Denny JA: Era AI Mengubah Organisasi Penulis

Ilustrasi penulis yang hidup dan berkarya di era AI.

Ilustrasi penulis yang hidup dan berkarya di era AI.

Opini

ERA AI MENGUBAH ORGANISASI PENULIS

- Draft Pertanggungjawaban Ketua Umum

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Suatu malam, layar Zoom mempertemukan puluhan penulis dari Aceh, Padang, Jakarta, Makassar, hingga Papua.

Selama hampir dua jam, kami saling bertukar pengalaman, memperdebatkan gagasan, dan belajar dari kehidupan masing-masing. Tidak ada yang membeli tiket pesawat. Tidak ada yang meninggalkan keluarganya. Tidak ada biaya hotel ataupun ruang sidang.

Namun, dalam satu malam itu, pengetahuan yang terkumpul dari ribuan kilometer perjalanan hidup mengalir begitu kaya, begitu cepat, dan begitu hangat.

Saat itulah saya tersadar. Teknologi bukan hanya mengubah cara kita bertemu. Teknologi mengubah cara kita bertumbuh bersama.

Yang dahulu membutuhkan kongres tahunan, kini dapat terjadi setiap pekan. Yang dahulu hanya didengar oleh puluhan orang di sebuah ruangan, kini dapat menginspirasi ribuan orang melalui satu layar.

Organisasi penulis tidak lagi terutama hidup karena sekretariatnya. Ia hidup karena percakapan yang terus berlangsung, melintasi ruang, waktu, dan batas geografis.

Barangkali, untuk pertama kalinya dalam sejarah organisasi penulis Indonesia, rumah kami bukan lagi sebuah alamat. Rumah kami adalah percakapan yang tak pernah berhenti.

-000-

Pada 2021, ketika saya menerima amanah sebagai Ketua Umum SATUPENA, saya membayangkan tugas terbesar saya adalah menyusun program kerja. Saya keliru.

Tugas pertama justru menyelamatkan keberadaan organisasi itu sendiri.

SATUPENA yang saya warisi bukan organisasi yang sedang berjalan tenang. Ia berada dalam situasi yang oleh banyak orang dianggap mustahil dipersatukan.

Ada satu nama organisasi, satu akta notaris, tetapi dua kepengurusan yang masing-masing merasa sah. Dua kongres telah berlangsung. Dua kelompok berjalan dengan keyakinannya sendiri.

Yang dipertaruhkan bukan sekadar siapa yang menjadi pengurus, melainkan legitimasi sebuah rumah bersama bagi para penulis Indonesia.

Saya belajar sejak hari pertama bahwa organisasi penulis bukan sekadar kumpulan orang yang pandai merangkai kata. Ia adalah kumpulan ego, idealisme, sejarah, dan cinta yang sama-sama besar kepada dunia literasi. Karena itu, konflik di dalamnya tidak pernah sederhana. Ia selalu menyentuh harga diri.

Saya masih mengingat percakapan-percakapan panjang di ruang tamu, kadang hingga larut malam, ketika saya harus mendengarkan luka lama dari sahabat-sahabat sesama penulis yang selama ini duduk berseberangan. Ada air mata. Ada suara yang meninggi. Ada pula diam panjang yang lebih berat daripada kata-kata.

Pilihan saya waktu itu hanya dua: membiarkan perpecahan terus berlangsung atau mengupayakan konsolidasi meski harus melalui jalan panjang.

Saya memilih jalan kedua.

Melalui proses hukum organisasi yang tidak singkat, pemerintah akhirnya menetapkan kepengurusan SATUPENA yang kami pimpin sebagai kepengurusan yang sah.

Kelompok lain kemudian melanjutkan kiprahnya dengan nama organisasi yang berbeda. Bagi saya, kemenangan itu bukan kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Itu adalah kesempatan agar SATUPENA kembali memiliki satu arah perjalanan.

-000-

Namun, setelah konsolidasi selesai, pertanyaan yang jauh lebih besar muncul: untuk apa organisasi penulis hadir pada abad ke-21?

Pertanyaan itu terus mengikuti saya selama lima tahun memimpin SATUPENA.

Semakin lama saya mengamati perubahan dunia, semakin saya yakin bahwa tantangan terbesar organisasi penulis bukan lagi konflik internal. Tantangan terbesar justru datang dari luar, dari perubahan peradaban yang bergerak sangat cepat.

Internet telah mengubah cara manusia membaca. Media sosial mengubah cara manusia berdiskusi. Kini kecerdasan buatan mengubah cara manusia menulis.

Perubahan ini bukan sekadar perubahan teknologi. Ia mengubah makna organisasi itu sendiri.

Selama puluhan tahun, banyak organisasi dibangun mengikuti logika Revolusi Industri. Informasi bergerak lambat. Karena itu, orang harus berkumpul. Rapat tahunan menjadi pusat kehidupan organisasi. Surat dikirim melalui pos. Laporan dicetak. Keputusan menunggu pertemuan berikutnya.

Hari ini, seluruh fondasi itu berubah.

Ketika informasi bergerak dalam hitungan detik, organisasi tidak lagi hidup karena rapatnya. Ia hidup karena percakapannya.

Ketika dokumen dapat dibagikan melalui telepon genggam, organisasi tidak lagi bergantung pada sekretariat fisik. Ia bergantung pada jaringan kepercayaan.

Ketika kecerdasan buatan mampu menyusun notulen, merangkum diskusi, menerjemahkan naskah, bahkan membantu menulis draf kebijakan dalam hitungan menit, nilai sebuah organisasi tidak lagi terutama terletak pada administrasinya.

Nilai tertingginya berada pada kualitas manusia yang tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada mesin: kebijaksanaan, tanggung jawab moral, empati, kritik, dan persahabatan intelektual.

Di sinilah saya mulai melihat perubahan besar itu. Era AI tidak sedang menghapus organisasi penulis. Era AI sedang mengubahnya.

Organisasi penulis perlahan bergerak dari model birokrasi administratif menuju komunitas pengetahuan yang lebih cair, lebih kolaboratif, dan lebih terbuka.

Sebagian orang mungkin bertanya, apakah ini berarti organisasi penulis tidak lagi memerlukan birokrasi? Sama sekali bukan. Setiap organisasi tetap membutuhkan tata kelola, aturan, dan akuntabilitas.

Namun, di era AI, birokrasi tidak lagi boleh menjadi tujuan. Ia harus kembali menjadi alat. Tugasnya bukan memperbanyak prosedur, melainkan mempermudah lahirnya gagasan, mempercepat kolaborasi, dan menjaga kepercayaan di antara para anggotanya.

-000-

Saya menyadari, memimpin organisasi penulis di era AI menuntut kerendahan hati yang baru. Saya tidak lagi merasa cukup hanya menyusun program.

Saya harus belajar mendengarkan mesin, memahami algoritma, sekaligus menjaga agar nurani tetap menjadi kompas. Sebab, teknologi secanggih apa pun tidak pernah menggantikan tanggung jawab seorang pemimpin untuk memastikan bahwa manusia, bukan sistem, tetap berada di pusat percakapan.

Perubahan ini sebenarnya telah dimulai sejak internet dan media sosial berkembang. AI bukan penyebab tunggalnya. AI adalah katalis yang mempercepat transformasi yang telah lebih dahulu dimulai oleh internet, media sosial, dan platform kolaborasi digital.

Jika dahulu teknologi hanya mempercepat komunikasi, kini AI juga mempercepat pekerjaan administratif yang selama ini menyita energi organisasi. Akibatnya, semakin sedikit waktu yang diperlukan untuk mengurus prosedur, semakin banyak ruang yang tersedia untuk mengembangkan gagasan.

Organisasi masa depan tidak lagi diukur dari banyaknya surat keputusan yang diterbitkan. Ia diukur dari banyaknya ide yang berhasil mempertemukan manusia.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri: jika dunia sudah berubah sedemikian cepat, apakah SATUPENA juga harus berubah?

Jawaban saya adalah ya.

Karena itu, salah satu keputusan penting yang kami ambil adalah membangun kepengurusan daerah di hampir seluruh provinsi Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Sebelum masa kepengurusan ini, jaringan seperti itu belum terbentuk secara sistematis.

Saya percaya bahwa kreativitas tidak lahir dari pusat. Kreativitas tumbuh dari banyak titik yang saling terhubung.

Saya tidak ingin daerah sekadar menunggu instruksi dari Jakarta. Saya ingin setiap daerah menjadi laboratorium gagasan.

Kepercayaan itu ternyata melahirkan banyak kejutan yang membahagiakan. SATUPENA Sumatera Barat, misalnya, bersama berbagai mitra berhasil menyelenggarakan International Minangkabau Literacy Festival yang terus berkembang hingga penyelenggaraan keempat pada 2026. Daerah lain pun melahirkan berbagai kegiatan literasi dengan karakter masing-masing.

Saya belajar bahwa ketika kepercayaan diberikan, kreativitas sering kali melampaui harapan.

Perubahan berikutnya adalah membangun ruang percakapan yang tidak pernah berhenti. Kami menyelenggarakan diskusi daring hampir setiap minggu. Hingga akhir masa kepengurusan ini, lebih dari 169 pertemuan Zoom telah berlangsung.

Selain itu, lebih dari seratus video yang mendokumentasikan perjalanan hidup, pemikiran, dan karya para penulis telah dipublikasikan dalam satu kanal di YouTube.

Angka-angka itu mungkin terlihat administratif. Bagi saya, semuanya memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Setiap pertemuan adalah jembatan yang mempertemukan pengalaman hidup seseorang dengan imajinasi orang lain. Setiap video adalah arsip kebudayaan yang suatu hari akan menjadi saksi bagaimana para penulis Indonesia berpikir pada zamannya.

Organisasi tidak lagi menunggu kongres untuk bertemu. Ia bertemu setiap pekan. Organisasi tidak lagi menunggu laporan tahunan untuk berbagi gagasan. Ia berbagi setiap hari.

Di tengah perubahan itu, saya semakin yakin bahwa masa depan organisasi penulis bukan terletak pada seberapa megah kantor sekretariatnya, melainkan pada seberapa hidup percakapan intelektual yang mampu dipeliharanya.

-000-

Saya juga semakin menyadari bahwa organisasi penulis mempunyai kekayaan yang berbeda dari organisasi profesi lainnya. Modal utama kita bukan gedung. Bukan kendaraan operasional. Bukan pula anggaran yang besar.

Modal utama organisasi penulis adalah gagasan. Karena itulah kami berusaha menjaga agar percakapan tidak pernah berhenti.

Teknologi memungkinkan memori organisasi tidak lagi hilang bersama pergantian kepengurusan. Kelak, puluhan tahun dari sekarang, generasi baru masih dapat melihat bagaimana para penulis Indonesia berbicara tentang zamannya, kegelisahannya, dan harapannya.

Tradisi lain yang kami bangun adalah penulisan buku bersama.

Ketika terjadi bencana besar di Sumatra, kami menulis bersama. Ketika muncul perdebatan mengenai gelar pahlawan Presiden Soeharto, kami menulis bersama. Ketika tragedi kemanusiaan di Palestina mengguncang nurani dunia, kami kembali menulis bersama.

Saya selalu percaya bahwa organisasi penulis tidak boleh hanya menjadi tempat berkumpul. Ia harus menjadi ruang yang menghasilkan karya.

Lebih membahagiakan lagi, tradisi itu kemudian tumbuh di berbagai daerah. Banyak pengurus SATUPENA provinsi mulai menerbitkan buku mereka sendiri sesuai dengan persoalan lokal yang mereka hadapi. Di situlah saya melihat bahwa organisasi benar-benar telah berubah menjadi jaringan pengetahuan.

-000-

Perubahan paradigma dari model birokrasi menuju komunitas pengetahuan tentu tidak terjadi di ruang hampa. Diperlukan landasan konseptual untuk memahami bagaimana teknologi digital dan kecerdasan buatan mendefinisikan ulang cara kerja kolektif manusia.

Dua buku berikut membantu saya melihat perubahan tersebut dalam kerangka yang lebih luas.

Buku Pertama: The Wealth of Networks: How Social Production Transforms Markets and Freedom

Yochai Benkler, Yale University Press, 2006

Yochai Benkler menunjukkan bahwa internet telah melahirkan bentuk organisasi baru yang tidak lagi semata-mata bertumpu pada hierarki birokratis, melainkan juga pada jejaring kolaboratif.

Dalam masyarakat jaringan, ribuan individu dapat bekerja bersama tanpa harus berada dalam satu kantor, bahkan tanpa mengenal satu sama lain secara pribadi. Nilai utama organisasi bergeser dari kepemilikan sumber daya menuju kemampuan menghubungkan manusia, pengetahuan, dan kepercayaan.

Benkler menjelaskan bagaimana produksi berbasis komunitas mampu menghasilkan inovasi yang dalam keadaan tertentu dapat melampaui organisasi tradisional yang sangat birokratis.

Gagasan ini sangat relevan bagi organisasi penulis. Di era digital, kekuatan sebuah organisasi tidak lagi hanya diukur dari banyaknya rapat atau luasnya sekretariat, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan ruang dialog yang terus hidup, memungkinkan pertukaran gagasan lintas daerah, lintas generasi, bahkan lintas negara.

AI mempercepat proses ini dengan mengambil alih sebagian pekerjaan administratif, sehingga energi organisasi dapat lebih banyak diarahkan pada penciptaan pengetahuan baru dan kolaborasi kreatif.

Masa depan organisasi, dalam semangat pemikiran Benkler, bukanlah piramida yang semakin tinggi, melainkan jaringan yang semakin luas, terbuka, dan cerdas.

-000-

Tradisi berikutnya yang kami pelihara adalah memberikan penghargaan tahunan kepada para penulis Indonesia. Setiap tahun, melalui panitia independen, SATUPENA memberikan penghargaan disertai sertifikat dan dana apresiasi antara Rp35 juta hingga Rp50 juta.

Sebagian orang bertanya kepada saya, mengapa penghargaan itu penting?

Jawaban saya sederhana. Bangsa yang ingin kebudayaannya hidup harus belajar menghormati para penjaga pikirannya.

Penghargaan bukan hanya hadiah. Penghargaan adalah cara sebuah bangsa mengatakan bahwa kerja intelektual masih mempunyai martabat.

-000-

Pertanyaan lain yang sering saya terima bahkan lebih praktis: “Dari mana dana untuk menggerakkan organisasi sebesar SATUPENA?”

Sejak awal, saya mengambil keputusan yang mungkin tidak populer di kalangan organisasi. Saya tidak mewajibkan anggota membayar iuran.

Bukan karena saya menganggap iuran itu salah. Banyak organisasi besar di dunia justru tumbuh melalui iuran anggotanya. Namun, saya memiliki pertimbangan lain.

Saya tidak ingin ada seorang penulis muda yang merasa jauh dari organisasinya hanya karena alasan ekonomi. Saya juga telah lama memendam keinginan pribadi untuk menjadi penderma bagi kegiatan kebudayaan.

Karena itu, selama masa kepengurusan ini, hampir seluruh kebutuhan pembiayaan organisasi ditopang oleh yayasan dan berbagai lembaga yang saya dirikan. Saya menganggapnya bukan sebagai pengorbanan, melainkan ungkapan rasa syukur atas perjalanan hidup yang telah saya jalani.

Semakin bertambah usia, saya semakin percaya bahwa kekayaan hanya menemukan maknanya ketika berubah menjadi kesempatan bagi orang lain untuk bertumbuh.

Barangkali, di situlah saya menemukan pelajaran terbesar selama lima tahun memimpin SATUPENA.

-000-

Organisasi penulis tidak dibangun oleh anggaran. Ia dibangun oleh kepercayaan.

Ia tidak bertahan hanya karena aturan. Ia bertahan karena kerelaan untuk saling menguatkan.

Ia juga tidak dikenang karena banyaknya surat keputusan yang diterbitkan. Ia dikenang karena banyaknya manusia yang tumbuh bersama di dalamnya.

-000-

Buku Kedua: The Culture Code: The Secrets of Highly Successful Groups

Daniel Coyle, Bantam Books, 2018

Daniel Coyle menunjukkan bahwa organisasi yang paling berhasil pada abad ke-21 bukanlah organisasi dengan struktur paling rumit, melainkan organisasi yang mampu membangun rasa aman, kepercayaan, dan tujuan bersama.

Berdasarkan penelitian terhadap berbagai kelompok berprestasi, mulai dari perusahaan teknologi, tim olahraga, hingga satuan militer, Coyle menemukan tiga fondasi budaya organisasi yang unggul.

Pertama, anggota harus merasakan bahwa mereka benar-benar menjadi bagian dari komunitas. Kedua, organisasi harus membangun keberanian untuk saling berbagi kelemahan sehingga lahir kepercayaan yang mendalam. Ketiga, setiap kegiatan harus selalu dihubungkan dengan tujuan yang lebih besar daripada kepentingan individu.

Dalam konteks organisasi penulis, pelajaran ini sangat relevan.

AI dapat mengambil alih banyak pekerjaan administratif, tetapi ia tidak dapat menggantikan tanggung jawab manusia untuk membangun rasa memiliki, persahabatan intelektual, dan keberanian untuk saling menginspirasi.

Masa depan organisasi penulis bukanlah mempertebal birokrasi, melainkan memperkuat budaya kolaborasi.

Organisasi yang bertahan bukan yang paling banyak membuat aturan, melainkan yang paling berhasil membuat anggotanya merasa menjadi bagian dari perjalanan bersama menuju lahirnya gagasan-gagasan yang memperkaya peradaban.

-000-

Lima tahun terakhir mengajarkan saya satu pelajaran yang tak akan saya lupakan. Organisasi penulis tidak akan bertahan hanya karena Anggaran Dasarnya paling lengkap atau kepengurusannya paling rapi.

Ia akan bertahan karena terus melahirkan percakapan yang mencerahkan, kolaborasi yang menghidupkan, dan karya yang memperkaya peradaban.

Di era AI, tugas organisasi bukan lagi mengurus sebanyak mungkin prosedur, melainkan membebaskan sebanyak mungkin pikiran agar melahirkan gagasan yang terus menyinari masa depan.

Revolusi Pertanian memungkinkan lahirnya kerajaan-kerajaan besar. Revolusi Industri memperkuat birokrasi modern. Revolusi Digital melahirkan masyarakat jaringan. Revolusi AI kini mempercepat lahirnya komunitas pengetahuan.

Gedung dapat menjadi tua. Kepengurusan akan berganti. Teknologi terus berubah. Namun, organisasi yang setia merawat gagasan akan selalu menemukan masa depannya.

Sebab, pada akhirnya, rumah para penulis bukanlah sebuah gedung. Rumah mereka adalah percakapan yang tak pernah berhenti.

Jakarta, 10 Juli 2026

-000-

REFERENSI

1. The Wealth of Networks: How Social Production Transforms Markets and Freedom

Penulis: Yochai Benkler

Penerbit: Yale University Press

Tahun terbit: 2006

2. The Culture Code: The Secrets of Highly Successful Groups

Penulis: Daniel Coyle

Penerbit: Bantam Books

Tahun terbit: 2018

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World

https://www.facebook.com/share/194xQj2Nwj/?mibextid=wwXIfr ***