KTT SCO Bishkek: Xi, Putin, Modi dan Taruhan Dunia Multipolar

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – KTT Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di Bishkek mempertemukan Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Narendra Modi di tengah guncangan perang AS-Israel melawan Iran serta perang Rusia-Ukraina yang belum padam. Di ruang yang sama, SCO menguji apakah “dunia multipolar” hanya slogan, atau benar-benar menjadi arsitektur baru bagi perdagangan, energi, dan keamanan Global South.

KTT SCO tahun ini digelar di Bishkek, Kirgizstan, dengan motto “Together for Sustainable Peace, Development and Prosperity.” Para pemimpin yang hadir mencakup China, Rusia, India, Iran, Pakistan, Uzbekistan, Belarus, Kazakhstan, serta tamu seperti Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Sekjen PBB Antonio Guterres.

Momentum 25 tahun SCO muncul ketika “rules-based order” versi Barat tertekan oleh perang, sanksi, dan tarif. Dampak perang di Timur Tengah ikut mengguncang energi dan rantai pasok, terutama karena tekanan pada jalur maritim strategis seperti Selat Hormuz.

SCO sendiri berangkat dari “Shanghai Five” pada 1996 untuk meredakan sengketa perbatasan pasca-Perang Dingin. Kini, dengan India dan Pakistan masuk pada 2017 serta Iran dan Belarus menjadi anggota penuh pada 2023-2024, SCO berubah dari klub keamanan menjadi forum campuran keamanan-ekonomi.

Skala SCO tidak kecil karena negara anggotanya mencakup sekitar 43 persen populasi dunia dan 23 persen ekonomi global. Namun, justru karena membesar dan melebar, publik sulit membedakan SCO dari forum Global South lain seperti BRICS.

Di titik ini, pertanyaannya bukan sekadar siapa hadir, melainkan apa yang bisa disepakati. SCO sering kompak dalam retorika anti-unilateralisme, tetapi terpecah ketika masuk ke isu konflik dan rivalitas antaranggota.

Agenda resmi menempatkan perang AS-Israel melawan Iran, perang Rusia-Ukraina, dan situasi Afghanistan sebagai isu utama. Di atas itu, Bishkek juga menjadi panggung untuk mengelola dua friksi besar: hubungan India-China dan ketegangan India-Pakistan.

Analis International Crisis Group, William Yang, menilai perang yang berjalan memperberat tekanan pada tatanan internasional. Ia menyebut KTT ini memberi peluang bagi kekuatan besar yang sedang naik, termasuk China dan India, untuk memperluas pengaruh dan jejaring Global South.

Namun, Yang juga mengingatkan batasnya: China bisa memosisikan diri sebagai advokat “penyelesaian damai” untuk kontras dengan AS, tetapi kemungkinan besar berhenti pada retorika. Dengan kata lain, SCO bisa menjadi panggung narasi, bukan mesin solusi.

Dari sisi ekonomi, isu “konektivitas” menjadi kata kunci karena jalur laut terganggu dan biaya logistik naik. SCO membahas koridor baru seperti International North-South Transport Corridor sepanjang 7.200 km, yang menghubungkan St Petersburg ke Mumbai melalui Iran dan pelabuhan di Teluk.

Alicia Garcia-Herrero dari Natixis menilai ulang tahun ke-25 memberi peluang mengaktifkan “strategi Tianjin” tahun lalu yang menyerukan dunia multipolar dan kerja sama saling menguntungkan. Ia menekankan simbol pentingnya: Modi, Putin, dan Xi duduk satu ruangan saat pembicaraan perbatasan India-China masih berjalan dan pertemuan bilateral Modi-Putin terjadwal.

Di luar koridor darat, rute Arktik ikut masuk radar karena Rusia mendorong Northern Sea Route dan China mengumumkan jalur pelayaran baru melalui Samudra Arktik. Media India menyebut Moskow dan New Delhi dapat merundingkan penggunaan rute itu sebagai opsi saat krisis Asia Barat mengganggu jalur tradisional.

Dimensi finansial juga muncul melalui rencana SCO Development Bank, Development Fund, dan Investment Fund. Manoj Kewalramani dari Takshashila Institution menyebut Kirgizstan ingin “menggerakkan jarum” pada lembaga-lembaga itu, tetapi belum jelas apakah akan ada pengumuman konkret.

Soal kesepakatan politik, rekam jejak SCO menunjukkan ketidaksatuan di isu Ukraina karena India mengambil posisi lebih seimbang. Rusia bisa menarik sebagian anggota ke garisnya, tetapi India tetap menjaga hubungan dengan Ukraina sambil membeli minyak Rusia dalam jumlah besar.

Di isu Iran dan Palestina, SCO terlihat lebih kolektif dalam bahasa kecaman terhadap penggunaan kekuatan dan seruan dialog, sesuai pernyataan organisasi pada Maret. Tetapi India pernah menolak mendukung pernyataan bersama SCO yang mengecam serangan Israel ke Iran pada Juni 2025, karena kedekatan New Delhi dengan Tel Aviv.

Friksi lain adalah India-Pakistan, terutama soal “lintas batas” dan tuduhan terorisme. Pada KTT Tianjin, SCO memilih bahasa yang seimbang dengan mengecam serangan di kedua negara, yang menunjukkan organisasi ini lebih nyaman menjadi penengah retoris daripada hakim politik.

SCO di Bishkek tampak seperti cermin dari dunia yang sedang bergeser, bukan palu yang membentuk dunia baru. Ia memperlihatkan banyak negara ingin “ruang manuver” ketika tekanan AS berupa tarif, sanksi, dan kebijakan unilateral meningkat.

Alejandro Reyes dari University of Hong Kong menyebut SCO bukan aliansi anti-AS yang koheren, melainkan forum untuk menunjukkan alternatif dan strategi lindung nilai terhadap volatilitas geopolitik. Ini penting karena label “blok anti-Barat” justru menutupi fakta bahwa kepentingan China, Rusia, dan India sering bertabrakan.

China memanfaatkan SCO untuk institution-building dan mengonsolidasikan posisi ekonominya di Asia Tengah. Rusia memakainya untuk membuktikan tidak terisolasi, sekaligus menahan diri agar tidak makin bergantung pada China.

India berada di posisi paling menarik karena mempraktikkan otonomi strategis secara terbuka. New Delhi bisa tetap aktif di Quad dengan AS, Jepang, dan Australia, sambil hadir di forum yang berat ke China dan Rusia untuk mengamankan akses, pengaruh, dan opsi energi.

Di sinilah “dunia multipolar” terasa lebih sebagai kompetisi desain daripada solidaritas nilai. Jika SCO ingin lebih dari panggung, ia harus membuktikan kemampuan menghasilkan instrumen nyata, terutama pada bank pembangunan, koridor logistik, dan mekanisme mitigasi risiko energi.

Bagi AS, pesan utamanya bukan bahwa SCO adalah koalisi anti-Amerika yang solid. Pesan utamanya adalah tekanan ekonomi dan geopolitik Washington dapat mendorong konvergensi taktis di antara negara-negara yang sebenarnya saling curiga.

KTT SCO Bishkek menegaskan bahwa Global South tidak lagi hanya meminta tempat, tetapi sedang merancang jalur sendiri untuk perdagangan, pembiayaan, dan keamanan. Namun, organisasi ini tetap dibayangi paradoks: semakin besar dan inklusif, semakin sulit mencapai keputusan yang tajam.

Jika hasilnya hanya komunike dan foto bersama, multipolaritas akan tinggal sebagai narasi. Jika ada langkah konkret pada bank pembangunan, koridor transport, dan aturan konektivitas, maka Bishkek bisa menjadi titik balik.

Pertanyaan akhirnya sederhana tetapi menentukan: ketika dunia makin kacau, apakah negara-negara memilih membangun institusi baru yang fungsional, atau sekadar mengumpulkan panggung baru untuk mengulang retorika lama. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)