ANALISIS: Flydubai, Netanyahu dan Sejumlah Pertanyaan yang Belum Terjawab

Ilustrasi penerbangan Flydubai.

Ilustrasi penerbangan Flydubai.

Internasional

ORBITINDONESIA.COM - Ada sebuah pesawat Flydubai yang terbang dari Dubai menuju Tel Aviv. Di ketinggian sekitar 34.000 kaki, pesawat itu tiba-tiba mengalami penurunan ekstrem. Di dalam kokpit terjadi perkelahian. Sang kapten terluka. Pesawat sempat kehilangan kendali.

Sejumlah penumpang menerobos masuk ke kokpit. Seorang penumpang mengambil alih kendali untuk sementara. Dua pilot cadangan yang kebetulan berada di dalam pesawat kemudian membantu menstabilkan penerbangan. Pesawat akhirnya mendarat di Tabuk, Arab Saudi. Tidak ada penumpang yang tewas.

Kalau cerita itu berhenti di sana, dunia mungkin akan mengenangnya sebagai salah satu insiden penerbangan paling dramatis tahun ini—sebuah bencana yang nyaris terjadi tetapi berhasil dicegah oleh keberanian penumpang dan awak pesawat.

Namun cerita itu tidak berhenti di sana. Ada Benjamin Netanyahu. Dan ada sejumlah pertanyaan yang membuat insiden Flydubai Flight FZ1073 terus hidup di media sosial.

Bukan karena semua teori yang beredar di media sosial benar. Justru sebaliknya. Sebagian teori itu jelas merupakan spekulasi tanpa bukti. Tetapi ada pula pertanyaan yang sah secara jurnalistik dan memang belum seluruhnya memperoleh jawaban. Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Dari "insiden" menjadi "serangan teroris"

Pada awalnya, Flydubai sendiri sangat berhati-hati. Dalam pernyataan resminya, maskapai hanya mengatakan bahwa FZ1073 mengalami sebuah "incident" selama penerbangan. Pesawat mendarat dengan selamat di Tabuk dan seluruh penumpang serta awak berada dalam keadaan aman.

Flydubai mengatakan mereka bekerja sama dengan pihak berwenang dan menunggu hasil penyelidikan. Tidak ada kata "terorisme". Tidak ada kata "jihad". Tidak ada tuduhan bahwa insiden tersebut merupakan operasi yang dirancang untuk membunuh warga Israel.

Sikap hati-hati seperti ini sebenarnya masuk akal. Sebuah maskapai penerbangan tidak seharusnya menentukan motif kriminal sebelum penyelidikan selesai. Tetapi narasi politik bergerak jauh lebih cepat daripada narasi investigasi.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu segera mengatakan bahwa kopilot telah menyerang pilot dan berusaha menjatuhkan pesawat. Pada tahap awal, Netanyahu bahkan mengatakan kepada CBS bahwa ia tidak menganggapnya sebagai pembajakan dalam pengertian konvensional. Ia menduga tindakan itu lebih menyerupai percobaan bunuh diri, berdasarkan keterangan penumpang.

Sehari kemudian, narasinya menjadi jauh lebih tegas. Netanyahu mengatakan kopilot tersebut telah mengalami "Islamist radical indoctrination". Ia juga mengatakan pelaku bermaksud menjatuhkan pesawat bersama seluruh penumpangnya.

Kemudian muncul istilah "teroris", "serangan jihad", bahkan perbandingan dengan 11 September. Perubahan bahasa ini tentu menarik perhatian.

Bukan berarti Netanyahu pasti salah. Tetapi secara jurnalistik, pertanyaannya sederhana: apa yang berubah dalam waktu kurang dari 24 jam sehingga sebuah tindakan yang semula motifnya belum jelas kemudian dipresentasikan sebagai serangan teroris yang didorong radikalisasi Islam? Jawabannya mulai muncul belakangan.

Ternyata memang ada bukti baru

Perkembangan terbaru pada 3 Oktober membuat persoalannya lebih rumit. Jaksa Agung Uni Emirat Arab, Hamad Saif Al Shamsi, mengatakan penyelidikan menemukan bahwa kopilot menyerang kapten menggunakan crash axe di dalam kokpit dan berusaha mengambil alih kendali pesawat. Otoritas UAE bahkan menyebutnya sebagai upaya melakukan tindakan teroris.

Artinya, salah satu pertanyaan yang sebelumnya menjadi bahan perdebatan—apakah benar terjadi serangan fisik di kokpit dan apakah pelaku mencoba mengambil kendali pesawat—kini memiliki dasar resmi yang jauh lebih kuat.

Jadi, mereka yang mengatakan seluruh cerita Flydubai hanyalah "cerita Netanyahu" jelas terlalu jauh. Tetapi itu juga tidak berarti seluruh versi Netanyahu otomatis telah terbukti. Sebab jaksa UAE sendiri mengatakan penyelidikan masih berlangsung untuk mengetahui motif, keadaan lengkap insiden, kemungkinan hubungan dengan pihak lain, serta bukti fisik dan digital.

Dengan kata lain, tindakan pelaku sudah semakin jelas. Motif dan jaringan di belakangnya belum. Perbedaan ini sangat penting.

Pertanyaan terbesar: bagaimana orang ini bisa berada di kokpit?

Barangkali inilah pertanyaan paling serius dari seluruh kasus Flydubai. Kalau laporan yang muncul dari sumber-sumber penyelidikan benar, kopilot tersebut sebelumnya pernah menghadapi persoalan dalam karier penerbangannya di Oman.

ABC News melaporkan, berdasarkan keterangan pejabat intelijen dan penegak hukum, bahwa pria tersebut pernah bekerja sebagai trainee kopilot Oman Air pada 2024 dan saat itu ditemukan memiliki materi ekstremis. Ia kemudian disebut tidak lagi diperbolehkan terbang.

Wall Street Journal juga melaporkan bahwa ia pernah dilarang terbang oleh Oman karena kekhawatiran mengenai radikalisasi. Kalau informasi itu benar, muncul pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar "mengapa ia menyerang pilot?"

Bagaimana seseorang yang sebelumnya dianggap sebagai risiko keamanan kemudian bisa menjadi kopilot di sebuah maskapai internasional dan terbang dalam rute yang sensitif menuju Israel? Ini adalah pertanyaan tentang sistem. Bukan hanya tentang individu.

Apakah informasi dari Oman diteruskan kepada Flydubai? Apakah Flydubai mengetahui riwayat tersebut? Apakah pemeriksaan latar belakang dilakukan? Apakah ada perubahan status keamanan setelah ia berpindah perusahaan? Apakah Israel menerima informasi mengenai kru asing yang membawa pesawat menuju wilayahnya?

Dan apabila Israel sekarang mengatakan akan memperketat pemeriksaan semua pilot yang terbang menuju Israel, apakah itu berarti sistem sebelumnya memang memiliki celah? Semua pertanyaan tersebut jauh lebih substantif daripada teori "false flag" yang bertebaran di media sosial.

Ada pula kejanggalan soal timing

Kemudian datang pertanyaan yang lebih sensitif. Sehari sebelum insiden Flydubai, Netanyahu tampil di depan sebuah pesawat tempur F-15 dan mengatakan bahwa Israel memiliki indikasi bahwa musuh-musuhnya mungkin akan melakukan serangan menjelang pemilu.

Beberapa jam kemudian, terjadi insiden di pesawat yang membawa mayoritas penumpang Israel. Secara statistik dan logika jurnalistik, ini tentu menarik perhatian. Tetapi "menarik perhatian" tidak sama dengan "membuktikan keterkaitan".

Netanyahu sendiri kemudian mengatakan peringatannya sehari sebelumnya tidak secara spesifik berkaitan dengan Flydubai. Ia mengatakan Israel memperoleh banyak informasi mengenai kemungkinan serangan terhadap warga Israel dari kelompok-kelompok yang dianggap sebagai proksi Iran.

Pemimpin oposisi Yair Lapid, menurut laporan media Israel, mengatakan setelah menerima pengarahan keamanan bahwa ia tidak memperoleh informasi tentang ancaman spesifik baru.

Maka pertanyaan yang rasional bukanlah: "Apakah Netanyahu sudah tahu?" Belum ada bukti publik yang cukup untuk menyimpulkan demikian.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: Informasi apa sebenarnya yang dimiliki pemerintah Israel sehari sebelum insiden? Seberapa spesifik informasi itu? Apakah menyangkut penerbangan, maskapai, awak pesawat atau hanya peringatan umum mengenai ancaman terhadap Israel?

Itu pertanyaan yang hanya dapat dijawab melalui penyelidikan keamanan dan intelijen.

Mengapa Netanyahu begitu cepat mengambil panggung?

Ada satu faktor lain yang tidak boleh diabaikan: politik. Israel akan menggelar pemilu pada 27 Oktober 2026. Keamanan selalu menjadi salah satu isu paling kuat dalam politik Israel. Netanyahu selama puluhan tahun membangun identitas politiknya sebagai pemimpin yang memahami ancaman keamanan terhadap Israel.

Insiden Flydubai, dengan penumpang Israel yang selamat dari dugaan serangan di udara, secara alamiah kembali menempatkan isu keamanan di pusat perhatian.

Netanyahu bertemu dengan para penumpang yang disebut membantu menyelamatkan pesawat. Ia memuji keberanian mereka. Ia menyebut potensi bencana tersebut sekelas 9/11.

Secara komunikasi politik, gambar-gambar itu sangat kuat. Tetapi sekali lagi, kita harus membedakan dua hal. Pemanfaatan politik terhadap sebuah peristiwa tidak berarti peristiwa itu dibuat-buat. Seorang politisi dapat memanfaatkan sebuah krisis yang benar-benar terjadi untuk memperkuat pesan politiknya. Itu adalah dua persoalan yang berbeda.

Karena itu, pertanyaan yang lebih fair bukan "Apakah Netanyahu merekayasa Flydubai?" Pertanyaannya adalah: seberapa jauh pemerintah Israel membingkai sebuah insiden yang masih diselidiki menjadi narasi politik sebelum seluruh fakta tersedia?

Foto Netanyahu bersama penumpang dan persoalan "darah"

Media sosial juga ramai oleh foto Netanyahu bertemu Yaniv Hayun, salah seorang penumpang yang disebut ikut melumpuhkan pelaku. Dalam foto tersebut, Hayun masih mengenakan pakaian yang tampak bernoda darah.

Bagi sebagian pengguna media sosial, foto itu dianggap aneh. Bagaimana mungkin seorang perdana menteri bertemu seseorang dengan pakaian penuh darah seolah-olah adegan itu merupakan bagian dari sebuah produksi politik?

Tetapi ini belum bukti bahwa insiden tersebut palsu. Darah pada pakaian dapat berasal dari korban yang terluka. Dan memang kapten pesawat, Smit Machchhar, mengalami luka serius dalam serangan tersebut. Jadi, menjadikan foto itu sebagai "bukti rekayasa" adalah lompatan logika.

Yang lebih menarik justru adalah mengapa pemerintah memilih menampilkan foto tersebut kepada publik begitu cepat. Jawabannya kemungkinan besar sederhana: karena gambar tersebut sangat kuat. Ia memperlihatkan "pahlawan" yang baru saja menyelamatkan ratusan nyawa dan seorang perdana menteri yang datang untuk menghormatinya. Dalam politik modern, gambar sering berbicara lebih cepat daripada laporan investigasi.

Tetapi ada satu hal yang justru membuat cerita ini semakin masuk akal

Ironisnya, perkembangan terakhir justru membuat insiden tersebut tampak lebih serius, bukan lebih palsu. Data penerbangan menunjukkan pesawat mengalami penurunan ekstrem. Pesawat yang terbang di sekitar 34.000 kaki kehilangan lebih dari 16.000 kaki dalam waktu sekitar 30 detik sebelum berhasil distabilkan.

Sistem pesawat juga sempat mengirim kode keadaan darurat 7700 dan kemudian kode 7500 yang menandakan unlawful interference, sebelum kembali ke 7700. Ini bukan sekadar cerita yang muncul dari pidato Netanyahu.

Ada jejak teknis penerbangan, rekaman komunikasi, kapten yang terluka, penumpang yang masuk ke kokpit, kopilot yang ditahan, pendaratan darurat di Tabuk. Dan sekarang ada keterangan resmi dari otoritas UAE mengenai penggunaan crash axe dan upaya mengambil alih pesawat.

Dengan kata lain, peristiwa dasarnya sangat nyata. Yang masih harus dibuktikan adalah cerita di balik peristiwa itu. Di sinilah media sosial sering bergerak terlalu cepat.

Beberapa jam setelah insiden, tuduhan bahwa Flydubai merupakan "false flag" mulai beredar. Ada yang menuduh Mossad, ada yang menuduh Netanyahu, ada yang mengaitkannya dengan pemilu, bahkan ada yang menganggap seluruh adegan tersebut sebagai operasi propaganda.

Masalahnya adalah: belum ada bukti kredibel yang menunjukkan bahwa Israel merancang insiden tersebut. Sebaliknya, sejumlah laporan investigatif justru menunjukkan adanya pertanyaan serius mengenai proses rekrutmen dan vetting terhadap kopilot.

Jadi dua ekstrem sama-sama bermasalah. Ekstrem pertama mengatakan: "Semua versi Israel pasti benar." Ekstrem kedua mengatakan: "Karena Netanyahu punya kepentingan politik, berarti insiden itu pasti rekayasa." Keduanya sama-sama melompati proses pembuktian.

Pertanyaan yang jauh lebih menarik

Kalau ingin mencari "kejanggalan" yang benar-benar layak diteliti, ada beberapa pertanyaan yang jauh lebih kuat.

Pertama, bagaimana seorang penerbang yang sebelumnya disebut memiliki persoalan keamanan bisa kembali memperoleh akses ke kokpit?

Kedua, apakah otoritas Oman pernah menyampaikan informasi tersebut kepada Flydubai atau otoritas penerbangan negara lain?

Ketiga, bagaimana pemeriksaan kru dilakukan oleh maskapai yang menerbangkan pesawat menuju Israel?

Keempat, mengapa pada tahap awal maskapai memilih istilah yang sangat netral—"incident" dan "altercation"—sementara pemerintah Israel segera menggunakan bahasa terorisme?

Kelima, kapan tepatnya bukti mengenai radikalisasi diperoleh?

Keenam, apakah benar terdapat motif ideologis anti-Yahudi, atau apakah kesimpulan tersebut dibuat terlalu dini sebelum pemeriksaan bukti digital dan psikologis selesai?

Ketujuh, apakah pelaku bekerja sendiri?

Dan kedelapan, apakah peringatan Netanyahu sehari sebelumnya memang hanya kebetulan, atau ada informasi intelijen yang lebih spesifik yang belum dibuka kepada publik? Pertanyaan terakhir sangat sensitif. Tetapi justru karena sensitif, ia harus dijawab dengan bukti, bukan dengan teori.

Maka, mungkin sikap paling waras terhadap Flydubai bukan percaya begitu saja pada versi Netanyahu, tetapi juga bukan langsung percaya pada teori konspirasi yang beredar di X. Yang perlu dilakukan adalah menunggu bukti berikutnya. Sebab dalam kasus seperti ini, pertanyaan yang baik jauh lebih berharga daripada kesimpulan yang terlalu cepat. ***