Jejak T. rex Dewasa Pertama Ditemukan di North Dakota

Fox News

Fox News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Jejak T. rex dewasa pertama yang dideskripsikan ilmuwan ditemukan di North Dakota, Amerika Serikat. Rangkaian tapak kaki itu bertahan sekitar 66,5 juta tahun, seolah mengunci momen ketika predator legendaris itu melintas.

Para ilmuwan menemukan trackway, yakni rangkaian jejak kaki, di dekat Marmarth, North Dakota. Temuan itu dipublikasikan pada 9 September di Journal of Vertebrate Paleontology.

Lokasinya berada di Hell Creek Formation, wilayah barat daya North Dakota, pada lahan federal yang dikelola U.S. Forest Service. Denver Museum of Nature & Science menyebut lintasan ini memanjang lebih dari 23 kaki dan berisi setidaknya empat jejak berjari tiga.

Selama ini, jejak T. rex dewasa umumnya berupa tapak tunggal yang terisolasi. Karena itu, klaim “trackway T. rex dewasa” menyentuh titik sensitif dalam paleontologi: bukti perilaku nyata, bukan sekadar potongan fosil.

Foto dari lokasi memperlihatkan para peneliti meneliti cekungan tapak berjari tiga di medan berbatu. Ukuran jejaknya sekitar 3 kaki, dan skala inilah yang mendorong identifikasi sebagai T. rex dewasa.

Museum menyatakan identifikasi didasarkan pada “ukuran yang luar biasa dan bentuk jari yang sempit,” ditambah kelimpahan fosil T. rex di area sekitar. Kombinasi morfologi jejak dan konteks stratigrafi menjadi argumen utama, bukan satu indikator tunggal.

Kurator senior vertebrate paleontology DMNS, Tyler Lyson, mengaku semula skeptis ketika relawan Kent Hups, seorang guru SMA, menemukan jejak pertama. “Awalnya saya tidak yakin karena itu hanya satu jejak,” kata Lyson, mengingat batu bisa tererosi menjadi bentuk bermacam-macam.

Skeptisisme itu berubah menjadi verifikasi lapangan yang cepat dan konkret. “Kalau ada tiga, itu pola,” ujar Lyson, dan sekitar 30 menit setelah penggalian, tim menemukan jejak ketiga.

Empat jejak—dua kiri dan dua kanan—tercatat dengan panjang langkah sekitar 13 kaki. Dari pola ini, peneliti memperkirakan dinosaurus berjalan 3,5 hingga 4,5 mil per jam, kira-kira setara kecepatan berjalan manusia modern.

Tim mendokumentasikan seluruh lintasan dengan pemindaian permukaan 3D beresolusi tinggi. Penulis utama studi, Peter Falkingham dari Liverpool John Moores University, menganalisis jejak dari jarak jauh memakai data 3D, meski tidak melihat lokasi secara langsung.

Metode digital ini penting karena jejak fosil rentan rusak oleh cuaca, erosi, dan aktivitas manusia. Data 3D memungkinkan pengukuran ulang, replikasi analisis, dan perbandingan lintas situs tanpa memindahkan objek sejak awal.

Tim kembali pada musim panas dan menemukan jejak kelima saat menggali lebih jauh ke bukit. Lyson menyatakan optimisme, “Saya tidak ragu jika kami terus menggali lebih jauh, kami akan menemukan lebih banyak.”

Lyson memperkirakan tiap jejak memiliki bobot 800 hingga 1.000 pon, merujuk pada massa blok batuan yang menyimpan cetakan tapak. Tiga jejak direncanakan diangkat pada Oktober menggunakan jaring helikopter dari Badlands yang terjal.

Di museum, jejak akan dibersihkan dan diteliti untuk kemungkinan adanya impresi kulit. Jika ada, detail mikro semacam itu dapat memperkaya gambaran anatomi kaki T. rex, dari tekstur telapak hingga distribusi tekanan saat melangkah.

Nilai terbesar temuan ini bukan sekadar “T. rex pernah ada,” karena itu sudah lama diketahui. Nilai besarnya adalah rekaman perilaku: ritme langkah, arah gerak, dan kecepatan yang membuat T. rex terasa lebih sebagai hewan hidup daripada ikon film.

Namun, publikasi ilmiah juga mengingatkan kita pada batas klaim yang sehat. Identifikasi berbasis ukuran dan bentuk memang kuat, tetapi tetap bergantung pada kualitas preservasi, distorsi sedimen, dan kemungkinan jejak spesies theropoda besar lain yang kebetulan serupa.

Di sisi lain, cara kerja tim menunjukkan sains yang ideal: skeptis, berburu pola, lalu memverifikasi dengan bukti tambahan. Peran relawan seperti Kent Hups juga menegaskan bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari menara gading, melainkan dari kolaborasi dan kepekaan di lapangan.

Keputusan mengangkat jejak dengan helikopter juga membuka diskusi etika konservasi. Memindahkan fosil ke museum melindungi dan membuka akses edukasi, tetapi sekaligus mengubah konteks asli dan menuntut transparansi dokumentasi agar situs tidak “kehilangan cerita.”

Temuan ini berdiri dalam lanskap riset jejak dinosaurus global yang sedang hidup. Tahun lalu, jejak sekitar 150 juta tahun di Colorado diduga merekam langkah sauropoda berleher panjang yang pincang, dan tak lama kemudian ilmuwan mengumumkan spesies baru Spinosaurus yang mungkin menyaingi T. rex dalam ukuran.

Jejak T. rex dewasa pertama yang dideskripsikan ini seperti catatan harian yang tertinggal di batu, singkat tetapi menggugah. Ia mengubah imajinasi menjadi data, dan data menjadi kisah tentang makhluk yang pernah berjalan pelan di tepi rawa purba.

Pertanyaannya kini bukan hanya “berapa besar T. rex,” melainkan “apa lagi yang bisa kita baca dari langkahnya.” Ketika penggalian berlanjut dan teknologi 3D makin presisi, jejak-jejak itu mengajak kita merenung: betapa banyak sejarah Bumi yang masih terkubur, menunggu kita belajar membaca dengan rendah hati. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)