Ben Askren Kembali Gulat Usai Transplantasi Paru di RAF 11
ORBITINDONESIA.COM – Ben Askren kembali gulat di RAF 11 hanya setahun setelah transplantasi paru ganda yang nyaris merenggut nyawanya. Ia akan menghadapi Belal Muhammad di Milwaukee, tepat di hari ulang tahunnya, dengan tubuh baru dan batas baru.
Sulit membayangkan seorang mantan Olympian yang sempat koma berhari-hari kini kembali naik matras. Pada Juni 2025, Askren muncul dengan kondisi yang nyaris tak dikenali, setelah perawatan intensif dan operasi transplantasi paru ganda.
Setahun kemudian, ia menyebut fase itu seperti mimpi buruk yang kadang terasa tidak nyata. Namun ia juga menegaskan hidupnya mulai kembali “normal”, meski harus minum obat setiap hari dan hidup dengan sejumlah keterbatasan.
Dalam dunia olahraga tarung, comeback sering dipuja sebagai kisah heroik. Tetapi transplantasi organ bukan sekadar cedera, melainkan perubahan permanen pada cara tubuh bertahan, pulih, dan menghadapi risiko.
Askren mengakui tubuhnya mengalami transformasi dramatis, terutama setelah berbulan-bulan rehabilitasi. Ada masa ketika ia bahkan kesulitan bernapas saat mencoba menyesuaikan diri dengan realitas baru pasca-transplantasi.
Yang menarik, titik baliknya bukan panggilan promotor atau ambisi comeback, melainkan rutinitas melatih di Askren Wrestling Academy. Ia mulai “balik matras” secara spontan, lalu menguji diri dalam simulasi pertandingan enam menit melawan pegulat SMA berbobot sekitar 190 pon.
Ia menang, tetapi dengan gaya “super konservatif” karena takut tumbang di menit keempat atau kelima. Dari sini terlihat bahwa yang ia kejar bukan sensasi, melainkan pembuktian bertahap bahwa tubuhnya masih bisa diajak bekerja.
Validasi terpenting justru datang dari ranah medis, bukan sorak penonton. Askren menyebut pemeriksaan satu tahunannya berjalan baik, obat-obatan banyak yang dikurangi, dan dokter memberi lampu hijau untuk bertanding.
Detail pengurangan obat ini penting karena pasien transplantasi umumnya bergantung pada imunosupresan untuk mencegah penolakan organ. Semakin tinggi dosis, semakin besar pula kompromi pada daya tahan tubuh, sehingga “kesiapan bertanding” tidak bisa dibaca hanya dari bentuk fisik.
Di sisi lain, RAF 11 memposisikan laga ini sebagai co-main event, yang berarti eksposurnya besar dan tekanannya nyata. Pertandingan ini juga memunculkan dilema publik yang diucapkan Muhammad: menang terasa seperti mengalahkan orang yang baru pulih, kalah terasa memalukan karena kalah dari orang yang baru pulih.
Askren justru membalik kerangka itu dengan menyebutnya “hanya pertandingan gulat”. Ia menolak gagasan bahwa mengalahkan orang lain di olahraga tarung membuat seseorang lebih bermoral atau lebih bernilai sebagai manusia.
Comeback Askren memikat karena ia menolak mitologi “pahlawan tak terkalahkan” dan memilih narasi yang lebih manusiawi. Ia mengakui keterbatasan, tetapi juga menolak hidup dipandu rasa malu atau komentar publik.
Dalam logika budaya olahraga, kemenangan sering menjadi satu-satunya mata uang kehormatan. Askren menyebut pola itu “bodoh” dan “kontraproduktif”, karena membuat banyak orang takut mencoba sesuatu demi menjaga harga diri.
Pernyataannya tentang “hidup memang sulit” juga terasa sebagai kritik halus pada industri motivasi instan. Ia tidak menjual harapan murahan, melainkan menekankan bahwa hidup berubah selamanya, tetapi masih bisa tetap hebat.
Ada ironi yang kuat dalam kalimatnya kepada Muhammad: “Kalau dia mengalahkan saya, dia bisa bilang mengalahkan seorang Olympian.” Ia menegaskan identitasnya tidak hilang karena transplantasi, sekaligus menolak mengubah dirinya menjadi objek belas kasihan.
Namun justru di sini publik perlu berhati-hati membaca pesan. Kisah ini bukan template universal bahwa semua pasien transplantasi harus “kembali bertanding”, melainkan contoh bahwa pemulihan dan makna hidup bisa mengambil bentuk yang berbeda-beda.
Askren menegaskan RAF 11 akan menjadi pertandingan gulat terakhirnya, dan setelah itu ia “menggantung sepatu” untuk selamanya. Kombinasi satu tahun pasca-transplantasi, ulang tahun, dan kota kelahiran membuat momen ini terasa terlalu tepat untuk dilewatkan.
Jika ia menang, itu kemenangan atas ring, tetapi juga atas ketakutan yang pernah membuat napasnya tersendat. Jika ia kalah, ia tetap memperlihatkan sesuatu yang lebih langka: keberanian untuk hidup tanpa dikendalikan ego.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesarnya bukan siapa yang menang di matras, melainkan apa yang kita lakukan setelah hidup memaksa kita memulai dari nol. Dan mungkin, seperti kata Askren, hidup yang paling bermakna justru lahir dari tantangan yang tidak kita pilih. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Juli 2026)