Nadhera Mohammad Qassem: Perang Iran Memecah Belah Umat Muslim di Filipina

Oleh Nadhera Mohammad Qassem

ORBITINDONESIA.COM - Perang AS-Israel di Iran dan penutupan Selat Hormuz telah menimbulkan dampak yang sangat besar di seluruh dunia. Di Asia Tenggara, perekonomian lumpuh akibat kekurangan minyak, gas petroleum cair, dan produk-produk penting lainnya yang biasanya diekspor melalui selat tersebut.

Filipina adalah negara pertama yang mendeklarasikan keadaan darurat sebagai akibatnya, tetapi hal itu tidak banyak membantu mengurangi kekurangan. Negara ini telah menyaksikan protes berulang kali terhadap lonjakan harga.

Namun dampak perang Iran tidak hanya terbatas pada bidang sosial ekonomi. Konflik ini juga memengaruhi komunitas Muslim di negara ini, khususnya di Wilayah Otonomi Bangsamoro. Hal ini memperdalam polarisasi di antara para cendekiawan Islam setempat, mengancam kohesi komunitas.

Ketika perang dimulai, reaksi di media sosial dan di depan umum sangat cepat. Secara umum, muncul dua kubu. Satu kubu mendukung tindakan pembalasan Iran terhadap Amerika Serikat dan penargetan pangkalan-pangkalan di negara-negara tetangga.

Misalnya, seorang anggota komunitas Muslim menulis dalam sebuah unggahan media sosial bahwa doa-doa umat Muslim untuk Gaza dikabulkan melalui kekuatan dan pembalasan Iran terhadap Israel; yang lain menulis bahwa Teheran berperan penting dalam memulihkan rasa hormat dan martabat umat Muslim yang telah hancur.

Kubu lainnya menentang Iran, dengan menunjukkan bahwa Iran adalah negara Syiah dan oleh karena itu bermusuhan dengan komunitas Sunni.

Seorang cendekiawan dari kubu ini berbagi pandangan bahwa kaum Syiah mirip dengan Zionis, menggambarkan kaum Syiah sebagai musuh yang halus dan Zionis sebagai musuh yang terlihat.

Dinamika perbedaan perspektif ini bukanlah hal baru di kalangan cendekiawan Islam Bangsamoro. Pola perpecahan yang semakin terlihat muncul setelah Perjanjian Abraham menetapkan hubungan diplomatik antara Israel dan beberapa negara Arab.

Ketidaksepakatan mengenai isu geopolitik di Timur Tengah seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini juga menyebabkan perpecahan mengenai isu Palestina.

Penting untuk dicatat di sini bahwa Filipina memiliki sejarah panjang solidaritas dengan Palestina. Demonstrasi yang diselenggarakan oleh aktivis Muslim dan non-Muslim, dari tingkat lokal hingga nasional, telah terjadi secara teratur.

Namun, setelah proses normalisasi, muncul pernyataan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari beberapa cendekiawan Bangsamoro yang menggambarkan mobilisasi untuk Palestina sebagai konspirasi Iran.

Mereka berpendapat bahwa gerakan perlawanan Palestina adalah sekutu Iran dan oleh karena itu merupakan kelompok yang menyimpang dan alat politik kekuasaan Syiah.

Ketika Hamas melakukan serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, bentrokan narasi semakin dalam. Beberapa cendekiawan menggemakan narasi media Barat dan pro-Zionis. Mereka menggambarkan serangan itu sebagai peristiwa tunggal dan mengabaikan penindasan yang telah berlangsung selama beberapa dekade terhadap Palestina oleh rezim kolonial Israel. Kubu lainnya mendukung perlawanan Palestina.

Meskipun para cendekiawan Islam terlibat dalam bentrokan narasi ini, ini bukan sekadar debat teologis tetapi manifestasi dari keterkaitan politik dan agama.

Di era pascakolonial, adalah hal yang wajar jika politik dan agama saling terkait dalam berbagai cara. Namun, dalam konteks Bangsamoro, di mana otoritas pusat masih rapuh, kekuatan eksternal dan kerangka kerja politik-teologis dominan dari negara-negara Arab semakin diimpor ke dalam wacana lokal.

Hal ini sebagian besar karena beberapa cendekiawan, yang berpihak pada posisi anti-Iran, dididik di negara-negara Teluk tertentu. Dinamika ini memengaruhi konteks lokal, mencerminkan kecenderungan khas di mana siswa yang dididik dalam sistem pendidikan yang cenderung otoriter mereproduksi ideologi yang selaras dengan negara tersebut setelah kembali ke negara asal mereka.

Kisah yang terus berlanjut ini memiliki konsekuensi internal yang signifikan.

Pertama, keterkaitan agama dan politik seperti yang dipraktikkan oleh para cendekiawan Muslim dengan pengikut media sosial yang besar menciptakan asumsi tidak langsung di antara pengikut mereka bahwa para cendekiawan ini memiliki otoritas yang dapat diandalkan dalam domain geopolitik, meskipun mungkin tidak demikian.

Hal ini bertentangan dengan prinsip Al-Quran tentang meminta nasihat dari orang-orang yang berilmu, "ahl al dhikr". Prinsip tersebut menunjukkan sifat distributif pengetahuan: bahwa tidak ada manusia yang memiliki otoritas tunggal atas pengetahuan yang menyeluruh.

Kedua, bentrokan ini telah menyebabkan semakin dalamnya polarisasi di antara para cendekiawan Muslim di wilayah yang sedang menghadapi transisi pasca-konflik yang rapuh.

Sejak tahun 1970-an, umat Muslim di Filipina selatan telah berjuang dan memperjuangkan penentuan nasib sendiri, dan sekarang mereka menghadapi situasi kompleks yang menuntut identitas yang kuat dan bersatu. Polarisasi ini melemahkan pembentukan identitas yang kohesif dalam konteks politik yang sudah rapuh.

Ketiga, beberapa cendekiawan mengambil pandangan ekstrem terhadap pihak lawan, melabeli mereka sebagai "penyimpang". Cara berpikir seperti ini dapat menyebabkan radikalisasi.

Untuk mengatasi situasi ini, ada beberapa pertimbangan yang harus dibuat.

Pertama, perbedaan dalam ranah wacana harus ditangani berdasarkan alasan etika, bukan dengan mencerca orang lain yang tidak kita setujui hanya karena mereka berbeda pendapat politik dengan kita. Salah jika melabeli seseorang sebagai "penyimpang" karena memiliki pendapat politik yang berbeda.

Kedua, ketika membahas masalah Palestina dan perang AS-Israel di Timur Tengah, penting untuk mengingat latar belakang kita sendiri. Bangsamoro memiliki warisan sejarah dalam melawan sistem penindasan dan ketidakadilan. Tetap berkomitmen pada kemanusiaan kita berarti menentang ketidakadilan di tempat lain di dunia.

Ketiga, wacana yang memecah belah tentang isu-isu luar negeri dapat merusak kohesi komunitas dan pemikiran kritis yang dibutuhkan untuk masa depan persatuan dan penentuan nasib sendiri.

Komunitas Muslim di Bangsamoro tidak boleh terpengaruh oleh narasi yang memecah belah dan harus mendasarkan keyakinan mereka pada Islam serta sejarah dan identitas mereka sendiri. #

Nadhera Ditucalan Mohammad Qassem memegang gelar PhD dalam Ilmu Politik dari Universitas Islam Internasional Malaysia. Penelitiannya mengkaji Islam dan politik di Timur Tengah dan minoritas Muslim di Filipina, dengan fokus pada dinamika yang saling terkait antara pasca-kolonialitas, postmodernisme, dan modernitas. ***