Fitur AI Firefox Smart Window Tarik Info Web Terkini

The Verge

The Verge

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Fitur AI Firefox Smart Window kini bisa menarik informasi web terkini dan menampilkan tautan sumber di jawaban chat melalui kemitraan dengan Exa. Mozilla juga menambahkan saran pengelompokan tab dan pratinjau visual halaman lama saat pengguna menelusuri riwayat dengan bahasa alami.

Terjemahan akurat artikel sumber: Mulai hari ini, chat AI di mode penjelajahan Smart Window AI Firefox dapat mengambil informasi web terkini dan menampilkan tautan sumber dalam respons chat melalui kemitraan dengan Exa. Smart Window juga kini dapat otomatis menyarankan grup tab dan menampilkan pratinjau visual halaman yang pernah Anda kunjungi saat Anda mencari riwayat penjelajahan dengan bahasa alami.

Saya melihat demo langsung yang menunjukkan bagaimana AI Smart Window dapat memilah tautan terpilih di riwayat penjelajahan Anda untuk memunculkan “sepatu lari yang saya lihat minggu lalu,” lalu menampilkan gambar yang diambil dari situs yang sebelumnya dibuka. Grup tab yang disarankan juga bisa menemukan dan menutup duplikasi, sehingga lebih mudah melacak apa yang penting.

Alih-alih sekadar membuat AI menyajikan hasil baru dari pencarian dan penjelajahan, fitur ini memilah apa yang sudah Anda lihat dan menambahkan sitasi untuk hasil yang diambil dari Exa. Dalam posting blog yang mengumumkan pembaruan, disebutkan bahwa ini dapat membantu Anda memeriksa jawaban atau menemukan kembali posisi Anda.

Ini terutama berguna jika Anda ingat isi sebuah halaman meski tidak ingat halaman yang mana. Saya perlu mencobanya untuk mengetahui seberapa berguna itu, tetapi Mozilla mengatakan pengguna beta merasa fitur ini membantu mereka menjaga alur pikir dengan lebih baik.

Pembaruan mendatang akan menambahkan fitur seperti Chrome yang menampilkan kembali perjalanan penjelajahan terbaru, serta autofill formulir online berbasis AI. Smart Window masih merupakan fitur beta yang harus diaktifkan secara sukarela, dan kepala Firefox Mozilla, Ajit Varma, mengatakan kepada The Verge bahwa belum ada “tanggal pasti” kapan fitur ini keluar dari beta.

Fitur ini awalnya diumumkan tahun lalu sebagai “AI Window,” sebuah mode penjelajahan di Firefox dengan fitur AI seperti mencari tab yang terbuka atau riwayat peramban menggunakan bahasa alami. Sejak itu, Mozilla menambahkan bagian AI Controls baru di pengaturan Firefox sehingga pengguna dapat mematikan semua fitur AI atau memilih mana yang tetap aktif.

Varma mengatakan Mozilla mencoba mengambil pendekatan “agnostik” terhadap AI di Firefox, dengan menawarkan fitur seperti Smart Window bagi yang menginginkannya tanpa memaksa semua orang memakainya. “Mereka tidak membuat peramban agar Anda lebih sering ke Wikipedia; mereka membuat peramban agar Anda menghasilkan lebih banyak kueri LLM dan chat. Sedangkan kami, kami lebih melihat pengalaman peramban, pengalaman pengguna.”

Pengguna dapat memilih model AI yang ingin digunakan di Smart Window, termasuk Google Gemini 3.1 Flash Lite, OpenAI oss-gpt-120b, Alibaba Qwen3-235B-A22B-Instruct-2507, atau model AI lokal milik mereka sendiri. “Kami ingin memastikan ada kemungkinan kedaulatan digital, sehingga Anda bisa memilih AI lokal dan AI dari perusahaan yang mungkin berbasis di wilayah Anda dan memiliki pandangan berbeda dari perusahaan teknologi besar,” kata Varma.

Manajer produk staf senior Firefox AI, Steve Truong, mengatakan model yang dapat dipilih pengguna “semuanya diikat kontrak tanpa retensi data (zero-data-retention).” Ia menegaskan pihak ketiga yang menyediakan inferensi atau panggilan API hanya memproses prompt pengguna di memori dan tidak menyimpan apa pun untuk melatih model, mendukung iklan, atau memungkinkan tinjauan manusia.

Ia menambahkan Mozilla juga tidak menyimpan chat pengguna di server tanpa izin pengguna untuk pelatihan model, karena Mozilla tidak membuat model, dan tentu bukan untuk tinjauan manusia maupun iklan. “Kami ingin memastikan orang mudah mengatur Firefox sesuai yang mereka inginkan, tetapi kami juga tidak ingin bersikap menggurui seolah hanya ada satu cara,” kata Varma.

Varma menyebut Mozilla memosisikan diri sebagai pihak netral di internet dan ingin melayani semua orang. Pendekatan “user-first, user-centric” ini termasuk menambah fitur berdasarkan masukan, misalnya Mozilla menambahkan bilah navigasi atas di Smart Window setelah pengguna memintanya.

Dalam lanskap browser 2026, kata kunci “AI browser” dan “Firefox Smart Window” makin sering dicari karena pengguna ingin pencarian lebih cepat dan ringkas. Mozilla menjawab tren itu dengan menggabungkan chat AI, penelusuran riwayat berbasis bahasa alami, dan sitasi sumber melalui Exa.

Perubahan pentingnya bukan sekadar AI yang “mengambil dari internet,” melainkan AI yang menata ulang memori penjelajahan pengguna. Demo “running shoes I looked at last week” menunjukkan arah baru: browser menjadi arsip aktif yang bisa ditanya seperti asisten.

Fitur saran grup tab dan penutupan duplikasi menyasar masalah klasik: tab overload. Ini bukan inovasi glamor, tetapi dampaknya nyata pada produktivitas, karena beban kognitif pengguna sering runtuh di level manajemen tab.

Yang paling strategis ialah penambahan tautan sumber dalam jawaban chat, karena ini menyentuh isu kredibilitas AI. Sitasi memberi jejak verifikasi, sekaligus mengurangi risiko halusinasi yang selama ini membuat publik ragu pada jawaban model bahasa.

Namun, sitasi tidak otomatis berarti akurat, karena kualitas tetap bergantung pada pemilihan sumber dan cara ringkasan dibuat. Jika Exa mengindeks web dengan bias tertentu, maka “kebenaran” yang tampil bisa tetap sempit, meski terlihat rapi dan berreferensi.

Mozilla juga menonjolkan opsi memilih model: Gemini, oss-gpt-120b, Qwen, hingga model lokal. Ini menempatkan Firefox sebagai “platform AI” yang lebih lentur, bukan satu ekosistem tertutup yang memaksa satu model untuk semua kebutuhan.

Klaim kontrak zero-data-retention yang disebut Steve Truong adalah jawaban atas kekhawatiran privasi, terutama untuk prompt yang sering berisi konteks personal. Tetapi publik tetap perlu menguji batasnya: apa yang dianggap “tidak disimpan,” bagaimana logging teknis berjalan, dan bagaimana audit independen dilakukan.

Status beta opt-in juga penting, karena mengurangi risiko pengguna “terseret” ke AI tanpa persetujuan. Di saat banyak produk mendorong AI sebagai default, Mozilla memilih jalur lebih hati-hati, meski konsekuensinya adopsi bisa lebih lambat.

Rencana fitur “browsing journeys” mirip Chrome menandakan Mozilla mengakui bahwa riwayat bukan lagi daftar URL, melainkan narasi aktivitas. Jika digabung dengan autofill AI, browser akan makin dalam masuk ke wilayah data sensitif, sehingga standar keamanan harus naik kelas.

Pendekatan “agnostik” Mozilla terdengar ideal: AI sebagai pilihan, bukan paksaan. Tetapi netralitas di internet bukan hanya soal memberi opsi, melainkan memastikan opsi itu benar-benar dapat dipahami pengguna awam.

Di titik ini, tantangannya adalah literasi: pengguna perlu tahu kapan memakai model cloud dan kapan memakai model lokal. Jika tidak, “kedaulatan digital” bisa berubah menjadi slogan, sementara perilaku pengguna tetap menyerahkan data ke pihak yang paling mudah.

Saya melihat Smart Window berpotensi menjadi pembeda Firefox, karena ia menempatkan AI untuk mengurai kebiasaan pengguna sendiri, bukan sekadar menambah mesin pencari baru. Ini lebih dekat ke pengalaman “mencari ingatan” daripada “mencari web,” dan itu terasa manusiawi.

Tetapi ada sisi gelapnya: ketika browser makin pandai menebak maksud, pengguna bisa makin pasif dan menerima ringkasan tanpa membuka sumber. Jika kebiasaan itu tumbuh, web yang terbuka bisa berubah menjadi web yang hanya “dicerna” oleh AI, lalu disuapkan kembali.

Karena itu, keputusan menampilkan tautan sumber harus dipertahankan sebagai prinsip, bukan fitur tambahan. Browser yang sehat seharusnya mendorong klik balik ke sumber, bukan memonopoli perhatian di jendela chat.

Firefox Smart Window menunjukkan bahwa masa depan “AI di browser” tidak harus identik dengan pengumpulan data dan penguncian ekosistem. Dengan sitasi, opsi model, dan kontrol AI, Mozilla mencoba menegosiasikan inovasi tanpa mengorbankan otonomi pengguna.

Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan: apakah pengguna akan memakai AI untuk berpikir lebih jernih, atau justru menyerahkan proses berpikir pada ringkasan instan. Jika browser adalah pintu ke pengetahuan, maka kunci utamanya tetap ada pada kebiasaan kita sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Agustus 2026)