Self-Care Digital dan Gummy Multivitamin: Tren Wellness Praktis Urban

VOI.id

VOI.id

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Self-care digital kini identik dengan kualitas tidur, stres, dan pola makan, bukan sekadar skincare. Di Jakarta, kebiasaan scrolling hingga larut dan konsumsi gula berlebih disebut ikut mempercepat masalah kulit serta menurunkan kualitas kolagen.

Era layar membuat batas antara kerja, hiburan, dan istirahat semakin kabur. Rutinitas begadang demi media sosial, ditambah diet tinggi gula, menjadi paket yang sering dianggap normal.

Padahal, dr. Yesica Tania menegaskan regenerasi kulit terjadi pada malam hari dan terganggu saat tidur tidak berkelanjutan. Ia juga mengingatkan gula berlebih dapat memicu inflamasi yang berdampak pada kolagen dan elastin.

Di level sosial, tekanan untuk selalu “update” membuat self-care sering kalah oleh tuntutan produktivitas digital. Dara Sarasvati mengakui scrolling sampai larut adalah kebiasaan untuk mencari inspirasi dan tren yang sedang viral.

Dalam literatur kesehatan, kurang tidur dan pola makan tinggi gula kerap dikaitkan dengan peradangan tingkat rendah (low-grade inflammation). Kondisi ini bukan selalu terasa akut, tetapi dapat memengaruhi pemulihan tubuh, termasuk kualitas kulit.

Kurang tidur juga berkaitan dengan naiknya hormon stres dan terganggunya ritme sirkadian, yang berperan pada proses perbaikan jaringan. Di titik ini, self-care berubah dari urusan estetika menjadi isu kesehatan harian.

Namun pasar sering menawarkan jalan pintas: solusi praktis yang “terasa ringan” untuk gaya hidup serba cepat. Sisca Rachmadita dari Kalbe Consumer Health menyebut publik menginginkan wellness yang tidak terasa membebani, melainkan menyatu dengan lifestyle.

Peluncuran ZEGAVIT Gummy Multivitamin di BeautyFest Asia 2026 menangkap sinyal tersebut. Produk ini diposisikan sebagai kebiasaan kecil yang mudah dilakukan, melalui format gummy yang lebih menyenangkan untuk konsumsi harian.

ZEGAVIT memperkenalkan dua varian utama, salah satunya Immu’NFit dengan ginseng untuk membantu menjaga daya tahan tubuh. Kampanye “Radiate Your Glow” menggeser narasi dari kewajiban kesehatan menjadi pengalaman yang membuat orang merasa percaya diri dan “glowing” dari dalam.

Di sisi lain, pendekatan “wellness yang menyenangkan” menyimpan tantangan: publik bisa mengira suplemen cukup menggantikan tidur dan pola makan. Risiko terbesar bukan pada produk, melainkan pada ilusi bahwa kesehatan dapat diringkas menjadi satu kebiasaan instan.

Self-care digital seharusnya dibaca sebagai negosiasi antara tubuh dan ekosistem teknologi, bukan sekadar tren kecantikan. Jika layar membuat kita menunda tidur, maka yang perlu dibenahi pertama kali adalah struktur kebiasaan, bukan hanya lapisan perawatan.

Kutipan dr. Yesica tentang tidur dan gula menegaskan akar masalah ada pada ritme hidup yang timpang. Dara juga menunjukkan realitas generasi kreator: tuntutan relevansi sering mengalahkan kebutuhan biologis.

Di titik ini, gummy multivitamin tampil sebagai simbol zaman: praktis, cepat, dan fun. Ia bisa membantu kepatuhan konsumsi nutrisi tertentu, tetapi tetap harus ditempatkan sebagai pelengkap, bukan penebus gaya hidup yang merusak.

Karena itu, redefinisi self-care yang paling jujur adalah yang berani menolak normalisasi begadang. Glow yang tahan lama biasanya lahir dari keputusan kecil yang konsisten, terutama tidur cukup, makan lebih seimbang, dan jeda dari layar.

Self-care digital bukan soal menambah daftar rutinitas, melainkan mengurangi hal-hal yang diam-diam menguras tubuh. Jika wellness dibuat lebih mudah dan menyenangkan, itu baik, selama tidak mengaburkan fondasi utama: tidur, makan, dan manajemen stres.

Pertanyaannya kini sederhana tetapi tajam: kita sedang merawat diri, atau sekadar menenangkan rasa bersalah dengan solusi praktis. Pada akhirnya, kebiasaan kecil yang paling “glowing” mungkin bukan gummy atau skincare, melainkan keberanian mematikan layar lebih cepat. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juni 2026)