Byron Donalds Rebut Suara Pemilih Kulit Hitam Florida

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Byron Donalds memburu suara pemilih kulit hitam Florida sambil menepis cap sebagai “boneka Trump”. Di sebuah restoran Karibia dekat Miami, ia ditodong pertanyaan soal biaya hidup yang melambung dan kesetiaannya pada Donald J. Trump.

Pria-pria kulit hitam di restoran Miami Gardens ingin tahu bagaimana Donalds akan menurunkan biaya hidup Florida yang terus meroket. Mereka juga menguji satu hal yang lebih politis: apakah ia akan tunduk pada bayang-bayang Trump yang kian tidak populer.

Donalds, anggota Kongres Partai Republik, membidik sejarah sebagai gubernur kulit hitam pertama Florida. Di hadapan pemilih, ia menegaskan namanya yang ada di surat suara, bukan nama Trump.

Seorang pemilih bernama Drumene Woodside, 53 tahun, mengaku akhirnya “terbujuk” dan akan memilih Donalds meski biasanya memilih Demokrat. Pengakuan itu menggambarkan target utama Donalds di fase akhir: menggerus loyalitas tradisional pemilih kulit hitam kepada Demokrat.

Laga ini mengejutkan karena Florida sudah lama dikenal sebagai wilayah merah yang stabil lebih dari satu dekade. Lawan Donalds adalah David Jolly, mantan anggota Kongres Republik kulit putih yang keluar dari partainya pada 2018 dan maju sebagai Demokrat.

Florida memiliki lebih dari 13 juta pemilih terdaftar, tetapi jumlah Republik kulit hitam kurang dari 100 ribu. Angka ini menegaskan betapa curamnya jalan Donalds bila berharap “membalik” basis pemilih kulit hitam secara masif.

Di Overtown, kawasan bersejarah komunitas kulit hitam Miami, sebuah acara Donalds tampak sepi. Sebagian peserta bahkan datang dari dua county lain dengan kendaraan yang disediakan organisasi nirlaba berbasis iman.

Kalyn James dari Miami hadir memakai pin dukungan untuk Angie Nixon, legislator negara bagian Demokrat kulit hitam yang maju ke Senat AS. Ia memegang papan kecil “Vote Blue” dan mengaku belum yakin kebijakan Republik akan menguntungkan warga kulit hitam.

Secara historis, hanya tiga gubernur kulit hitam pernah terpilih di Amerika Serikat, semuanya dari Partai Demokrat. Tidak ada satu pun yang terpilih lebih selatan dari Virginia, sehingga Florida menjadi ujian simbolik sekaligus ideologis.

Tahun ini, kedua partai mengusung tujuh kandidat gubernur kulit hitam, tiga di antaranya Republikan, termasuk Donalds. Di Florida, Demokrat belum menguasai kursi gubernur sejak 1990-an, setelah Andrew Gillum kalah tipis dari Ron DeSantis pada 2018.

Trump mencatat kenaikan dukungan dari pemilih kulit hitam dan Hispanik pada 2024, tetapi koalisi rapuh itu disebut mulai retak karena angka persetujuan Trump menurun. Banyak kandidat Republik kemudian berusaha menurunkan volume kedekatan mereka dengan presiden.

Namun Donalds justru mengantongi dukungan Trump bahkan sebelum resmi mendeklarasikan pencalonan. Di atas kertas, ia tetap diunggulkan karena jumlah pemilih terdaftar Republik di Florida lebih banyak sekitar 1,5 juta dibanding Demokrat.

Masalahnya, Donalds tampil kurang meyakinkan di beberapa county pedesaan yang didominasi pemilih kulit putih pada pemilihan pendahuluan. Jika pola itu berulang di pemilu umum yang ketat, dukungan pemilih kulit hitam bisa menjadi penentu, menurut Sean Freeder dari University of North Florida.

Donalds lahir di New York City dan pindah ke Florida untuk kuliah, dibesarkan ibu tunggal yang memilih Demokrat. Ia memiliki akar keluarga dari Panama dan Jamaika, tetapi di jalur kampanye ia cenderung mengecilkan makna simbolik “gubernur Republik kulit hitam pertama”.

Ia lebih sering menyebut Florida sebagai “meritokrasi yang hebat” dan menjual agenda keterjangkauan. Ia menawarkan rencana menekan krisis biaya hidup, menurunkan biaya asuransi, dan memperkuat bisnis.

Di forum Florida A&M University, kampus historis kulit hitam tempat ia pernah kuliah, Donalds menantang mahasiswa agar tidak bergerak “sebagai monolit” untuk Demokrat. “Kalian setia pada partai itu,” katanya, “apakah mereka setia pada kalian?”

Ia membangun legitimasi dengan dukungan tokoh kulit hitam lokal, termasuk dari kalangan Demokrat lama. Ia juga memasang iklan di media ber-audiens kulit hitam besar di Florida Selatan dan mendatangi gereja-gereja kulit hitam untuk menyampaikan visi konservatif.

Tim kampanyenya memasukkan Janiyah Thomas, mantan direktur media kulit hitam kampanye Trump 2024. Kehadiran figur ini bisa dibaca sebagai jembatan ke pemilih kulit hitam, tetapi juga mempertegas kaitan Donalds dengan Trump.

Di Lorna’s Caribbean & American Grill, Donalds mengakui ada persepsi bahwa ia menjalankan perintah Trump. Ia membantah dan menegaskan punya pikiran, opini, dan ide sendiri.

Menu conch fritters, oxtail dengan kacang polong, dan jerk chicken menjadi latar percakapan politik yang keras. Jude Civil, 56 tahun, relawan lama kampanye gubernur Demokrat, mengaku belum sepenuhnya yakin namun menghargai Donalds mau menjawab pertanyaan sulit.

Tiga pria di acara itu mengatakan tetap akan memilih Angie Nixon untuk Senat. Harapan kubu Donalds sederhana: sebagian pemilih Nixon mau “split ticket” dan memberi suara gubernur kepada Donalds.

Pertarungan Donalds-Jolly memperlihatkan dua strategi yang saling bertabrakan. Donalds mencoba memecah blok pemilih kulit hitam dengan narasi ekonomi dan mobilitas kelas, sementara Jolly memobilisasi identitas komunitas dan kekhawatiran tentang dampak kebijakan Republik.

Data struktural menguntungkan Donalds karena selisih 1,5 juta pemilih terdaftar Republik atas Demokrat. Namun data historis merugikannya karena pemilih kulit hitam Florida selama ini mendukung Demokrat dengan margin besar, sementara Republik kulit hitam tercatat kurang dari 100 ribu.

Ini membuat Donalds harus menang bukan dengan “membalik” mayoritas pemilih kulit hitam, melainkan dengan menggerus cukup persen di titik-titik padat pemilih. Florida Selatan menjadi kunci karena kaya pemilih kulit hitam dan Hispanik, sekaligus pusat biaya hidup yang terasa paling menggigit.

Keunggulan Donalds juga rapuh karena ia dilaporkan underperform di county pedesaan kulit putih pada primer. Jika dukungan kulit putih tidak maksimal, ia butuh kompensasi, dan satu-satunya kantong suara besar yang bisa diganggu adalah pemilih kulit hitam perkotaan.

Di sisi lain, Jolly membawa paradoksnya sendiri. Ia mantan Republik yang pindah haluan, sehingga harus membuktikan ketulusan kepada pemilih kulit hitam yang skeptis terhadap “konversi politik” jelang pemilu.

Keputusan Jolly memilih Gwen Graham sebagai calon wakil gubernur memicu kritik dari sebagian Demokrat kulit hitam. Cynthia Chestnut, komisioner kota Gainesville, menyebut banyak figur kulit hitam “overqualified” tetapi dilewati, lalu ia justru mendukung Donalds.

Perpecahan elite lokal ini penting karena pemilih sering mengikuti sinyal pemimpin komunitas, gereja, dan organisasi sipil. Donalds memanfaatkan celah itu lewat endorsement dan kunjungan gereja, sedangkan Jolly menambal lewat panggung tokoh nasional seperti Rev. Al Sharpton dan pengacara HAM Ben Crump.

Isu kebijakan juga memaku persepsi kandidat. Donalds dibayangi rekam jejak dukungan pada Trump dan DeSantis, dua figur yang dituding banyak pemimpin kulit hitam telah menekan inisiatif keberagaman, mengubah pelajaran sejarah ras, dan menggambar ulang distrik yang menurunkan representasi terpilih kulit hitam.

Senator negara bagian Shevrin D. Jones bahkan berkata ia rela “kehilangan” gubernur kulit hitam pertama jika sosoknya dianggap ikut “mendegradasi” komunitasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa simbol ras tidak otomatis mengalahkan substansi kebijakan.

Kontroversi lama Donalds ikut memperumit, terutama komentarnya pada 2024 saat berkampanye untuk Trump bahwa “lebih banyak orang kulit hitam memilih konservatif” pada era Jim Crow. Meski ia berulang kali mengatakan pernyataan itu dipelintir, luka persepsi tetap melekat di sebagian jemaat dan pemilih.

Di level akar rumput, kekhawatiran pemilih tidak selalu ideologis, melainkan praktis. Amanda Bazil, warga Haitian American, menekan Donalds soal kualitas sekolah swasta yang melonjak sejak bantuan biaya pendidikan diperluas pada 2023.

Bazil juga menyoroti imigrasi, isu yang sangat personal bagi diaspora Haiti di Florida. Donalds mendukung penegakan imigrasi agresif Trump, termasuk penghentian perlindungan legal yang memungkinkan sekitar 330 ribu warga Haiti tinggal dan bekerja di AS, dan ini membuat sebagian keluarganya takut deportasi.

Dalam konteks itu, kampanye Donalds tampak seperti upaya menukar identitas dengan tawaran “meritokrasi” dan stabilitas ekonomi. Tetapi bagi pemilih yang hidupnya dipengaruhi kebijakan imigrasi, pendidikan, dan representasi politik, meritokrasi terdengar abstrak jika negara bisa mencabut status legal sewaktu-waktu.

Florida sedang menguji apakah politik kulit hitam harus selalu bergerak sebagai blok, atau bisa dipatahkan oleh isu ekonomi dan kejenuhan pada Demokrat. Donalds memanfaatkan celah itu dengan kalimat tajam: “Kalian setia pada partai itu, apakah mereka setia pada kalian?”

Namun pertanyaan balasannya lebih tajam: setia pada siapa Donalds sebenarnya, pada pemilih atau pada koalisi Trump-DeSantis. Ketika ia membawa staf eks kampanye Trump 2024 dan tetap mengandalkan endorsement Trump, ia sulit meminta pemilih percaya bahwa ia sepenuhnya “bukan Trump”.

Di titik ini, narasi “gubernur kulit hitam pertama” menjadi pedang bermata dua. Ia bisa menginspirasi, tetapi juga bisa dianggap kosmetik jika kebijakan yang didukung dipersepsikan merugikan komunitas kulit hitam dan imigran kulit hitam.

Jolly pun bukan jawaban otomatis karena ia mantan Republik dan memilih pendamping yang memicu kekecewaan sebagian pemimpin kulit hitam. Pemilih kulit hitam Florida akhirnya dipaksa memilih bukan hanya kandidat, tetapi juga definisi “kepentingan komunitas” yang mereka yakini.

Yang paling menarik adalah bagaimana kedua kubu berlomba di ruang-ruang yang sama, yaitu gereja, restoran komunitas, dan kampus historis kulit hitam. Politik kembali ke meja makan, mimbar, dan forum mahasiswa, tempat kejujuran diuji lewat pertanyaan langsung, bukan iklan televisi.

Pemilu gubernur Florida kali ini bukan sekadar soal merah atau biru, tetapi soal siapa yang dipercaya memahami kecemasan sehari-hari pemilih kulit hitam. Biaya hidup, asuransi, sekolah, imigrasi, dan representasi menjadi paket lengkap yang tidak bisa dijawab dengan slogan.

Jika Donalds menang, ia akan memecahkan batas sejarah, tetapi ia juga akan menanggung beban pembuktian bahwa simbol tidak mengalahkan substansi. Jika ia kalah, itu bisa menjadi sinyal bahwa kedekatan dengan Trump masih menjadi beban elektoral di komunitas yang paling ia incar.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bagi Florida sederhana dan berat: apakah perubahan yang diinginkan pemilih adalah perubahan wajah pemimpin, atau perubahan arah kebijakan. Jawaban itu akan lahir dari bilik suara, satu keputusan personal yang sering kali lebih rumit daripada garis partai.

(Orbit dari berbagai sumber, 16 Oktober 2026)