AI Wearable dan Gadget AI: Kalung Pintar hingga Ring Perekam

TechCrunch

TechCrunch

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – AI wearable dan gadget AI kini membanjiri pasar, dari kalung yang merekam percakapan sampai cincin untuk mencatat ide. Kata kuncinya sederhana namun mengusik: perangkat ini “selalu mendengar” agar bisa membantu, tetapi juga berpotensi mengubah privasi menjadi fitur berbayar.

Gelombang perangkat “personal AI” muncul ketika publik makin bergantung pada asisten cerdas untuk kerja, catatan, dan pengingat. Bedanya, generasi baru ini tidak hanya menunggu perintah, melainkan aktif merekam rutinitas dan percakapan harian.

Di atas kertas, ini menjanjikan produktivitas dan dukungan emosional dalam bentuk kalung, gelang, ring, dan gawai genggam. Namun di balik desain ringkas, ada pertanyaan lama yang kembali tajam: data suara siapa yang dikumpulkan, disimpan, dan dimonetisasi.

Artikel sumber menempatkan perangkat-perangkat ini sebagai upaya membawa AI “ke kehidupan sehari-hari seperti belum pernah terjadi sebelumnya.” Bahkan OpenAI disebut sedang menyiapkan perangkat pendamping AI berukuran ringkas, menandakan perlombaan belum akan melambat.

Fenomena ini juga didorong oleh model bisnis langganan, bukan sekadar harga perangkat. Pengguna membeli perangkat, lalu membayar akses transkripsi, ringkasan, dan memori AI tiap bulan.

Di daftar yang sama, ada perangkat murah seperti Bee seharga US$49,99, hingga cincin Sandbar Stream yang diproyeksikan US$299. Rentang harga ini memperlihatkan pasar sedang menguji apakah “AI yang menempel di tubuh” akan menjadi kebutuhan massal atau sekadar tren premium.

Yang paling konsisten dari semuanya adalah janji: AI akan mengingat agar manusia bisa melupakan. Tetapi ketika mesin mengingat terlalu banyak, manusia justru kehilangan ruang untuk tidak terdokumentasi.

Bee diposisikan sebagai opsi terjangkau yang merekam semua yang didengarnya, lalu membuat pengingat dan catatan berdasarkan rutinitas pengguna. Perangkatnya US$49,99, tetapi aplikasi pendamping iOS mensyaratkan langganan US$19 per bulan untuk interaksi dan ringkasan harian.

Amazon mengakuisisi startup wearables ini pada Juli 2025 dan langsung merilis Bee Frontier (US$74,99) serta Bee Eclipse (US$99,99). Keduanya mempertahankan fungsi inti dan menawarkan opsi koneksi ke Alexa, yang memperkuat ekosistem Amazon di ranah suara.

Friend adalah contoh perangkat yang menjual “kedekatan,” bukan sekadar catatan. Liontin putih US$129 ini mengklaim membaca nada dan suasana hati, lalu mengirim pesan proaktif seperti dukungan sebelum wawancara.

Namun Friend juga memicu reaksi sosial, termasuk vandalisme iklan kereta bawah tanah di New York dengan coretan “surveillance capitalism.” Perusahaan merespons dengan “Friend 2.0,” menambah speaker internal agar perangkat bisa berbicara lebih ekspresif dan terasa lebih “berkepribadian.”

Limitless, yang sebelumnya bernama Rewind, menargetkan pasar profesional dengan liontin perekam percakapan seharga US$99. Ia mentranskrip rapat, panggilan, dan obrolan (dengan persetujuan) menjadi pengetahuan yang bisa dicari dan diringkas.

Modelnya menegaskan pola industri: 10 jam fitur AI per bulan disertakan, lalu “tak terbatas” dibuka dengan US$29 per bulan. Di sini, memori dan ringkasan bukan fitur perangkat, melainkan meteran layanan.

Meta ikut masuk lewat Muse Charm, wearable AI yang belum dikirim namun dijanjikan membawa avatar digital “Jolly” di layar mini. Formatnya saku atau gantungan kunci, menandakan AI akan dikemas sebagai karakter yang akrab, bukan antarmuka yang kaku.

Nirva mengambil jalur berbeda dengan fokus “pertumbuhan diri,” bukan produktivitas rapat. Perangkat US$249 ini dipakai sebagai liontin atau gelang, mendengarkan ucapan pengguna dan mengubah pengalaman harian menjadi jurnal pribadi untuk membaca pola emosi dan kebiasaan.

Omi menawarkan paket fitur yang agresif di harga US$89: tanya jawab, ringkasan percakapan, to-do list, hingga penjadwalan rapat. Ia disebut terus mendengarkan dan menjalankan percakapan melalui ChatGPT agar mampu mengingat konteks dan memberi saran personal.

Yang paling ekstrem, Omi bisa ditempel di sisi kepala dengan plester medis dan mendeteksi kapan pengguna berbicara kepadanya. Ini menggeser batas: dari wearable yang “dipakai” menjadi perangkat yang “menempel” untuk menangkap sinyal komunikasi.

Plaud NotePin (US$159) menegaskan segmen perekam suara untuk pekerjaan serius, dengan transkripsi dan ringkasan AI bagi pengacara, jurnalis, dan mahasiswa. Ia menyertakan 300 menit transkripsi gratis per bulan, lalu paket Pro US$8,33 per bulan menaikkan menjadi 1.200 menit.

Plaud juga bersiap meluncurkan Plaud Note Pro seharga US$179 yang lebih tipis dan sudah bisa dipesan. Ini menunjukkan pasar note-taking AI masih tumbuh, terutama bila perangkat mengurangi beban “mencatat manual” dan menyimpan rekaman real time ke ponsel.

Rabbit R1 mengambil bentuk gawai genggam bergaya retro dengan layar sentuh dan kamera berputar, dibanderol US$199. Ia dirancang “phone-adjacent,” untuk memesan penerbangan, makanan, dan mengontrol aplikasi tanpa sering mengeluarkan ponsel.

Setelah pembaruan perangkat lunak yang memperbaiki masalah performa awal, Rabbit R1 menambah fitur “Creations” untuk membuat alat dan gim sendiri. Ini mengisyaratkan arah baru: perangkat AI bukan cuma asisten, tetapi platform mini untuk eksperimen pengguna.

Sandbar Stream ring mencoba memasukkan AI ke bentuk yang paling halus: cincin. Mikrofon default-nya mati dan diaktifkan lewat panel sentuh, lalu pengguna bisa merekam catatan, berbicara dengan asisten AI via aplikasi, dan mengontrol musik.

Harga yang diharapkan US$299 dengan opsi perak dan emas memperlihatkan dua pasar sekaligus: utilitas dan fesyen. Ketika AI menjadi perhiasan, penerimaan sosial mungkin meningkat, tetapi risiko “rekaman tak terlihat” juga ikut naik.

Pasar AI wearable sedang menjual ilusi yang terdengar manusiawi: perangkat yang mendengar agar kita merasa didengar. Tetapi kemampuan “selalu mendengar” adalah fitur yang sama yang membuatnya rentan menjadi alat pengawasan mikro di level paling intim.

Kontroversi Friend di New York memperlihatkan publik tidak bodoh terhadap bahasa pemasaran. Ketika orang menulis “surveillance capitalism,” mereka sebenarnya menolak normalisasi rekaman pasif sebagai gaya hidup.

Masalahnya bukan hanya apakah perangkat punya tombol mute, melainkan apakah pengguna paham konsekuensi saat tombol itu tidak ditekan. Dalam kehidupan nyata, percakapan sering terjadi spontan, dan persetujuan orang lain untuk direkam tidak selalu praktis diminta.

Model langganan mengubah memori menjadi komoditas bulanan, sehingga “mengingat” terasa seperti layanan premium. Ini bisa menciptakan ketergantungan: berhenti berlangganan berarti kehilangan akses pada ringkasan, pencarian, bahkan konteks diri sendiri.

Di sisi lain, nilai praktisnya nyata untuk profesi tertentu, terutama jurnalis, pengacara, dan mahasiswa. Perangkat seperti Limitless atau Plaud NotePin menawarkan penghematan waktu dan mengurangi kesalahan catatan, selama tata kelola data dan etika perekaman dipatuhi.

Yang paling mengkhawatirkan adalah pergeseran budaya: dari “mencatat saat perlu” menjadi “merekam agar selalu siap.” Jika semua momen berpotensi diproses AI, maka ruang untuk lupa, salah ucap, dan menjadi manusia apa adanya makin menyempit.

Karena itu, pertanyaan kuncinya bukan “seberapa pintar AI wearable,” melainkan “siapa yang berkuasa atas rekaman.” Tanpa transparansi penyimpanan, enkripsi, retensi data, dan kontrol ekspor-hapus, perangkat ini berisiko menjadi arsip berjalan milik perusahaan.

AI wearable dan gadget AI sedang bergerak dari aksesori produktivitas menjadi pendamping hidup, bahkan pendamping emosi. Daftar perangkat seperti Bee, Friend, Limitless, Muse Charm, Nirva, Omi, Plaud, Rabbit R1, dan Sandbar menunjukkan arah yang sama: AI ingin hadir terus-menerus, bukan sesekali.

Manfaatnya menggoda, terutama bagi mereka yang hidup dari rapat, wawancara, dan ide yang cepat hilang. Namun harga sebenarnya mungkin bukan dolar dan langganan, melainkan kebiasaan baru: menerima bahwa diri kita layak direkam sepanjang waktu.

Pada akhirnya, publik perlu menuntut standar yang lebih tinggi daripada sekadar tombol mute dan janji “dengan persetujuan.” Jika AI akan menjadi perhiasan dan teman, maka privasi harus menjadi desain inti, bukan opsi tambahan yang baru dicari setelah skandal.

Di era ketika mesin bisa mengingat semuanya, kebijaksanaan manusia mungkin justru terletak pada memilih apa yang tidak perlu direkam. Pertanyaannya: apakah kita masih punya keberanian untuk hidup tanpa arsip permanen tentang diri sendiri? (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)