Blokade Maritim Houthi Ancam Ekspor Minyak Saudi via Bab al-Mandeb

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Blokade maritim Houthi terhadap Saudi Arabia mendadak mengubah peta risiko energi global, tepat saat Selat Hormuz terganggu oleh perang AS-Israel melawan Iran. Riyadh membantah tuduhan “pengepungan” atas rakyat Yaman, namun Houthi justru mengumumkan embargo laut sebagai balasan “mata ganti mata”.

Arab Saudi pada Senin mengecam tuduhan Houthi yang bersekutu dengan Iran bahwa Riyadh memberlakukan pengepungan terhadap rakyat Yaman, setelah kelompok itu menyatakan akan menerapkan blokade maritim terhadap Saudi. Kementerian Luar Negeri Saudi menyatakan akan mengambil “semua langkah yang diperlukan” untuk melindungi kapal-kapalnya.

Di tengah gangguan pelayaran di Selat Hormuz selama perang AS-Israel melawan Iran, Saudi berusaha memfasilitasi aliran minyak lewat rute alternatif melalui Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb. Kini rute itu ikut terancam, padahal Bab al-Mandeb adalah salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia.

Houthi menyatakan embargo laut didasarkan pada rumus “mata ganti mata” dan menegaskan hak untuk membalas “blokade dengan blokade” serta “eskalasi dengan eskalasi”. Mereka juga menyerukan mobilisasi umum dan kesiapan menghadapi semua skenario, tanpa menjelaskan rinci bagaimana blokade akan dijalankan.

Rekam jejak Houthi menunjukkan mereka mampu mengganggu perdagangan global ketika menyerang kapal-kapal di sekitar Bab al-Mandeb setelah perang Gaza pecah pada Oktober 2023. Serangan itu berhenti setelah pengumuman “gencatan senjata” di Gaza pada Oktober 2025, tetapi ancaman kini kembali.

Bab al-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi pintu masuk-keluar kapal yang memakai Terusan Suez. Pada titik tersempit, lebarnya hanya 29 km, sehingga lalu lintas dibatasi dua kanal untuk kapal masuk dan keluar.

Pada 2024, sekitar 4,1 miliar barel minyak mentah dan produk minyak olahan melintasi selat ini, atau sekitar 5 persen dari total global. Jika Selat Hormuz “efektif tertutup” sejak perang Israel-AS melawan Iran pada akhir Februari, maka penutupan Bab al-Mandeb berpotensi menghambat hingga 25 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Dampak paling langsung menghantam ekspor minyak Saudi, terutama karena Saudi mengandalkan East-West Pipeline (Petroline) milik Aramco untuk mengalihkan minyak dari Teluk ke Laut Merah. Pipa sepanjang 1.200 km itu mengalir dari pusat pemrosesan Abqaiq ke Pelabuhan Yanbu, lalu minyak diangkut tanker melewati Bab al-Mandeb menuju pasar Asia.

Data pelacakan kapal dari Kpler dan Signal Ocean menunjukkan pengiriman dari Yanbu rata-rata 4 juta barel per hari dalam beberapa pekan terakhir, naik dari sekitar 973 ribu barel per hari setahun sebelumnya, menurut Reuters. Kpler juga mencatat total volume minyak yang melintasi Bab al-Mandeb mencapai 7,4 juta barel per hari pada Juni, sekitar 7 persen output global, dibanding 4,2 juta barel per hari tahun lalu.

Konflik Saudi-Houthi pun memanas setelah Houthi menuding Saudi menyerang Bandara Sanaa, meski pemerintah Yaman yang diakui internasional mengklaim bertanggung jawab untuk mencegah pesawat Iran mendarat. Houthi membalas dengan menembakkan rudal balistik ke Bandara Internasional Abha, yang menurut koalisi pimpinan Saudi berhasil dicegat.

Michael Stephens dari Royal United Services Institute menilai gencatan senjata Saudi-Houthi gagal bertahan dan situasi memburuk cepat hingga berujung pengumuman blokade. Ia menekankan konteks yang lebih besar, yakni perang yang “dimulai lagi” di kawasan Teluk antara Iran dan AS.

Efek rambatan global akan terasa di Asia, karena Saudi mengekspor minyak mentah senilai 187 miliar dolar AS pada 2024 dan itu menjadi ekspor terbesar negara tersebut, menurut OEC. Pada tahun itu, China menyerap 25,6 persen, Korea Selatan 15,8 persen, Jepang 15,4 persen, dan India 10,5 persen dari minyak mentah Saudi.

Ketika pasokan Saudi terganggu, kilang-kilang di China dan India menghadapi biaya impor lebih tinggi dan ketergantungan pada kargo spot yang lebih mahal. India juga menjadi pemasok penting produk minyak olahan ke Eropa, sehingga gangguan berkepanjangan bisa mendorong kenaikan harga produk minyak di pasar Eropa.

Stephens menyebut blokade akan “sangat merusak” ekonomi minyak karena “pada dasarnya Anda mematikan sebagian besar pasokan minyak” dari salah satu pemasok terbesar dunia. Ia menambahkan, jika Presiden AS Donald Trump ingin harga minyak turun ke 70 dolar per barel, itu “tidak akan terjadi” dalam situasi seperti ini.

Harga minyak sudah merespons, dengan Brent naik ke 89,70 dolar per barel pada Selasa pukul 09.50 GMT. Sebelum perang Israel-AS melawan Iran, Brent rata-rata sekitar 70 dolar per barel, lalu sempat memuncak di 126 dolar per barel setelah konflik pecah.

Blokade maritim Houthi bukan sekadar ancaman taktis terhadap Saudi, melainkan pesan strategis bahwa jalur energi dunia dapat dijadikan sandera dalam konflik regional. Saat Hormuz terganggu, Bab al-Mandeb berubah dari rute alternatif menjadi titik rawan baru, dan ini membuat “diversifikasi jalur” terlihat rapuh.

Narasi Houthi tentang “balas blokade dengan blokade” juga menggeser konflik Yaman dari isu domestik menjadi instrumen perang proksi yang lebih luas. Jika Saudi merespons keras, eskalasi bisa mengunci kawasan dalam spiral serangan-balas serangan yang merusak perdagangan global.

Di sisi lain, bantahan Saudi dan klaim “melindungi kapal” menunjukkan dilema klasik negara eksportir besar: keamanan maritim adalah syarat ekonomi, tetapi setiap langkah militer berisiko memperluas front. Dalam situasi ini, pasar minyak bukan sekadar cermin suplai-permintaan, melainkan barometer ketakutan.

Blokade maritim Houthi terhadap Saudi Arabia menempatkan Bab al-Mandeb sebagai simpul yang menentukan, bukan hanya bagi Riyadh, tetapi bagi pabrik-pabrik Asia dan konsumen Eropa. Ketika dua chokepoint utama—Hormuz dan Bab al-Mandeb—sama-sama terancam, dunia belajar bahwa energi murah bergantung pada geopolitik yang stabil.

Pertanyaannya, apakah para aktor regional dan global masih punya ruang untuk menahan diri sebelum “eskalasi dengan eskalasi” menjadi norma baru di laut? Jika jalur dagang terus dipolitisasi, harga yang dibayar bukan hanya per barel, melainkan pada rasa aman ekonomi sehari-hari masyarakat dunia.

(Orbit dari berbagai sumber, 1 Agustus 2026)