Dedi Mulyadi Bukan Mengalahkan Prabowo - Membaca Hasil Survei SMRC Juli 2026
ORBITINDONESIA.COM - Prabowo 14,5 persen. Dedi Mulyadi 35 persen. Begitu angka survei SMRC ini keluar, banyak yang langsung bilang: KDM sudah mengalahkan Prabowo.
Tapi coba pikir ulang. KDM tidak mengalahkan siapa-siapa. Ia cuma kebetulan berdiri di tempat yang pas, saat Prabowo sedang jatuh sendiri.
Lihat dulu data yang lebih penting: tingkat kepuasan publik ke Prabowo. November 2025 masih 81 persen. Juli 2026 tinggal 51 persen. Yang tidak puas naik dari 16 persen jadi hampir 47 persen.
Ini bukan penurunan biasa. Presiden-presiden sebelumnya, SBY dan Jokowi, justru stabil atau malah naik di awal masa jabatan. Prabowo satu-satunya yang anjlok di masa bulan madunya sendiri.
Kenapa bisa begitu? Karena tiga hal penting di mata rakyat sama-sama memburuk: ekonomi, politik, dan penegakan hukum. Hanya 15 persen orang bilang ekonomi baik. Program andalan seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, yang tadinya jadi kebanggaan, sekarang ikut kena getahnya.
Lalu, kemana perginya orang-orang yang kecewa ini? Bukan ke Anies, yang stagnan di 8 persen. Bukan juga ke Ganjar atau AHY, yang malah di bawah 5 persen. Mereka lari ke satu-satunya nama yang belum ikut dicap gagal: Dedi Mulyadi.
Jadi KDM bukan magnet yang menarik pemilih baru. Ia cuma wadah yang menampung kekecewaan orang ke Prabowo.
Memang, lonjakan KDM dari 19 persen ke 35 persen dalam sembilan bulan itu luar biasa. Tapi ingat, ini elektabilitas yang belum pernah diuji di panggung nasional.
Ia populer karena jago di media sosial, bukan karena rekam jejak kebijakan besar. Popularitas jenis ini gampang naik, tapi juga gampang turun secepat ia naik.
Jadi jangan salah baca survei ini. Ini bukan cerita tentang KDM yang hebat. Ini rapor merah untuk Prabowo, di hampir semua bidang. Kalau Istana cuma menjawab dengan santai, "survei kan naik turun," itu artinya belum sadar bahwa krisis kepercayaan publik ini serius, dan tidak akan hilang sendiri.
Untuk Dedi Mulyadi sendiri, angka 35 persen ini seharusnya jadi alarm, bukan bahan pesta. Ia sedang meminjam kemarahan publik yang sebenarnya ditujukan ke orang lain. Dan pinjaman semacam itu bisa ditarik kembali kapan saja.
Intinya begini: publik bukan sedang memilih Dedi Mulyadi. Publik sedang menghukum Prabowo. Dedi Mulyadi cuma kebetulan berdiri paling dekat dengan pintu keluar.
(Sumber: Anonim/Medsos) ***