Skor 62 Open Championship: Herbert dan Burns Samai Rekor Mayor

ORBITINDONESIA.COM – Skor 62 di Open Championship kembali mengguncang Royal Birkdale, ketika Lucas Herbert dan Sam Burns sama-sama mencatat 62 pada putaran kedua Jumat. Rekor skor terendah di turnamen mayor itu nyaris jadi milik Herbert sendirian, sebelum putt par 5 kaki di hole 18 meleset dan Burns menutup dengan tiga birdie beruntun.

Artikel sumber melaporkan Herbert dan Burns menyamai rekor skor 62 pada turnamen mayor di lapangan par-70 Royal Birkdale, Inggris. Herbert sempat berada di 9-under menuju hole 18 yang disebut sebagai hole tersulit di lapangan, namun bogey di akhir membuatnya berbagi rekor.

Burns datang dari posisi 3-over setelah putaran pertama, lalu melesat ke 62 dengan finis birdie-birdie-birdie. Ia bahkan mengakhiri ronde dengan hole-out dari bunker hijau di hole 18, sebuah momen yang mengubah narasi dari “nyaris gagal cut” menjadi “pemburu gelar”.

Herbert memimpin klasemen dengan selisih 2 pukulan atas Jackson Suber, sementara Cameron Young menempel setelah dua kali 67. Burns berada di posisi T4 pada 5-under, sebuah lompatan besar yang menegaskan volatilitas skor di major ketika kondisi lapangan mendukung.

Kondisi menjadi kunci: cepat, kering, dan “absolutely no wind”, kata laporan itu, membuat Royal Birkdale yang biasanya kejam berubah menjadi arena serangan. Herbert membuka dengan birdie di tiga hole pertama, lalu menutup sembilan hole depan dengan 28 pukulan, menyamai rekor skor 9-hole terendah di The Open.

Namun, major selalu menagih harga psikologis di lubang terakhir, dan Herbert merasakannya tepat di momen historis. Drive-nya terslice ke area liar kanan, bola tersangkut di bawah pagar pengaman, dan meski mendapat relief, ia hanya mampu menyelamatkan bogey setelah putt par terakhir meleset.

Herbert mengaku “absolutely disappointed, and at the same time, so proud of today,” sebuah kalimat yang mengandung dua realitas: rekor dan penyesalan hidup berdampingan. Ia menilai putt itu bukan buruk, melainkan salah baca, “I didn’t hit a bad putt, I just misread it,” yang memperlihatkan betapa tipisnya batas antara sejarah dan catatan kaki.

Di sisi lain, Burns memproduksi drama yang lebih “Hollywood” untuk sebuah olahraga yang sering tampak hening. Ia menutup dengan hole-out bunker di 18, lalu menyebutnya “definitely very lucky for it to go in,” menegaskan bahwa di major, keterampilan dan keberuntungan sering bertemu di titik paling menentukan.

Menariknya, Burns nyaris tidak bermain di The Open karena kelahiran putrinya, Belle, pada 3 Juli, dan baru tiba di Inggris pada Senin setelah agennya mendaftarkan “just in case”. Detail ini bukan sekadar trivia, melainkan konteks tentang ritme persiapan yang tidak ideal, namun justru menghasilkan ledakan performa.

Secara historis, 62 adalah angka “sakral” yang hanya disentuh sedikit pemain, dan laporan menyebut lima pegolf lain pernah mencatatnya di major. Branden Grace menjadi yang pertama dengan 62 di Open 2017 juga di Royal Birkdale, sementara Xander Schauffele dan Shane Lowry melakukannya di PGA Championship 2024 di Valhalla.

Rangkaian fakta itu menunjukkan dua hal: Royal Birkdale bisa menjadi sangat keras, tetapi juga bisa “memberi” skor ketika angin hilang. Ini juga menegaskan bahwa rekor bukan semata soal kemampuan individu, melainkan produk pertemuan antara bentuk permainan, setup lapangan, dan cuaca hari itu.

Rekor skor 62 di Open Championship kali ini terasa seperti perdebatan lama dalam golf: seberapa “adil” sebuah major jika angin menghilang dan green mengeras tanpa guncangan cuaca. Ketika lapangan links tidak berangin, sebagian aura “ujian alam” memudar, dan major berubah mendekati lomba presisi.

Namun menyederhanakan 62 menjadi sekadar “kondisi mudah” juga tidak jujur, karena tekanan major adalah variabel yang tidak bisa disetel panitia. Herbert membuktikan itu di hole 18, karena di titik paling mudah pun, pikiran bisa menjadi penghalang terbesar.

Kasus Burns juga memperlihatkan sisi manusiawi yang sering hilang dari statistik: ia baru menjadi ayah, bepergian mendadak, lalu mencetak ronde yang mengubah turnamen. Di era ketika narasi olahraga sering dibangun oleh rutinitas sains dan data, momen seperti ini mengingatkan bahwa emosi dan momentum tetap punya tempat.

Ada pula lapisan lain yang tak bisa diabaikan: Herbert adalah anggota LIV Golf League bersama Ripper GC, dan ia baru menang wire-to-wire pada event LIV di Trump National Potomac Falls pada 10 Mei. Performanya di major menambah bahan bakar diskusi tentang apakah pemain LIV cukup “tajam” ketika kembali ke panggung tradisional.

Pada akhirnya, 62 bukan hanya angka, melainkan cermin tentang bagaimana golf modern bergerak: lebih agresif, lebih siap menyerang, dan lebih berani mengambil risiko. Tetapi major tetap menuntut satu hal klasik, yakni kemampuan menerima bahwa satu putt bisa mengubah cara sejarah mengingat Anda.

Lucas Herbert dan Sam Burns sama-sama menulis 62 di Royal Birkdale, tetapi keduanya tiba di sana melalui jalan emosional yang berbeda: satu nyaris memiliki rekor sendirian, satu lagi bangkit dari 3-over dengan finis yang nyaris mustahil. Di atas kertas, mereka berbagi angka yang sama, namun makna 62 bagi masing-masing terasa tidak identik.

Turnamen ini juga memberi pelajaran tentang rapuhnya kepastian dalam olahraga elit, ketika cuaca, setup, dan tekanan mental saling mengunci. Pertanyaannya kini, apakah 62 akan menjadi pintu menuju gelar, atau justru puncak yang sulit diulang ketika angin kembali hadir?

Dalam golf, sejarah sering tampak seperti daftar angka, tetapi sebenarnya ia adalah kumpulan keputusan kecil yang terjadi dalam sunyi. Dan mungkin itulah refleksi terpenting dari Royal Birkdale: bahkan saat Anda “hanya” kecewa karena membuat 62, standar diri Anda sudah berada di wilayah yang tidak banyak orang pahami. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)