Ali Samudra: Makna Kontemplatif dalam Berselawat

Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin - Jakarta Timur. **

Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin - Jakarta Timur. **

Opini

Oleh Ali Samudra

ORBITINDONESIA.COM - Pernahkah kita bertanya: ketika kita mengucapkan Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, apa yang sebenarnya terjadi dalam kesadaran kita? Apakah hanya lidah yang bergerak, atau ada sesuatu yang ikut bergerak jauh di dalam hati?

Kita mungkin telah begitu terbiasa berselawat sehingga kalimat itu meluncur dengan mudah dari bibir. Kita mengucapkannya setelah azan, dalam tahiyat, ketika berdoa, di majelis Maulid, atau ketika nama Muhammad SAW disebut.

Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sesungguhnya kita rasakan ketika nama Muhammad SAW kita sebut?

Kemulian Akhlak Muhammad SAW

Jauh sebelum menerima wahyu, Muhammad SAW telah dikenal masyarakat Mekah sebagai Al-Amin, ini sangat menarik karena reputasi beliau sebagai manusia yang jujur dan dapat dipercaya sudah terbentuk sebelum menjadi Rosul.

Maka ketika seorang muslim beselawat, ia sebenarnya sedang mengingat seorang manusia yang bukan hanya diicintai karena kenabiannya, tetepi juga dipercaya karena integtitas pribadinya.

Al-Qur'an memberikan kesaksian yang sangat kuat dalam Surat Al-Qalam [68] ayat 4

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Ketika Penderitaan Tidak Mengubah Akhlak

Ada satu ungkapan yang masyhur dalam tradisi sirah tentang keteguhan Nabi SAW ketika menghadapi tekanan kaum Quraisy:

“Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini, aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkan perkara ini atau aku binasa karenanya.”

Ungkapan ini sering dikenang sebagai gambaran keteguhan Nabi dalam memegang amanah risalah. Ia menggambarkan seorang manusia yang telah menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada kenyamanan dirinya sendiri.

Di sinilah kontemplasi terhadap sirah mulai menjadi cermin. Kita tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang dilakukan Nabi?”, tetapi mulai bertanya, “Apa yang akan kulakukan jika aku berada dalam keadaan seperti itu?”

Merasakan, Bukan Sekadar Mengetahui

Ketika kita membaca kisah Thaif misalnya, kita tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang terjadi. Kita bertanya: bagaimana rasanya ditolak ketika kita datang membawa kebaikan?

Ketika mengingat kehilangan orang-orang yang dicintai Nabi, kita bertanya: bagaimana seorang manusia melanjutkan amanah ketika tempat ternyaman untuk pulang telah tiada?

Dan ketika mengingat bagaimana beliau menghadapi orang-orang yang pernah memusuhinya saat Futuh Makkah, kita bertanya: apa yang terjadi pada diri kita ketika berada dalam posisi yang lebih kuat daripada orang yang dahulu menyakiti kita?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat sirah tidak lagi berada jauh di belakang kita. Sirah masuk ke dalam kehidupan kita dan perlahan menjadi cermin.

Nabi yang Merasakan Penderitaan Manusia

Al-Qur'an menggambarkan kedalaman kepedulian Rasulullah SAW dengan ungkapan yang sangat menyentuh:

عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ

Berat terasa olehnya penderitaanmu...” (QS At-Taubah [9]:128)

Kemudian Allah menggambarkan beliau sebagai orang yang sangat menginginkan keselamatan manusia dan penuh kasih sayang kepada orang-orang beriman. Ini menunjukkan bahwa kenabian Muhammad SAW bukan hanya tentang menyampaikan ajaran, tetapi juga tentang merasakan kemanusiaan.

Beliau membawa rahmat, bukan kebencian. Al-Qur'an menegaskan:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

(QS Al-Anbiya [21]:107)

Rahmat bukan sekadar kelembutan. Rahmat adalah orientasi batin yang menginginkan kebaikan bagi kehidupan manusia.

Karena itu, ketika kita berselawat, pertanyaannya bukan hanya apakah kita mencintai Muhammad SAW. Pertanyaan yang lebih dalam adalah: apakah kehadiran kita juga membawa rahmat bagi orang-orang di sekitar kita?

Selawat dan Ingatan Umat

Kita mengenal begitu banyak karya yang lahir dari kecintaan umat Islam kepada Rasulullah SAW: Barzanji, Diba'i, Simthud Durar, dan Qasidah al-Burdah, di antara karya-karya yang telah lama hidup dalam tradisi keagamaan umat Islam.

Karya-karya itu menunjukkan bahwa kecintaan kepada Nabi tidak berhenti pada pengetahuan tentang sejarah. Cinta mencari jalan keluar melalui bahasa, puisi, doa, irama dan selawat.

Sejarah Muhammad SAW kemudian tidak hanya tersimpan dalam kitab-kitab sirah. Ia hidup dalam ingatan kolektif umat, dilantunkan di masjid dan majelis, diajarkan kepada anak-anak, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Empat belas abad telah berlalu, generasi berganti, peradaban berubah, tetapi nama Muhammad SAW tetap hidup di bibir manusia. Yang hidup bukan sekadar namanya, tetapi nilai dan makna yang dibawa oleh namanya.

Jika Setiap Selawat Adalah Sebuah Titik

Jika setiap selawat adalah sebuah titik, maka titik-titik itu perlahan membentuk sebuah garis kesadaran. Ia menghubungkan kita dengan Muhammad SAW, menghubungkan kita dengan sirah dan perjuangannya, lalu membawa kita kembali kepada diri sendiri.

Titik pertama mungkin hanya sebuah ucapan dari lidah. Titik berikutnya menjadi ingatan, ingatan melahirkan rasa, rasa melahirkan kontemplasi, dan kontemplasi membuka kemungkinan perubahan.

Dengan demikian, selawat bukan hanya cara kita mengingat Nabi. Ia dapat menjadi cara untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang mungkin telah lama redup dalam diri kita.

Selawat sebagai Syukur

Al-Qur'an berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab [33]:56)

Ayat ini merupakan fondasi utama selawat. Allah mengabarkan bahwa Dia dan para Malaikat berselawat kepada Nabi, kemudian orang-orang beriman diperintahkan untuk berselawat dan mengucapkan salam.

Di dalamnya terdapat kesadaran bahwa Muhammad SAW adalah salah satu karunia terbesar Allah bagi manusia. "Allah berfirman bahwa Dia telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman dengan mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri." (QS Ali 'Imran [3]:164).

Maka selawat dapat menjadi salah satu bentuk syukur kita kepada Allah. Kita bersyukur karena melalui Rasulullah SAW kita mengenal Al-Qur'an, mengenal ibadah, mengenal akhlak, dan menemukan jalan untuk mendekat kepada Allah.

Dari Syukur Menuju Amanah

Rasulullah SAW telah menyampaikan risalah. Al-Qur'an menggambarkan tugas beliau: membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan manusia, serta mengajarkan Kitab dan hikmah (QS Al-Jumu'ah [62]:2).

Risalah itu tidak berhenti ketika Rasulullah SAW wafat (571-632 M). Nilai-nilainya menjadi amanah yang harus dijaga oleh generasi setelahnya.

Maka ketika kita berselawat, semestinya ada satu pertanyaan yang ikut tumbuh: apakah kita hanya mewarisi tradisi berselawat, atau juga mewarisi amanah yang diperjuangkan oleh Rasulullah SAW?

Menemukan Kembali yang Hilang Dari Diri Kita

Pada akhirnya kita kembali kepada pertanyaan pertama: apa yang sebenarnya hilang dari diri kita?

Mungkin ketenangan. Mungkin kesabaran, kejujuran, rahmah, rasa syukur, atau hubungan yang lebih dalam dengan Allah.

Mungkin pula yang hilang adalah kemampuan untuk berhenti sejenak dari kebisingan dan mendengarkan kembali suara hati.

Ketika kita berselawat dengan kesadaran, kita menyebut Muhammad SAW. Kita mengingat perjuangannya, merasakan ketabahannya, merenungkan akhlaknya, lalu perlahan melihat diri kita sendiri.

Kita mulai bertanya: apakah aku sudah menjadi manusia seperti yang diinginkan oleh risalah yang dibawa Nabi?

Itulah salah satu makna kontemplatif dalam berselawat. Kita menyebut Muhammad SAW, tetapi melalui beliau kita belajar kembali tentang manusia, tentang akhlak, tentang rahmat, tentang amanah, dan akhirnya tentang Allah.

Karena itu, selawat bukan hanya cara agar kita mengingat Muhammad SAW. Selawat adalah jalan agar kita tidak kehilangan makna Muhammad SAW dalam kehidupan kita hari ini.***

Jakarta, 1 September 2026/19 Robiul Awal

Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin - Jakarta Timur. **