Central Bank of India Ekspansi Wealth Management dan Kartu Kredit

BusinessLine

BusinessLine

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Central Bank of India menyiapkan bisnis wealth management dan kartu kredit untuk mendongkrak fee income pada paruh kedua tahun fiskal ini. CEO Kalyan Kumar menyebut persetujuan dewan sudah dikantongi dan peluncuran ditargetkan sekitar pertengahan tahun.

Langkah Central Bank of India memperluas wealth management dan kartu kredit muncul di tengah tekanan bank untuk menambah pendapatan berbasis komisi. Model pendapatan yang terlalu bergantung pada margin bunga membuat kinerja lebih rentan saat suku bunga dan biaya dana berubah.

Dalam wawancara dengan PTI, Kalyan Kumar mengatakan bank akan menerbitkan RFP untuk menggandeng pihak yang memiliki keahlian. Ia menegaskan targetnya jelas, yakni mulai menjalankan bisnis itu pada paruh kedua tahun fiskal berjalan.

Wealth management menawarkan peluang pendapatan berulang dari biaya pengelolaan dana, distribusi produk investasi, dan advisory. Kartu kredit juga memberi sumber fee dari interchange, annual fee, dan potensi cross-sell ke nasabah tabungan serta pinjaman.

Namun kedua lini ini bukan sekadar menambah produk, melainkan menambah kompetisi pada arena yang sudah padat. Bank swasta dan pemain fintech di India telah agresif menguasai kartu kredit dengan program loyalti, analitik data, dan pengalaman digital yang matang.

RFP yang disiapkan bank mengindikasikan pendekatan “build with partners” ketimbang membangun semua dari nol. Strategi ini bisa mempercepat time-to-market, tetapi menuntut tata kelola vendor yang ketat agar biaya akuisisi dan pembagian pendapatan tidak menggerus margin fee.

Untuk kartu kredit, risiko kredit ritel perlu dihitung konservatif karena portofolio ini sensitif terhadap siklus ekonomi dan perilaku konsumsi. Bank perlu memastikan underwriting, limit management, dan collection system berjalan disiplin agar pertumbuhan tidak berubah menjadi lonjakan NPA.

Pada wealth management, tantangan utamanya adalah kepercayaan dan kepatuhan, terutama bila bank menjual produk pihak ketiga. Tanpa standar suitability dan transparansi biaya, fee income bisa naik cepat, tetapi reputasi bisa jatuh lebih cepat saat terjadi mis-selling.

Pernyataan Kalyan Kumar tentang target peluncuran “by middle of the year” memberi sinyal bahwa bank mengejar momentum. Tetapi peluncuran yang terlalu cepat tanpa kesiapan data, CRM, dan pelatihan tenaga penjual berpotensi menghasilkan produk yang ada di brosur, namun lemah di eksekusi.

Ekspansi Central Bank of India ke wealth management dan kartu kredit terasa sebagai upaya mengejar sumber pendapatan yang lebih modern dan tahan guncangan. Ini juga mencerminkan pergeseran industri perbankan, dari sekadar penyalur kredit menjadi penyedia layanan finansial yang lebih lengkap.

Meski begitu, “ramp up fee income” tidak boleh menjadi satu-satunya kompas, karena fee yang sehat lahir dari layanan yang benar-benar dipakai dan dipercaya. Jika bank hanya mengejar angka, maka risiko operasional, kepatuhan, dan reputasi akan menjadi biaya tersembunyi yang mahal.

Keputusan menggandeng ahli lewat RFP adalah langkah realistis, tetapi bank harus memastikan kontrol tetap kuat. Di era persaingan digital, pengalaman nasabah dan integritas proses lebih menentukan daripada sekadar menambah lini bisnis.

Central Bank of India sedang mencoba membuka dua pintu pendapatan baru melalui wealth management dan kartu kredit, dengan restu dewan dan target peluncuran pada paruh kedua tahun fiskal. Keberhasilannya akan ditentukan oleh eksekusi, bukan oleh pengumuman.

Pertanyaannya sederhana, apakah bank akan membangun bisnis berbasis kepercayaan jangka panjang atau sekadar mengejar fee jangka pendek. Pada akhirnya, fee income yang paling kuat adalah yang lahir dari layanan yang membuat nasabah merasa aman, dipahami, dan tidak dimanfaatkan. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juli 2026)