Monica JR - Pengudusan Badai-Badai Batin Kita: Sebuah Refleksi tentang Emosi yang Dikelola

Ilustrasi Janggi.

Ilustrasi Janggi.

Opini

Oleh Monica JR

ORBITINDONESIA.COM - Kita sering memperlakukan emosi-emosi paling mentah dalam diri kita: seperti kemarahan, ketakutan, dan kesedihan, seolah-olah mereka itu penyusup.

Kita ingin sekali mengunci emosi-emosi itu di luar, menguburnya, atau berpura-pura bahwa mereka tidak ada. Seolah-olah merasa marah membuat kita buruk. Seolah-olah merasa takut membuat kita lemah.

Padahal kedewasaan emosional bukanlah tentang mengebiri emosi. Ia adalah tentang menguduskannya.

Ada kebenaran sederhana dalam kata emosi itu sendiri: ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ bisa dibaca sebagai energi in motion, energi yang bergerak. Emosi adalah arus yang mengalir melalui diri kita, memberi kita informasi penting tentang batas diri, luka, kebutuhan, dan lingkungan kita.

Ketika arus itu kita bendung sepenuhnya, arus itu tidak hilang. Ia hanya tergenang. Dan air yang tergenang, lama-lama menjadi toxic, beracun.

Kita boleh banget untuk merasa takut, merasa marah. Justru jika kita tidak mengizinkan diri merasakan emosi-emosi itu, kita tidak akan pernah memahaminya.

Dan... jika kita tidak memahaminya, kita tidak akan pernah mampu mengarahkannya. Ibarat mobil, kita tidak bisa mengemudikan mobil yang bahkan tidak mau kita akui sedang kita kendarai.

Kemarahan sendiri sebenarnya seperti api yang netral. Yang menentukan apakah ia membakar atau menerangi adalah bahan bakarnya.

๐—”๐—ฑ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—ฒ๐—ด๐—ผ. Ia diberi makan oleh pikiran, โ€œ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ผ๐™†๐™ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.โ€ Kemarahan jenis ini merusak. Ia berpusat pada diri sendiri. Ia mudah berubah menjadi api liar yang membakar apa saja hanya untuk membela citra diri yang rapuh.

Tetapi ada juga ๐—ธ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ท๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป. Ia diberi makan oleh keyakinan, โ€œ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐—ต ๐—ฝ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜€๐—ถ๐—ฝ ๐—ต๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฎ๐—ท๐—ถ๐—ธ ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—ฟ.โ€ Kemarahan seperti ini lahir dari keadilan, belas kasih, dan kebijaksanaan. Ia tidak ingin menghancurkan orangnya. Ia ingin memperbaiki ketidakadilannya.

Kemarahan yang matang tidak sembarang melempar piring, gelas, TV, dan iPhone 17, oops! Karena kalau sudah rusak, jadi pecah belah, adanya kita menyesal.

Dan seringkali yang pecah kadang bukan hanya benda-benda. Yang retak bisa juga relasi, kepercayaan, bahkan masa depan.

Kisah Claus Luthe mengingatkan kita tentang bahaya emosi yang tidak terkelola. Ia adalah desainer legendaris BMW, sosok di balik mobil ikonik seperti BMW E30 Seri 3 dan E32 Seri 7. Dalam dunia profesional, ia menguasai bentuk, presisi, dan harmoni. Namun hidup manusia tidak selalu serapi karya yang ia ciptakan.

Pada Jumat Agung 1990, sebuah pertengkaran meledak setelah konflik keluarga panjang terkait pergumulan putranya yang bernama Ulrich, yang juga ketergantungan pada narkoba dan alkohol.

Dalam satu ledakan emosi yang tak terkendali, Luthe menikam dan membunuh putranya sendiri. Ia dihukum atas pembunuhan tidak berencana.

Tetapi yang lebih tragis, hidup dan warisannya, selamanya dibayangi satu momen ketika badai batin mengambil alih kemudi.

Kisah itu mengingatkan kita: seseorang bisa brilian dalam struktur baja, matematika, musik, atau desain, tetapi tetap rapuh di wilayah batinnya sendiri.

Karena itu emosi membutuhkan jangkar. Nah, bagi saya, jangkar itu adalah keyakinan. Jika keyakinan terdalam kita berpusat pada perlindungan ego, setiap kritik terasa seperti perang.

Tetapi jika ia berakar pada anugerah, keadilan, kesabaran, dan pengertian bahwa luka orang lain tidak selalu harus kita tanggung sebagai serangan pribadi, maka emosi mulai menemukan arah.

Dalam perjalanan saya, ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ฅ๐—ฒ๐—ณ๐—ผ๐—ฟ๐—บ๐—ฒ๐—ฑ menjadi jangkar yang dalam. Iman itu mengajarkan bahwa saya tidak diselamatkan oleh prestasi, tidak dibenarkan karena menang debat, dan tidak menjadi aman karena berhasil mempertahankan ego.

Saya dipegang oleh anugerah.

Karena itu, saya tidak perlu mengubah setiap luka menjadi senjata. Emosi saya nyata, tetapi emosi saya bukan tuan saya. Ego saya bersuara keras, tetapi ego saya bukan Tuhan saya.

Lalu Tuhan memberi saya guru lain, dengan cara yang tidak saya duga.

๐—ก๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ถ

Hampir tiga tahun Janggi, seekor bichon frisรฉ imut ini, hidup bersama saya. Ia tidak berbicara, tidak berkhotbah, tidak menjelaskan teologi. Tetapi setiap hari, ia menunjukkan cinta, kesetiaan, kesabaran, dan pengampunan.

Ia selalu menunggu, menyambut saya tiap pergi dari luar. Ia mencintai tanpa perhitungan.

Ketika saya pulang lelah, ia tidak bertanya apakah saya berhasil atau gagal. Ketika suasana hati saya berat, ia tetap dekat.

Cintanya tidak hadir dalam kata-kata indah, tetapi dalam kehadiran, konsistensi, dan kesetiaan.

Perlahan saya sadar: cinta pertama-tama tidak dibuktikan oleh kata-kata. Cinta dibuktikan oleh buahnya.

Seperti dikatakan Kitab Suci, โ€œ๐˜ฟ๐™–๐™ง๐™ž ๐™—๐™ช๐™–๐™๐™ฃ๐™ฎ๐™–๐™ก๐™–๐™ ๐™ ๐™–๐™ข๐™ช ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™œ๐™š๐™ฃ๐™–๐™ก ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™–.โ€ (Matius 7:16).

Iman Reformed memberi saya jangkar teologis. Janggi memberi saya latihan harian untuk melihat anugerah itu menjadi nyata.

Maka ketika saya berbicara tentang emosi yang dikelola, saya tidak hanya berbicara tentang self-control. Saya berbicara tentang pengudusan.

Saya masih belajar. Saya masih dibentuk. Saya masih punya badai di dalam diri. Tetapi saya bersyukur, melalui iman, anugerah, dan bahkan Janggi, Tuhan terus mengajar saya menjadi manusia yang tidak mudah reaktif, tidak terlalu digerakkan ego, lebih sabar, lebih lembut, dan lebih mengasihi.

Sebab pada akhirnya, ukuran kedewasaan kita bukanlah seberapa fasih kita berbicara tentang cinta.

Ukuran kedewasaan kita adalah apakah orang lain dapat melihat buah cinta itu di dalam hidup kita.

21 Juni 2026