Stigma Psikiater dan Psikosomatis: Keluhan Fisik Tak Selalu Organik

Tribunnews.com

Tribunnews.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Stigma psikiater masih membuat banyak orang dengan psikosomatis menolak rujukan, meski keluhan fisik tak kunjung jelas. Di Surakarta, psikiater RSUD Bung Karno dr. Sitaresmi Raras N, Sp.KJ, menyebut anggapan “ke psikiatri itu hanya orang gila” masih sering ia temui. Akibatnya, pasien bolak-balik berobat, tetapi akar masalah justru tak tersentuh.

Di ruang tunggu klinik, keluhan yang terdengar sering sangat “medis”: sakit perut, pusing, dada berdebar, atau nyeri yang berpindah-pindah. Banyak pasien percaya hanya dokter organ terkait yang pantas menangani gejala seperti itu. Ketika hasil pemeriksaan berulang normal, muncul frustrasi, bukan rasa ingin tahu.

Dr. Sitaresmi menggambarkan kalimat yang kerap muncul, “Aku sakitnya fisik kok ke psikiatri.” Kalimat itu memotong kemungkinan bahwa pikiran, stres, dan emosi dapat memengaruhi tubuh. Di titik ini, stigma psikiater berubah menjadi penghalang akses layanan kesehatan jiwa.

Masalahnya bukan sekadar salah paham istilah “gangguan jiwa.” Masalahnya adalah cara masyarakat memisahkan tubuh dan pikiran seolah dua dunia yang tidak saling menyentuh. Padahal, layanan psikiatri modern bekerja berdampingan dengan layanan medis lain, bukan menggantikannya.

Psikosomatis bukan “mengada-ada,” melainkan gejala fisik yang dipengaruhi faktor psikologis dan respons stres tubuh. Dalam praktik klinis, pasien sering datang setelah berputar dari satu spesialis ke spesialis lain. Pola ini memperlihatkan dua hal: pencarian jawaban dan ketakutan terhadap label psikiatri.

Stigma membuat jalur rujukan menjadi buntu, sehingga biaya dan waktu perawatan membesar. Pasien menjalani pemeriksaan berulang, sementara kecemasan meningkat karena tidak ada diagnosis yang “memuaskan.” Pada akhirnya, rasa tidak berdaya itu sendiri bisa memperburuk sensasi nyeri, sesak, atau gangguan tidur.

Data global menunjukkan stigma masih kuat dan berdampak pada perilaku mencari pertolongan. WHO menegaskan depresi dan gangguan kecemasan termasuk penyebab utama disabilitas, namun banyak orang menunda bantuan karena takut dicap. Penundaan ini sering membuat kondisi makin kompleks dan memerlukan penanganan lebih lama.

Dalam konteks Indonesia, tantangannya berlapis: literasi kesehatan jiwa belum merata, mitos tentang “orang gila” masih dominan, dan layanan rujukan belum selalu ramah. Ketika psikiater diposisikan sebagai “pilihan terakhir,” pasien datang dalam kondisi lebih berat. Padahal, intervensi dini kerap lebih efektif dan lebih murah.

Di sisi lain, tenaga kesehatan juga menghadapi dilema komunikasi. Menjelaskan “faktor psikologis” tanpa membuat pasien merasa disalahkan membutuhkan keterampilan khusus. Jika komunikasi gagal, pasien merasa keluhannya diremehkan dan makin menolak konsultasi psikiatri.

Stigma psikiater sebenarnya adalah stigma terhadap kerentanan manusia. Masyarakat seolah memberi pesan bahwa kuat berarti tidak cemas, tidak panik, dan tidak boleh rapuh. Akibatnya, orang memilih sakit berkepanjangan daripada dianggap “bermasalah secara mental.”

Sudut pandang ini perlu dibalik: psikiater bukan “hakim kewarasan,” melainkan dokter yang memahami hubungan otak, emosi, perilaku, dan tubuh. Jika sakit kepala bisa dipicu kurang tidur dan stres, mengapa rujukan ke psikiater dianggap penghinaan. Logikanya runtuh karena yang bekerja bukan sains, melainkan rasa malu.

Yang paling merugikan adalah ketika stigma memaksa pasien mencari validasi lewat pemeriksaan tanpa ujung. Ini menciptakan lingkaran: gejala memicu cemas, cemas memperkuat gejala, lalu pasien makin yakin ada penyakit berat yang “terlewat.” Pada titik itu, yang dibutuhkan bukan tambahan tes, melainkan pemahaman dan terapi yang menyasar pola stres.

Solusi praktisnya ada pada kolaborasi dan bahasa yang lebih manusiawi. Dokter umum dan spesialis organ bisa menjelaskan bahwa rujukan psikiatri adalah bagian dari perawatan menyeluruh, bukan vonis. Psikiater juga perlu menekankan bahwa tujuan konsultasi adalah mengurangi penderitaan fisik dan meningkatkan fungsi, bukan memberi label.

Kasus-kasus yang diceritakan dr. Sitaresmi memperlihatkan satu kenyataan: stigma psikiater bisa membuat pasien tersesat dalam labirin pemeriksaan. Psikosomatis menuntut keberanian untuk menerima bahwa tubuh dan pikiran saling memengaruhi. Keberanian itu sering lebih sulit daripada menelan obat.

Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan “apakah ini sakit fisik atau mental.” Pertanyaannya adalah “apa yang membuat tubuh saya terus memberi sinyal bahaya.” Saat stigma diturunkan, rujukan ke psikiater bisa berubah dari aib menjadi jalan pulang menuju pemulihan. (Orbit dari berbagai sumber, 3 September 2026)