Ali Samudra: Masjid Kita Sudahkah Menjadi Pusat Peradaban?
Oleh Ali Samudra
ORBITINDONESIA.COM - Ada sesuatu yang menarik tentang masjid di negeri kita. Hampir di setiap kampung, perumahan, kompleks, pasar, perkantoran, sekolah, bahkan di sepanjang perjalanan, kita dapat menemukan masjid.
Suara Azan terdengar dari berbagai penjuru. Pada hari Jumat masjid dipenuhi jamaah. Pada bulan Ramadan suasananya semakin hidup dengan tarawih, tadarus, buka puasa bersama dan berbagai kegiatan sosial.
Namun di tengah semarak itu, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin perlu kita renungkan bersama:
Sudahkah masjid kita menjadi pusat peradaban?
Pertanyaan ini bukan untuk meragukan kemuliaan masjid. Justru karena masjid begitu mulia dalam Islam, kita perlu bertanya lebih jauh: apa yang seharusnya lahir dari sebuah masjid?
Apakah masjid hanya menjadi tempat manusia datang untuk shalat, kemudian kembali kepada kehidupannya masing-masing? Ataukah masjid seharusnya menjadi tempat manusia dibentuk, dicerdaskan, disatukan dan dipersiapkan untuk membangun kehidupan?
Masjid Bukan Sekedar Bangunan
Kita sering mengukur kemajuan masjid dari bangunannya: luas tanahnya, besarnya kubah, tingginya menara, keindahan marmer, kapasitas jamaah dan besarnya dana yang berhasil dihimpun.
Semua itu tentu penting. Masjid memang harus dibangun dengan baik dan dirawat dengan sungguh-sungguh.
Tetapi ada ukuran yang jauh lebih penting: Manusia seperti apa yang lahir dari masjid tersebut?
Sebab masjid pada hakikatnya bukan hanya bangunan. Masjid adalah tempat manusia bertemu dengan Allah sekaligus tempat manusia belajar membawa nilai-nilai ketuhanan ke dalam kehidupan.
Karena itu, kemakmuran masjid seharusnya tidak berhenti pada kemakmuran fisiknya. Masjid yang benar-benar makmur adalah masjid yang mampu menghidupkan manusia dan kehidupan di sekitarnya.
Masjid Nabawi: Ketika Iman Bertemu Kehidupan
Kita tidak perlu mencari contoh terlalu jauh. Ketika Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah, Masjid Nabawi menjadi salah satu pusat kehidupan umat.
Masjid bukan hanya tempat shalat. Di sana berlangsung pembelajaran, pembinaan persaudaraan, musyawarah dan berbagai aktivitas sosial masyarakat.
Di masjid, manusia tidak hanya diajarkan bagaimana berhubungan dengan Allah, tetapi juga bagaimana berhubungan dengan manusia.
Iman bertemu dengan ilmu. Ilmu bertemu dengan amal. Dan amal membentuk masyarakat.
Inilah salah satu pelajaran penting dari sejarah awal Islam: masjid tidak dipisahkan dari kehidupan.
Al-Qur'an bahkan menghubungkan kemakmuran masjid dengan iman, shalat dan zakat:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ...
"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, menegagkan shalat dan menunaikan zakat..." (QS. AT-Taubah[9]: 18)
Ada pesan penting di sini. Shalat membangun hubungan vertikal manusia dengan Allah, sedangkan zakat menghadirkan tanggung jawab sosial.
Dengan demikian, masjid seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang rajin beribadah, tetapi juga manusia yang jujur, peduli, adil, produktif dan bertanggung jawab.
H.A.R. GIbb: Islam Adalah Peradaban
Gagasan bahwa Islam mempunyai dimensi peradaban bukan hanya datang dari pemikir Muslim. Sejarawan Islam asal Inggris, H.A.R. Gibb, dalam bukunya, Whither Islam?: A survey of Modern Movement in the Moslem World (1932; 2012), membuat sebuah pernyataan fundamental yang sangat terkenal:
“Islam is indeed much more than a system of theology; it is a complete civilization.”
Islam, menurut Gibb, jauh lebih luas daripada sekadar sistem teologi; Islam merupakan sebuah peradaban yang lengkap.
Pandangan ini penting bagi pembahasan kita tentang masjid. Jika Islam memiliki dimensi peradaban, maka masjid tidak semestinya hanya menjadi tempat berlangsungnya ritual keagamaan.
Masjid seharusnya menjadi salah satu ruang tempat nilai-nilai Islam diterjemahkan menjadi ilmu, pendidikan, akhlak, solidaritas, kebudayaan, pemberdayaan ekonomi dan kehidupan sosial.
Dengan kata lain, masjid adalah salah satu tempat di mana iman dapat berubah menjadi peradaban.
Dari Masjid Lahir Masyarakat
Peradaban tidak lahir hanya dari gedung-gedung besar. Peradaban lahir dari manusia yang memiliki ilmu, nilai, akhlak, kemampuan bekerja sama, kreativitas dan keberanian menyelesaikan persoalan. Karena itu, masjid mempunyai posisi yang sangat strategis.
Masjid dapat menjadi tempat anak-anak belajar Al-Qur'an sekaligus belajar mencintai ilmu. Masjid dapat menjadi tempat pemuda menemukan komunitas yang sehat, intelektual menemukan ruang berdiskusi, dan masyarakat menemukan jalan untuk menyelesaikan persoalan bersama.
Masjid juga dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi. Bukan hanya membagikan bantuan kepada orang miskin, tetapi membantu mereka memperoleh keterampilan, akses modal, jaringan usaha dan kesempatan untuk menjadi mandiri.
Sedekah dapat meringankan beban. Tetapi pemberdayaan dapat mengubah kehidupan.
Keduanya penting. Namun peradaban membutuhkan lebih dari sekadar bantuan sesaat. Peradaban membutuhkan manusia yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Masjid dan Kota-Kota Peradaban Islam
Sejarah menunjukkan betapa erat hubungan masjid dengan pertumbuhan peradaban Islam.
Di Damaskus, Masjid Jami' Umayyah menjadi salah satu simbol penting kehidupan keagamaan dan kebudayaan pada masa Umayyah.
Di Baghdad, ketika Khalifah al-Mansur membangun Madinat al-Salam pada 762 M, Masjid Agung dan istana berada di pusat kota, sementara pasar, permukiman dan aktivitas masyarakat berkembang di sekitarnya.
Di Mesir, Masjid 'Amr ibn al-'As, kemudian Masjid Ibn Tulun dan Al-Azhar, menunjukkan hubungan erat antara masjid, pendidikan dan perkembangan intelektual.
Di Fez, Maroko, Masjid al-Qarawiyyin berkembang menjadi salah satu pusat pembelajaran Islam yang terkenal. Sementara di Cordoba, Masjid Agung Cordoba menjadi salah satu pusat keagamaan, intelektual dan kebudayaan penting di Al-Andalus.
Yang menarik bukan semata-mata kemegahan bangunan tersebut, tetapi posisi masjid dalam ekosistem kota.
Masjid berhubungan dengan ilmu, pemerintahan, pasar, pendidikan, kebudayaan dan kehidupan masyarakat.
Peradaban Islam tumbuh bukan karena ritual yang terisolasi, melainkan ketika iman menjadi kekuatan yang menggerakkan kehidupan.
Masjid Dalam Tradisi Nusantara
Tradisi tersebut menemukan bentuk yang khas ketika Islam berkembang di Nusantara.
Di Cirebon terdapat Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang berada dalam lingkungan Keraton Kasepuhan. Di Yogyakarta terdapat Masjid Gedhe Kauman, yang berdiri berdekatan dengan Keraton dan Alun-Alun Utara.
Di Bandung, Masjid Agung Bandung berada di kawasan Alun-Alun dan menjadi bagian dari sejarah perkembangan pusat kota. Di Surabaya, Masjid Sunan Ampel berkembang sebagai pusat penting penyebaran Islam di Jawa Timur.
Di Medan, Masjid Raya Al-Mashun merupakan peninggalan Kesultanan Deli yang berada dalam lingkungan pusat kekuasaan kesultanan. Sementara di Banda Aceh, Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu simbol penting agama, sejarah dan identitas masyarakat Aceh.
Dari Cirebon, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Banda Aceh hingga kota-kota lainnya, kita menemukan kenyataan yang menarik:
Masjid dalam sejarah Nusantara tidak selalu berdiri di pinggir kehidupan. Ia sering hadir di dekat keraton, alun-alun, pasar, pusat kota dan ruang publik.
Masjid menjadi bagian dari struktur masyarakat.
Masjid dan Ruang Publik
Di sinilah kita dapat memahami mengapa masjid memiliki makna yang lebih luas daripada tempat shalat.
Ketika masjid berada di tengah kehidupan masyarakat, ia menjadi pengingat bahwa ruang publik tidak boleh kehilangan nilai moral.
Masjid tidak harus mengambil alih fungsi pasar, pemerintah, sekolah atau rumah sakit. Tetapi masjid dapat menjadi sumber nilai yang memberi arah kepada semuanya.
Inilah salah satu peran peradaban yang sering terlupakan.
Istiqlal: Masjid dan Kebangsaan
Dalam perjalanan Indonesia modern, gagasan tentang masjid sebagai bagian dari kehidupan bangsa menemukan bentuk monumental melalui Masjid Istiqlal.
Nama Istiqlal berarti kemerdekaan. Masjid ini lahir dalam suasana Indonesia yang baru saja keluar dari pengalaman panjang penjajahan. Karena itu, sejak awal Istiqlal membawa makna simbolik sebagai ungkapan syukur atas kemerdekaan bangsa.
Lokasinya di pusat Jakarta, berdekatan dengan pusat pemerintahan dan simbol-simbol kebangsaan, semakin memperkuat makna tersebut.
Karena itu, Istiqlal bukan sekadar bangunan monumental. Ia membawa sebuah pertanyaan: Apa yang seharusnya diberikan sebuah masjid nasional kepada bangsa yang telah merdeka? Jawabannya tentu tidak cukup hanya menyediakan tempat untuk shalat.
Masjid nasional semestinya ikut menghadirkan ilmu, pendidikan, toleransi, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat dan keteladanan moral. Dengan kata lain: Kemegahan arsitektur harus diikuti kemegahan manfaat.
Masjid Kita di Abad Ke-21
Kini kita kembali kepada masjid-masjid kita. Jumlahnya sangat banyak. Kegiatannya juga beragam: pengajian, pendidikan Al-Qur'an, santunan anak yatim, zakat, wakaf, buka puasa, kegiatan remaja dan berbagai pelayanan sosial.
Semua itu patut diapresiasi.
Namun masyarakat abad ke-21 menghadapi persoalan yang semakin kompleks: kesenjangan ekonomi, pengangguran, krisis keluarga, perubahan dunia kerja, kerusakan lingkungan, narkoba, kesepian, kecanduan teknologi hingga tantangan kecerdasan buatan.
Masjid memang tidak harus menyelesaikan semuanya. Tetapi masjid tidak boleh kehilangan kepedulian terhadap persoalan kehidupan.
Di sinilah kita perlu memperluas pengertian tentang dakwah. Dakwah bukan hanya membuat manusia tahu apa yang halal dan haram. Dakwah juga harus membantu manusia menjadi lebih baik dalam menjalani kehidupannya.
Masjid dapat menjadi ruang tafakur, pusat ilmu, tempat pembinaan generasi muda, pusat pemberdayaan ekonomi, ruang dialog masyarakat, tempat pelayanan sosial dan sumber keteladanan moral.
Jika masjid mampu membuat seseorang menjadi lebih berilmu, lebih jujur, lebih mandiri, lebih peduli dan lebih bermanfaat, maka sesungguhnya masjid mulai menjadi pusat peradaban.***
Jakarta, 11 September 2026
(Pengantar Diskusi Ba'da Sholat Subuh, Jumat, 11 September 2026 Masjid Baitul Muhajirin - Pondok kelapa - Jakarta Timur)
Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin. ***