Spanyol Juara Piala Dunia, Messi dan Diaspora Argentina di Castelldefels

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Spanyol juara Piala Dunia setelah menundukkan Argentina 1-0, dan Castelldefels menjadi panggung unik bagi euforia yang bercampur haru. Di kota wisata selatan Barcelona itu, bendera merah-kuning Spanyol berkibar berdampingan dengan biru-putih Argentina, sementara nama Lionel Messi tetap terasa hadir meski laga telah usai.

Terjemahan akurat artikel sumber: Di Castelldefels, Spanyol, para penggemar melambaikan bendera merah dan emas Spanyol memenuhi jalanan, menyalakan kembang api, dan berpelukan hingga dini hari Senin setelah Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 di final Piala Dunia. Kegembiraan itu bergema di berbagai kota di Spanyol ketika La Roja meraih gelar untuk kedua kalinya pada Minggu berkat gol Ferran Torres di babak tambahan waktu.

Para penonton yang menyaksikan di layar raksasa meneriakkan, “Campeones! Campeones!” Namun di Castelldefels, komunitas perantau Argentina yang cukup besar membuat para penggemar dari kedua negara bisa menikmati pertandingan bersama.

Yang paling menonjol di sana—setidaknya secara spiritual—adalah mantan warga yang istimewa: Lionel Messi. Messi melewati tahun-tahun terbaiknya di Barcelona, dan bayang-bayangnya masih besar di kota itu, dengan banyak pendukung Argentina atau netral mengenakan jersey #10 saat pertandingan.

Karena ini Catalonia, wilayah yang dukungan kemerdekaannya mungkin meredup tetapi tetap kuat, banyak orang mendukung tim lain di Piala Dunia. Banyak yang mendukung Argentina justru karena pengaruh Messi.

Kapten Argentina itu masih memiliki kompleks mewah di Castelldefels dengan lapangan sepak bola sendiri, yang dilaporkan bernilai 8 juta dolar AS. Rumah itu berada di Bellamar, kawasan perbukitan di atas kota tepi laut berpenduduk sekitar 70.000 orang, tempat ia tinggal bersama keluarga pada masa kejayaannya di Barca.

Penggemar Barca masih menyimpan harapan Messi kembali ke kota itu saat ia pensiun. Rumor menguat ketika ia baru-baru ini dikabarkan membeli Unio Cornella, klub kasta kelima di Spanyol.

Ia dulu mengantar anak-anaknya ke sekolah Inggris setempat, disaksikan pejalan kaki yang takjub. Sebelum menjadi megabintang global, ia bisa minum tenang di bar tepi laut bersama istrinya dan menandatangani autograf atau berfoto tanpa masalah.

Hampir semua orang di kota mapan di pesisir Mediterania itu punya cerita tentang bertemu Messi, meski tidak semuanya benar. La Pampa adalah salah satu dari banyak restoran steak Argentina yang dulu sering ia datangi, dan pemiliknya diam-diam memamerkan foto Messi tersenyum di depan kamera.

Bagi pengunjung muda, Ankara Burger dipenuhi jersey klub-klub Argentina seperti Boca Juniors, River Plate, atau Independiente. Catalonia, wilayah timur laut Spanyol dengan ibu kota Barcelona, memiliki populasi ekspatriat Argentina terbesar di Spanyol, berjumlah 37.980 orang.

Di luar pesisir Mediterania ini, kontroversi mencuat soal pemain Argentina yang memamerkan spanduk politik mendukung klaim kedaulatan Argentina atas Kepulauan Falkland setelah semifinal melawan Inggris. Aksi itu tampak melanggar kode etik stadion FIFA dan memicu sensitivitas di Inggris terkait kedaulatan politik.

Dukungan Presiden Argentina Javier Millei kepada Israel juga memantik kontroversi di negara seperti Spanyol, di mana jajak pendapat menunjukkan mayoritas publik mendukung Palestina. Namun di Castelldefels, pertengkaran politik ribuan kilometer jauhnya tidak ada di benak para penggemar pada Minggu malam.

Bendera Spanyol dan Argentina berkibar di luar apartemen Gio dan Gema Gonzalez, menggambarkan peleburan budaya setempat. Gio Gonzalez pindah dari Buenos Aires ke Spanyol pada 2000, bertemu istrinya Gema di Barcelona, lalu pindah ke Castelldefels pada 2007.

Seperti ribuan orang lain, mereka menonton di layar raksasa yang diadakan dewan kota. “Saya fanatik Argentina, jadi saya bermimpi kami menang lagi, tetapi ternyata tidak; pertandingan berat, namun saya senang untuk istri saya karena Spanyol bisa menang,” kata Gio, 54 tahun, ilmuwan peneliti.

Gema, 46 tahun, ibu rumah tangga, tersenyum lebar setelah kemenangan Spanyol. “Saya kasihan pada suami saya—tapi sedikit saja; saya pikir Spanyol lebih baik dan pantas menang, dan saya tahu saya akan berkata begitu, tetapi saya rasa kami tim terbaik di turnamen ini,” ujarnya sambil tertawa.

Kata kunci “Spanyol juara Piala Dunia” sering dibaca sebagai kisah kemenangan tunggal, padahal di Castelldefels ia berubah menjadi cerita dua identitas yang saling menempel. Sub-keyword seperti “Castelldefels” dan “diaspora Argentina di Spanyol” membantu menjelaskan mengapa selebrasi di satu kota bisa terasa lebih kompleks daripada di pusat-pusat lain.

Data yang disebut artikel menyodorkan konteks penting: Catalonia menampung 37.980 ekspatriat Argentina, terbesar di Spanyol. Angka itu bukan sekadar statistik, karena ia membentuk ekosistem kuliner, ruang publik, dan kebiasaan menonton bola yang membuat final terasa seperti pesta keluarga besar.

Di jalanan, kembang api dan teriakan “Campeones” menyimbolkan kemenangan, tetapi pelukan antarpendukung menunjukkan negosiasi emosi yang lebih halus. Dalam ruang yang sama, kemenangan Spanyol tidak otomatis berarti kekalahan sosial bagi Argentina, karena relasi antarwarga lebih kuat daripada hasil 90 menit.

Faktor Messi bekerja seperti “jembatan budaya” yang tidak dimiliki pemain lain. Ia bukan sekadar legenda Barcelona, melainkan jejak hidup yang konkret: rumah di Bellamar, cerita mengantar anak sekolah, dan foto-foto di restoran yang menjadi arsip informal kota.

Dengan demikian, “Messi di Castelldefels” bukan nostalgia kosong, melainkan kapital simbolik yang menguntungkan ekonomi lokal. Restoran steak Argentina, bar tepi pantai, dan tempat makan bertema jersey klub menjadi ruang di mana identitas diaspora dipertahankan sekaligus dijual sebagai pengalaman.

Menariknya, artikel juga menyinggung dua kontroversi global: spanduk Falkland dan dukungan Javier Millei terhadap Israel, yang berseberangan dengan kecenderungan opini publik Spanyol yang pro-Palestina. Kontras ini memperlihatkan bagaimana sepak bola bisa menjadi kanal politik, namun juga bisa menjadi ruang “penangguhan politik” ketika warga memilih fokus pada kebersamaan.

Di Castelldefels, penangguhan itu tampak jelas pada malam final, ketika pertengkaran geopolitik tidak masuk ke percakapan utama. Ini bukan berarti politik hilang, melainkan tersimpan, karena yang sedang bekerja adalah logika komunitas: menjaga harmoni di lingkungan yang sudah terlanjur campur.

Kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia memamerkan paradoks modern: nasionalisme meledak, tetapi kota-kota global kecil seperti Castelldefels membuat nasionalisme itu “beradab” melalui interaksi sehari-hari. Di sana, bendera bukan hanya tanda klaim, melainkan dekorasi identitas yang bisa berdampingan di balkon apartemen.

Messi menjadi simbol yang melampaui negara, sekaligus memperlihatkan ketergantungan emosional Catalonia pada figur yang sebenarnya tidak “milik” Spanyol. Dukungan pada Argentina “karena Messi” juga menyiratkan bahwa loyalitas sepak bola kini sering dipandu oleh ikon, bukan paspor.

Namun ada sisi kritis yang tidak boleh dilewatkan: romantisasi Messi dan diaspora bisa menutupi ketegangan yang sewaktu-waktu muncul ketika politik global masuk ke ruang stadion. Spanduk Falkland dan perdebatan Israel-Palestina menunjukkan bahwa sepak bola tetap rentan dijadikan panggung, dan harmoni lokal dapat retak jika simbol-simbol itu dibawa pulang ke lingkungan.

Di titik ini, kisah Gio dan Gema Gonzalez terasa sebagai potret yang lebih jujur daripada slogan juara. Mereka menunjukkan cara dewasa mengelola kekalahan dan kemenangan dalam satu rumah, tanpa harus mengubah pertandingan menjadi perang identitas.

Castelldefels mengajarkan bahwa “Spanyol juara Piala Dunia” tidak selalu berakhir pada euforia satu warna, karena diaspora Argentina dan bayang-bayang Messi membuat perayaan menjadi ruang berbagi. Dalam kota yang sama, orang bisa meneriakkan “Campeones” sambil tetap menghormati duka kecil tetangga yang timnya kalah.

Pertanyaannya, setelah kembang api padam, apakah sepak bola akan tetap menjadi bahasa bersama yang menahan politik agar tidak memecah ruang sosial. Atau justru sebaliknya, ia akan menjadi pintu masuk bagi konflik global yang pelan-pelan merembes ke balkon-balkon yang hari ini masih memasang dua bendera sekaligus. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Juli 2026)