Dubes AS Huckabee Tegaskan Kembali Label 'Teror' untuk Kekerasan oleh Pemukim Yahudi Israel

Pasukan Zionis Israel di depan perumahan warga Palestina yang dikepung pemukim Yahudi ekstremis.

Pasukan Zionis Israel di depan perumahan warga Palestina yang dikepung pemukim Yahudi ekstremis.

Internasional

ORBITINDONESIA.COM - Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, pada hari Selasa, 18 Agustus 2026, menegaskan kembali kecamannya terhadap kekerasan yang dilakukan oleh pihak pemukim Yahudi ekstremis di Tepi Barat yang diduduki, dengan menyatakan bahwa tindakan tersebut memenuhi definisi terorisme menurut standar Amerika.

"Begitu melibatkan warga negara Amerika, keterlibatan kami menjadi hampir otomatis dan akan signifikan karena itulah tugas kami," ujar Huckabee kepada Channel 12 di Israel.

Ia mencatat bahwa meskipun biasanya Washington hanya akan menyatakan keprihatinan, serangan yang menargetkan rumah seorang warga Amerika di Qusra menuntut adanya keterlibatan langsung.

Huckabee, sekutu setia Israel, menolak keberatan dari para pejabat Israel terkait penggunaan istilah tersebut. "Saya akan menggunakan kata teror," ujarnya, seraya menjelaskan bahwa tindakan apa pun yang bertujuan membuat individu merasa terancam nyawanya atau memaksa perubahan perilaku merupakan terorisme menurut hukum AS. Ia menekankan bahwa hal ini berlaku baik targetnya adalah negara, keluarga, maupun individu tertentu.

Pernyataan ini muncul setelah adanya pengepungan terhadap rumah-rumah warga Palestina di Qusra oleh pihak pendudukan Israel, termasuk rumah milik seorang warga negara ganda AS.

Awal bulan ini, PBB memperingatkan bahwa kekerasan oleh pihak pemukim Yahudi telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan laporan mengenai lebih dari 1.430 serangan terhadap warga Palestina dan properti mereka sejak awal tahun 2026.

Keterlibatan politik dan netralitas

Huckabee juga memberikan pandangan mengenai alasan Presiden AS Donald Trump tidak secara eksplisit memberikan dukungan kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum Israel.

"Menurut saya, beliau bersikap hati-hati. Beliau tidak ingin terlibat terlalu jauh," kata Huckabee, seraya mencatat bahwa presiden AS tersebut mempertimbangkan dengan cermat apakah keterlibatannya akan "bermanfaat" atau justru "merugikan."

Ia mengisyaratkan bahwa Trump mungkin menahan diri untuk memberikan dukungan jika ia yakin hal itu dapat "mengubah peta kekuatan secara tidak adil," meskipun ia menekankan bahwa Trump tetaplah seorang pemimpin yang berani mengungkapkan pendapatnya saat ia merasa hal itu perlu dilakukan.

Trump mengakui bahwa ia "kemungkinan besar" akan mendukung Netanyahu, namun mengatakan bahwa ia perlu melihat terlebih dahulu siapa lawan politik yang akan dihadapi Netanyahu.

Sang duta besar juga mengonfirmasi bahwa ia secara aktif berupaya untuk bertemu dengan berbagai tokoh politik Israel, termasuk pemimpin oposisi Gadi Eisenkot.

Huckabee mengatakan bahwa ia berniat untuk bertemu dengan "sebanyak mungkin tokoh yang secara manusiawi bisa ditemui," terlepas dari kompleksitas lanskap partai politik yang terus berubah-ubah. ***