Partai Demokrat Mendesak Penyelidikan Terkait USS Abraham Lincoln dan Pertanyakan Kesiapan Angkatan Laut AS

Pesawat tempur F-18 diluncurkan dari kapal induk.

Pesawat tempur F-18 diluncurkan dari kapal induk.

Internasional

ORBITINDONESIA.COM - Para anggota parlemen Amerika Serikat kembali mendesak adanya penjelasan mengenai kondisi di atas kapal USS Abraham Lincoln, dengan indikasi bahwa laporan-laporan yang muncul dari kapal induk tersebut mungkin mencerminkan pola yang mengkhawatirkan.

Dalam setidaknya tiga seruan terpisah, anggota Partai Demokrat meminta informasi lebih lanjut mengenai bagaimana Angkatan Laut mempersiapkan kapal tersebut untuk misi penugasan yang memecahkan rekor durasi ini.

Kapal induk ini telah terlibat dalam operasi militer terhadap Venezuela serta perang AS-Israel melawan Iran sejak bertolak dari San Diego, California, pada bulan November.

Sejak saat itu, kapal tersebut belum pernah bersandar di pelabuhan mana pun. Setelah menghabiskan lebih dari 260 hari di laut, kapal ini telah memecahkan rekor Angkatan Laut AS untuk durasi penugasan terlama tanpa singgah.

Dalam beberapa minggu terakhir, muncul laporan mengenai anggota awak yang mencoba melompat ke laut di tengah kekurangan makanan dan pasokan lainnya.

Pada hari Selasa, 18 Agustus 2026, anggota DPR AS Pat Ryan merilis surat yang ditujukan kepada Pelaksana Tugas (Plt.) Menteri Angkatan Laut Hung Cao dan ditandatangani oleh 22 anggota Kongres.

Surat tersebut mencatat bahwa penugasan yang berkepanjangan "telah menjadi pola dalam cara Pemerintah menangani perang melawan Iran".

Perang yang dimulai pada 28 Februari itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Ryan menyoroti bahwa USS Gerald Ford juga telah memecahkan rekor durasi penugasan sebagai bagian dari perang Iran, dan kapal itu pun menjadi subjek laporan yang mengkhawatirkan terkait tekanan terhadap kesehatan para pelaut. Kapal tersebut kembali ke AS pada bulan April.

"Kondisi yang dilaporkan di kapal Lincoln, yang terjadi tak lama setelah laporan kondisi di kapal Ford, membuat Kongres dan publik khawatir bahwa Departemen tersebut tidak cukup cepat beradaptasi dengan situasi yang ada," tulis Ryan dalam suratnya yang bertanggal 14 Agustus.

Ia juga mempertanyakan apakah Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer di Timur Tengah, telah "mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi tantangan berkelanjutan yang dihadapi armada kita".

Delegasi anggota parlemen dari California, termasuk Senator Adam Schiff dan Alex Padilla, juga telah mengirimkan surat kepada Pentagon yang mendesak dilakukannya penyelidikan.

Secara terpisah, sekelompok senator Demokrat mengirimkan surat lain tertanggal 15 Agustus kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth, yang menuntut jawaban dan mendesak adanya pertanggungjawaban.

“Ini adalah gejala perencanaan yang buruk, baik dari pihak Anda maupun Presiden, yang diperparah oleh keputusan yang sangat keliru untuk memulai perang dengan Iran,” bunyi surat tersebut.

“Penugasan tanpa batas waktu yang dipicu oleh perang berkepanjangan memiliki konsekuensi nyata bagi personel militer kita, dan kita sedang menyaksikan konsekuensi tersebut saat ini.”

Desakan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut muncul saat USS Lincoln bersiap untuk kembali ke pangkalan.

Cao mengungkapkan pekan lalu bahwa USS Lincoln akan segera kembali ke AS. Pengumuman tersebut bertepatan dengan laporan bahwa USS George Washington telah dialihkan rutenya dari Samudra Pasifik untuk menggantikan kapal induk rekannya itu.

Namun, keberangkatan USS Washington membuat kawasan Pasifik Barat—yang selama ini dianggap sebagai wilayah kepentingan strategis AS dalam upaya membendung ambisi teritorial Tiongkok—tidak lagi memiliki kapal induk.

Sementara itu, Presiden Donald Trump dan para pejabat pertahanannya berpendapat bahwa laporan mengenai kondisi USS Lincoln telah dibesar-besarkan.

Hegseth, misalnya, menyebut laporan mengenai kondisi kapal tersebut sebagai sesuatu yang “sangat keliru”. Pekan lalu, Trump juga mengatakan bahwa kapal itu belum ditugaskan dalam “durasi yang cukup lama”.

Pada hari Senin, presiden menepis pertanyaan mengenai kondisi USS Lincoln dengan menyebutnya sebagai bagian dari “berita palsu CNN”.

Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS (US Central Command), juga merilis pernyataan di media sosial pekan ini; ia mengatakan telah mengunjungi USS Lincoln dalam beberapa hari terakhir dan menilai para awak kapal “sangat mengesankan”.

“Ini bukan berarti segalanya sempurna,” tulisnya. “Temui saja satu dari hampir 4 juta veteran Angkatan Laut di Amerika saat ini, dan mereka kemungkinan besar akan mengatakan bahwa tugas di laut dalam waktu lama bukanlah hal yang cocok bagi semua orang.”

Namun, ia memuji jajaran pimpinan USS Lincoln karena telah menjadikan “kesehatan mental dan ketangguhan awak” sebagai prioritas.

Berbeda dengan kubu Demokrat, sebagian besar anggota Partai Republik—partai asal Trump—tidak menanggapi laporan mengenai tekanan kesehatan mental dan kekurangan pasokan di USS Lincoln.

Meski demikian, anggota DPR Don Bacon menyampaikan kekhawatirannya dalam sebuah wawancara di program Face the Nation di CBS News pada hari Minggu.

“Kita seharusnya melakukan pengawasan,” ujarnya. ***