Perang Yaman Memanas: Houthi, Taiz, dan Ancaman Bab al-Mandab
ORBITINDONESIA.COM – Perang Yaman kembali memanas setelah serangan udara mengguncang Sanaa dan pertempuran sengit pecah di Taiz, kota terbesar ketiga di negara itu. Eskalasi ini bukan sekadar bentrokan lokal, karena perebutan Bab al-Mandab dan jalur perdagangan Laut Merah membuat krisis Yaman kembali menyentuh urat nadi energi dunia.
Serangan udara mengguncang ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi, Sanaa, semalam hingga Jumat, menyusul salah satu pertempuran paling sengit dalam beberapa tahun di Taiz. Televisi Al-Masirah milik Houthi menyebut serangan juga menghantam sedikitnya tiga provinsi, dan menuduh “agresi Saudi” sebagai pelakunya.
Seorang juru bicara pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman mengatakan mereka menyerang “target bernilai tinggi” di Sanaa, tanpa merinci lebih jauh. Sementara itu, kebuntuan militer yang rapuh pecah bulan lalu ketika Houthi melancarkan ofensif kilat dan merebut seluruh pesisir Laut Merah, memberi mereka pijakan dekat Selat Bab al-Mandab.
Houthi menuduh Arab Saudi melancarkan ratusan serangan udara, yang sebagian besar tidak diakui pejabat Saudi. Pertempuran kembali menyala di banyak garis depan, dan WHO mencatat lebih dari 800 orang tewas serta ribuan lainnya terluka atau mengungsi sejak konflik terbaru dimulai.
Taiz adalah simpul strategis yang menghubungkan Yaman utara yang dikuasai Houthi, selatan yang dikendalikan pemerintah, dan pesisir Laut Merah. Jika Houthi meluaskan kendali di Taiz, mereka bisa mengamankan capaian pesisir sekaligus menekan pasukan pemerintah lebih jauh ke selatan.
Kolonel Abdul Basit al-Baher dari militer pemerintah menyebut Houthi melancarkan salah satu serangan paling agresif dalam beberapa tahun pada Kamis, memicu “bentrokan sengit dan serentak” di puluhan front. Ia mengatakan sebagian besar serangan berhasil dipukul mundur, tetapi Houthi merebut tiga desa pedesaan.
Pada Jumat, pertempuran darat mereda, namun penembakan artileri Houthi ke wilayah pemerintah masih berlanjut, menurut al-Baher. Pola ini menunjukkan strategi tekanan berlapis, yaitu serangan cepat untuk merebut titik, lalu tembakan jarak jauh untuk menguras logistik dan moral lawan.
Eskalasi di Taiz juga menarik Yaman lebih dalam ke perang bayangan Amerika Serikat dan Iran. Selat Hormuz telah terganggu berbulan-bulan akibat serangan drone dan misil Iran terhadap kapal komersial, sehingga Arab Saudi makin bergantung pada rute ekspor minyak melalui Laut Merah.
Dengan pijakan Houthi yang meluas di sekitar Bab al-Mandab, kekuatan yang didukung Iran kini berdiri di sisi jalur energi dan perdagangan yang sama krusialnya. Pada saat konflik kawasan mendorong harga minyak global melonjak, setiap gangguan di Bab al-Mandab berpotensi menjadi “pengungkit” ekonomi yang jauh melampaui Yaman.
Utusan khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, menyatakan pada Kamis bahwa pertempuran di Taiz “meningkat signifikan” dan mendesak Houthi menghentikan ofensif. Kantornya menerima laporan korban, kerusakan infrastruktur, dan penutupan jalan yang menghalangi warga untuk keluar.
Dampak kemanusiaan kian tajam karena Yaman sudah hancur oleh lebih dari satu dekade perang dan runtuhnya ekonomi. Program Pangan Dunia melaporkan lebih dari 150.000 orang mengungsi dalam beberapa pekan terakhir, dan di wilayah pemerintah yang dipantau, hampir tiga dari empat rumah tangga tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dasar, tertinggi tahun ini.
Di selatan, militer Yaman menyatakan pertahanan udara mereka menembak jatuh drone serang Houthi di atas Aden sebelum mencapai target yang mereka sebut sipil. Mereka tidak menyebut target maupun korban, tetapi klaim ini menegaskan bahwa garis depan tidak lagi “terkunci” di utara.
Arab Saudi juga kembali menjadi sasaran, setelah siklus kekerasan lintas batas terbaru dimulai pada Juli. Houthi menuduh Saudi membom bandara Sanaa untuk mencegah pesawat Iran mendarat, lalu membalas dengan rentetan drone dan misil balistik ke pangkalan, pelabuhan, dan bandara Saudi, serta menarget tanker minyak di Laut Merah.
Koalisi pimpinan Saudi menyatakan pada Kamis mereka mencegat misil balistik dan drone yang diarahkan ke wilayah selatan Saudi, dan pada Jumat dini hari melaporkan pencegatan misil lain di kawasan yang sama. Houthi belum mengklaim serangan tersebut, sehingga ruang kabut informasi tetap lebar dan rawan dipolitisasi.
Koalisi juga menuduh Houthi menyerang stasiun distribusi listrik di Madinah yang melayani Masjid Nabawi, sehingga satu transformator rusak meski jaringan utama tidak terdampak. Pejabat Saudi membingkai insiden ini sebagai bagian dari upaya berulang menarget dua kota suci Islam, setelah menuduh Houthi mencoba menyerang Mekkah dua pekan sebelumnya, tuduhan yang dibantah Houthi.
Eskalasi Perang Yaman hari ini tampak seperti gabungan antara perebutan wilayah dan perebutan narasi. Houthi menekankan “agresi Saudi” untuk menguatkan legitimasi perlawanan, sementara kubu pemerintah memakai istilah “target bernilai tinggi” untuk menjustifikasi serangan tanpa membuka rincian.
Yang paling berbahaya adalah ketika Taiz dan Bab al-Mandab berubah dari medan tempur menjadi instrumen tawar-menawar geopolitik. Jika jalur Laut Merah dijadikan kartu tekanan dalam konflik AS-Iran, warga Yaman akan terus menjadi biaya yang “tak terlihat” di balik angka minyak dan keamanan pelayaran.
Data WHO tentang lebih dari 800 kematian dan laporan WFP tentang 150.000 pengungsi menegaskan bahwa kebijakan militer selalu punya harga sipil. Pertanyaan kritisnya sederhana, siapa yang diuntungkan dari perluasan front, ketika kelaparan dan pengungsian justru memecah daya hidup masyarakat.
Perang Yaman memanas bukan karena satu pertempuran di Taiz, melainkan karena pergeseran kendali atas koridor strategis Bab al-Mandab dan Laut Merah. Ketika peluru dan drone bertemu dengan jalur minyak dan perdagangan, krisis lokal berubah menjadi risiko global.
Di tengah klaim pencegatan misil, tuduhan serangan ke kota suci, dan seruan PBB agar ofensif dihentikan, yang paling mendesak tetaplah perlindungan warga sipil dan akses bantuan. Jika dunia hanya bereaksi saat harga minyak naik, apakah itu berarti nyawa Yaman baru bernilai ketika mengguncang pasar? (Orbit dari berbagai sumber, 4 Oktober 2026)