

Riset ini menunjukkan cacat di dalam berlian dapat ditangani secara lebih selektif: emisi baru 563 nm dan 579 nm dapat dimunculkan, sementara NV center relatif tetap. Itu memberi harapan bahwa rekayasa cacat berlian untuk komputasi kuantum dan sensor kuantum tidak harus mengorbankan cacat yang sudah berguna.

Tetapi pertanyaan yang lebih dalam masih menggantung: apakah kita benar-benar memahami jalur transformasi cacatnya, atau baru melihat bayangannya lewat spektrum cahaya. Pada akhirnya, masa depan teknologi kuantum berbasis berlian mungkin ditentukan oleh kemampuan kita mengubah “ketidaksempurnaan” menjadi desain yang disengaja, bukan kebetulan eksperimen.

(Orbit dari berbagai sumber, 14 Oktober 2026)