Bocoran Diary Dr Fauci: Kontroversi Pandemi, Ego, dan Selebriti

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Bocoran diary Dr Fauci mendadak mengguncang Washington, setelah lebih dari 1.100 halaman catatan pribadinya (2019-2022) dibuka ke publik oleh lawan politik Republik. Di tengah pandemi Covid-19 yang menewaskan lebih dari satu juta warga Amerika, isi diary itu menampilkan potret tak tersaring tentang ketenaran, pesta elit, dan cara kekuasaan bekerja saat krisis.

Artikel sumber menegaskan ini bukan catatan medis ala jurnal ilmiah, melainkan diary yang kadang serampangan, penuh typo, dan sangat personal. Dalam satu entri 21 Mei 2020, Fauci menulis bahwa ia “orang paling terkenal dan paling dibicarakan di negara ini,” sambil mencatat angka kematian global 234.100.

Diary itu ditemukan di server pemerintah setelah Robert F. Kennedy Jr. memimpin Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS), lalu diserahkan kepada Senator Rand Paul. Fauci dijadwalkan bersaksi di Capitol Hill di hadapan Senate Homeland Security Committee yang dipimpin Paul, sementara Fauci menolak berkomentar melalui perwakilan.

Dalam konteks politik Amerika, Fauci adalah simbol ganda: pahlawan sains bagi sebagian publik, dan kambing hitam kebijakan bagi sebagian lain. Mereka yang menuduhnya terkait penutupan sekolah, lockdown, dan mandat vaksin melihat diary ini sebagai “pembenaran” bahwa ia menikmati sorotan.

Isi diary menggambar dua garis yang berjalan bersamaan: kurva kasus dan kurva status sosial. Entri-entri memotret Fauci beredar di sirkuit pesta Washington, dari Cafe Milano hingga gala National Portrait Gallery, sambil mencatat kecemasan tertular.

Ia menulis soal “super A list” di rumah David Bradley, menyebut Mark Warner, Kellyanne Conway, Andrea Mitchell, hingga David Frum. Ia juga menulis tentang after-hours champagne di Zaytinya bersama Jose Andres, serta bergaul dengan Venus dan Serena Williams dan Clive Davis.

Di sisi lain, diary mencatat banjir penghargaan yang ia terima dan sulit ia “apresiasi” karena menumpuk dalam waktu singkat. Ia menulis tentang “Leonardo Da Vinci Award” dari National Italian American Foundation, dengan testimoni selebritas seperti Robert DeNiro, Al Pacino, dan Leonardo DiCaprio.

Relasi selebritas menjadi motif berulang yang memantulkan budaya kekuasaan Amerika. Fauci menulis Julia Roberts mengirim rangkaian bunga, Barbra Streisand menelepon menanyakan perbedaan Moderna dan Pfizer, dan Billy Crystal membuat video parodi dirinya.

Namun, detail yang paling tajam justru lahir dari benturan suasana: pesta, ketenaran, dan kematian massal hadir pada halaman yang sama. Ini bukan sekadar gosip, melainkan bukti bagaimana “kelas pengaruh” Washington memproduksi narasi, mengangkat figur, dan menormalisasi perayaan bahkan ketika negara sedang berkabung.

Secara etis, membocorkan diary pribadi adalah tindakan yang problematik, karena catatan itu tidak ditulis untuk publik dan bercampur antara urusan ilmiah serta emosi manusiawi. Tetapi begitu ia menjadi dokumen politik, diary itu berubah fungsi menjadi cermin: ia memantulkan hubungan simbiotik antara sains, media, dan selebritas.

Fauci dalam diary tampak sebagai teknokrat yang terseret menjadi ikon budaya pop, lalu ikut menikmati panggung itu. Pada titik ini, kritik publik tidak lagi semata soal kebijakan pandemi, tetapi soal psikologi kekuasaan: siapa pun yang terus disorot berisiko mulai percaya pada mitos tentang dirinya sendiri.

Yang membuatnya relevan adalah paradoksnya: ia mengaku “unnerving” diperlakukan seperti Elvis Presley, tetapi tetap mencatat daftar pesta dan nama-nama besar dengan teliti. Dalam krisis kesehatan publik, persepsi integritas sering sama menentukan dengan data, dan diary ini memberi amunisi bagi mereka yang sejak awal curiga.

Namun, pembacaan yang adil juga harus mengakui realitas lain: pandemi menciptakan kebutuhan akan juru bicara yang meyakinkan, dan Fauci mengisi kekosongan itu ketika komunikasi pemerintah kacau. Popularitasnya sebagian adalah produk ketakutan publik, dan sebagian lagi hasil mesin media yang selalu mencari tokoh utama.

Kontroversi diary Dr Fauci memperlihatkan bahwa pandemi bukan hanya pertarungan melawan virus, tetapi juga pertarungan memperebutkan makna, citra, dan legitimasi. Catatan tentang champagne dan selfie terasa vulgar ketika dibaca berdampingan dengan angka kematian, tetapi justru di situlah pelajarannya: krisis membuka karakter, sekaligus membuka struktur sosial yang menopang karakter itu.

Pertanyaan akhirnya bukan sekadar apakah Fauci “bersenang-senang,” melainkan mengapa sistem politik dan media memberi insentif pada ketenaran saat publik membutuhkan ketenangan. Jika krisis berikutnya datang, siapa yang akan kita percaya: data yang dingin, atau figur yang tampak menyelamatkan, tetapi juga manusia yang rentan pada sorotan?

(Orbit dari berbagai sumber, 10 Agustus 2026)