Zelensky Ganti Menhan Fedorov, Protes Kyiv Menggema
ORBITINDONESIA.COM – Keputusan mendadak Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengganti Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov memicu protes di Kyiv dan kota-kota lain. Massa membawa poster “Hands off Fedorov” dan “Stop sabotaging victory!” sambil meneriakkan “Shame!”.
Fedorov, 35 tahun, baru menjabat sejak Januari dan dianggap menghidupkan kementerian melalui agenda antikorupsi serta perbaikan kinerja berbasis data. Ia juga identik dengan perang berteknologi tinggi, khususnya drone, yang menjadi tulang punggung strategi “asimetris” Ukraina.
Namun, rumor konflik antara Fedorov dan Panglima Angkatan Bersenjata Oleksandr Syrskyi berubah menjadi pengakuan terbuka. Fedorov menyebut ia menyarankan Zelensky untuk mengganti Syrskyi dan Kepala Staf Umum Andrii Hnatov, tetapi inisiatif kementeriannya “diblokir”.
Zelensky mengakui ketegangan antara Staf Umum dan Kementerian Pertahanan bersifat “sistemik” dan terjadi “di berbagai level”. Ia menyiratkan bahwa kerja sama Syrskyi dan Fedorov hanya mungkin lewat mediasi presiden, sebuah sinyal bahwa mesin perang Ukraina sedang tersendat dari dalam.
Pada malam hari, Zelensky mengajukan Mayor Jenderal Yevhenii Khmara, kepala sementara Dinas Keamanan (SBU), sebagai pelaksana tugas menteri pertahanan. Zelensky menilai Khmara punya pengalaman luas dan “dalam banyak hal belum pernah ada” dalam operasi tempur berbasis teknologi.
Di saat bersamaan, Zelensky juga melakukan perombakan kabinet yang lebih besar. Parlemen menyetujui bos minyak dan gas negara Serhiy Koretsky sebagai perdana menteri setelah Yuliia Svyrydenko mundur.
Penggantian Menhan Fedorov bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan pertarungan arah strategi perang. Fedorov mendorong kemenangan lewat inovasi cepat, pengadaan yang lincah, dan serangan drone yang menekan Rusia tanpa menguras personel.
Rekam jejaknya menonjol sejak 2022 ketika ia membangun “IT Army of Ukraine” untuk serangan siber terhadap Rusia. Ia kemudian meluncurkan kampanye penggalangan dana “Army of Drones” dan memperkenalkan “gamifikasi” berupa kredit bagi unit yang menghantam aset Rusia.
Setelah menjadi menhan, fokus itu berlanjut ke kebijakan pengadaan dan penguatan perang drone. Ia bahkan meminta Elon Musk menghentikan penggunaan Starlink oleh Rusia untuk serangan drone, yang disebut mengganggu operasi garis depan Rusia.
Kementeriannya juga dikaitkan dengan serangan Ukraina ke Krimea yang diduduki Moskow. Bulan lalu, Fedorov bersumpah akan “memutus” Krimea dari Rusia melalui serangan drone jarak menengah.
Ketika figur seperti itu disingkirkan, pertanyaan publik bergeser dari “siapa penggantinya” menjadi “apa yang sedang dipertahankan”. Blogger Serhii Sternenko menyebut Fedorov “menteri pertahanan terbaik dalam sejarah” dan menuding reformasi terhambat oleh “rintangan birokrasi dan penundaan buatan”.
Kesaksian dari dalam tim memperkuat gambaran itu. Mantan penasihat teknologi berjuluk “Flash” mengatakan ia dulu bisa mengakses sistem untuk menganalisis musuh dan memprediksi langkah berikutnya, namun kini tidak lagi.
Di tingkat politik, Zelensky sempat menyebut Ihor Klymenko, Menteri Dalam Negeri, sebagai kandidat pengganti yang akan dipilih parlemen. Tetapi Zelensky menegaskan itu baru salah satu nama dan belum ada proposal resmi, sehingga situasi tampak cair sekaligus rawan intrik.
Di medan sosial, protes muncul karena publik membaca keputusan ini sebagai sabotase terhadap momentum. Seorang tentara bernama Oleksandr menyebut ini “kesalahan terburuk” Zelensky sepanjang masa kepresidenannya, dan mengaku mendaftar tentara karena percaya pada visi Fedorov.
Warga sipil juga menautkan keputusan elite dengan harga nyawa di garis depan. Maria Lavrynets, 31 tahun, mengatakan ia melihat hasil kerja Fedorov dan motivasi prajurit, sehingga masyarakat “harus berdiri untuk mereka”.
Inti masalahnya bukan sekadar konflik pribadi Fedorov versus Syrskyi, melainkan benturan dua budaya perang. Satu kubu menuntut reformasi cepat dan inovasi, sementara kubu lain bertumpu pada struktur komando yang cenderung defensif terhadap perubahan.
Jika Zelensky benar ingin menang, ia harus memutuskan apakah kementerian pertahanan menjadi mesin inovasi atau sekadar perpanjangan birokrasi. Pernyataan Fedorov bahwa “alih-alih mencari cara mengalahkan Rusia secara asimetris, dia menemukan cara membelah negara” adalah kritik paling tajam terhadap risiko perpecahan internal.
Respons Syrskyi di Telegram terkesan dingin dan simbolis, dengan menonjolkan kebanggaan atas pertahanan Kyiv 2022 dan janji fokus pada strategi efektif. Ucapan “semoga sukses” untuk Fedorov terdengar formal, tetapi tidak menjawab substansi tudingan soal inisiatif yang diblokir.
Zelensky mencoba meredam dengan mengatakan ia “mendengar” masyarakat dan “bereaksi” terhadap suara publik. Namun, ia juga mengakui konflik itu sistemik, yang berarti masalahnya tidak selesai hanya dengan mengganti satu orang.
Menariknya, Fedorov menyatakan Zelensky sempat menawarinya posisi penasihat dan ia menolak. Ia juga mengklaim Zelensky belum memilih pihak dalam urusan Syrskyi, tetapi ia sendiri bertindak “sesuai hati nurani”, sebuah kalimat yang menegaskan adanya garis moral di tengah politik perang.
Penunjukan Khmara dari SBU memberi sinyal lain: pergeseran dari reformasi pengadaan dan inovasi ke logika keamanan dan kontrol. Jika benar demikian, Ukraina bisa kehilangan keunggulan adaptif yang selama ini menutup ketimpangan sumber daya melawan Rusia.
Penggantian Menhan Fedorov menunjukkan bahwa perang Ukraina tidak hanya ditentukan oleh drone dan artileri, tetapi juga oleh tata kelola dan kepercayaan publik. Ketika masyarakat meneriakkan “Shame!” di jalanan, yang mereka pertaruhkan bukan figur, melainkan arah kemenangan.
Zelensky kini menghadapi ujian kepemimpinan yang lebih sunyi daripada serangan rudal: menyatukan komando, menyingkirkan sabotase birokrasi, dan menjaga inovasi tetap hidup. Jika perang adalah ujian daya tahan, maka perpecahan internal bisa menjadi luka yang paling sulit disembuhkan.
Pertanyaannya sederhana namun menentukan: apakah Ukraina akan memilih kecepatan inovasi yang menyelamatkan nyawa, atau kembali ke pola lama yang memakan waktu dan korban. Jawaban itu akan terasa bukan di ruang rapat, melainkan di parit-parit garis depan.
(Orbit dari berbagai sumber, 26 Juli 2026)