Vaksin Cacar Air dan Shingles: Benarkah “Pandemi Shingles”?

Tirto.id

Tirto.id

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Vaksin cacar air disebut memicu “pandemi shingles”, sebuah klaim yang ramai dibagikan di Facebook dan memantik ketakutan publik. Padahal data CDC, kajian ilmiah, dan kebijakan terbaru NHS Inggris justru menunjukkan risiko shingles lebih rendah pada anak yang menerima vaksin varicella dibanding yang terkena cacar air alami.

(Orbit dari berbagai sumber, 8 September 2026)

Klaim viral itu menuding vaksin chickenpox vaccine “menghapus cacar air” tetapi “menciptakan krisis shingles” untuk generasi berikutnya. Narasi tersebut juga mengutip nama Gary Goldman dan menyebut Inggris serta Eropa menolak vaksin karena takut epidemi herpes zoster.

Di ruang komentar, ketakutan berubah menjadi penolakan vaksin dan kecurigaan pada otoritas kesehatan. Pola ini berulang dalam banyak isu kesehatan: potongan informasi ilmiah dipelintir menjadi tuduhan konspirasi.

(Orbit dari berbagai sumber, 8 September 2026)

Secara biologi, cacar air dan shingles memang berhubungan karena sama-sama disebabkan varicella-zoster virus (VZV). Setelah infeksi cacar air, virus dapat “tidur” lalu aktif kembali bertahun-tahun kemudian sebagai herpes zoster.

Namun, hubungan biologis tidak otomatis berarti vaksin cacar air menyebabkan lonjakan shingles. CDC menyatakan anak yang menerima vaksin varicella memiliki risiko herpes zoster lebih rendah dibanding anak yang mengalami cacar air alami.

CDC juga mengakui shingles tetap bisa terjadi pada orang yang pernah divaksin. Tetapi kasusnya lebih jarang, dan reaktivasi dari strain vaksin lebih rendah dibanding VZV tipe liar.

Sumber sains populer seperti Live Science menegaskan bukti yang ada tidak mendukung kesimpulan bahwa vaksin varicella meningkatkan risiko shingles secara umum. Public Health Communications Collaborative (PHCC) menyebut klaim “vaksin memicu shingles” sebagai menyesatkan karena mencampuradukkan risiko pascainfeksi alami dengan risiko pascavaksin.

Di titik inilah istilah “exogenous boosting” sering disalahgunakan. Dokter dan epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan hipotesis ini berasal dari R.E. Hope-Simpson (1965), yang menduga paparan berulang VZV liar dapat menyegarkan imunitas sel-T pada orang yang pernah terinfeksi.

Karena hipotesis itu, Inggris sempat menunda vaksinasi rutin cacar air pada 2002 dan 2010 melalui JCVI. Penundaan tersebut berbasis proyeksi model matematis tentang kemungkinan kenaikan sementara shingles pada generasi yang sudah pernah terinfeksi, bukan bukti bahwa vaksin “menciptakan” epidemi.

Masalahnya, model bukan realitas, dan realitas kini sudah tersedia. Setelah lebih dari 25 tahun program vaksinasi di Amerika Serikat, analisis surveilans dunia nyata dari jutaan catatan klaim asuransi periode 1998–2019 tidak menemukan bukti lonjakan herpes zoster pada orang dewasa akibat turunnya sirkulasi virus liar.

Riset pemodelan terbaru dari Universitas Cambridge juga mengoreksi asumsi lama. Durasi proteksi exogenous boosting diperkirakan jauh lebih singkat, sekitar 5 tahun, bukan 20–50 tahun seperti yang dulu dipakai untuk menahan kebijakan.

Klaim bahwa NHS Inggris “secara terbuka mengakui” menolak vaksin karena akan memicu epidemi shingles juga tidak sesuai fakta terbaru. Pada November 2023, JCVI justru merekomendasikan vaksin cacar air masuk jadwal imunisasi rutin, dan sejak 1 Januari 2026 NHS resmi memberikan vaksin cacar air dalam skema nasional (MMRV).

Artinya, contoh Inggris dipakai terbalik: kebijakan terkini justru berlawanan dengan narasi hoaks. FactCheck.org juga mencatat bahwa sebagian negara Eropa memang memvaksinasi cacar air, dan Inggris mulai melakukannya sejak Januari 2026.

Nama Gary S. Goldman pun kerap dijadikan “kartu truf” untuk menuduh CDC menutup data. Faktanya, ia adalah analis riset dalam proyek surveilans Antelope Valley (1995–2002) dengan latar statistika dan ilmu komputer, dan tuduhan “manipulasi data” yang ia gaungkan banyak beredar di kanal advokasi antivaksin tanpa konfirmasi independen dari otoritas kesehatan.

Lebih problematik lagi, klaim “shingles 20 kali lebih mematikan daripada cacar air” tidak punya rujukan epidemiologi yang dapat diverifikasi. Perbandingan angka kematian tunggal tanpa konteks usia dan status imun adalah cara klasik membuat publik panik dengan statistik yang dipreteli.

(Orbit dari berbagai sumber, 8 September 2026)

Hoaks vaksin cacar air menyebabkan pandemi shingles bekerja dengan teknik yang rapi: mengambil hipotesis ilmiah yang pernah diperdebatkan, lalu mengubahnya menjadi vonis mutlak. Ketika kata “hipotesis” diubah menjadi “bukti”, sains kehilangan kehati-hatian, dan publik kehilangan pegangan.

Ada ironi besar dalam narasi ini, karena ia menyamar sebagai “kritik farmasi” tetapi menutup mata pada data surveilans jangka panjang. Jika sebuah kebijakan kesehatan sudah berjalan puluhan tahun, maka yang paling kuat adalah bukti dunia nyata, bukan kutipan lama yang dipungut dari ekosistem disinformasi.

Ketakutan juga dipelihara dengan tokoh dan musuh bersama, seperti “Big Pharma” dan “CDC”, seolah semua peneliti berada dalam satu komplotan. Padahal keputusan kebijakan berubah justru karena mekanisme ilmiah bekerja: asumsi dikoreksi, model diperbarui, dan rekomendasi disesuaikan.

Di sini publik perlu memegang prinsip sederhana: adanya kasus shingles pada orang yang pernah divaksin bukan bukti vaksin penyebab “epidemi”. Bukti yang dirujuk otoritas kesehatan menunjukkan arah sebaliknya, yakni vaksin varicella menurunkan sirkulasi virus dan menekan risiko herpes zoster pada anak dibanding infeksi alami.

(Orbit dari berbagai sumber, 8 September 2026)

Klaim “vaksin cacar air memicu pandemi shingles” runtuh ketika diuji dengan data CDC, evaluasi ilmiah, dan fakta kebijakan NHS Inggris yang kini justru menjalankan vaksinasi nasional. Yang tersisa adalah pelajaran lama: disinformasi tumbuh subur saat potongan sains dipakai untuk menutupi keseluruhan bukti.

Pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar “siapa yang salah”, melainkan “mengapa kita mudah percaya pada narasi yang membuat marah dan takut”. Di tengah banjir konten, mungkin keberanian terbesar adalah menunda reaksi, memeriksa sumber, dan memberi ruang bagi bukti untuk berbicara.

(Orbit dari berbagai sumber, 8 September 2026)