Kematian Pasien Polio Iron Lung Terakhir AS dan Long Covid

NBC News

NBC News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kematian pasien polio iron lung terakhir di AS menutup satu bab sejarah medis yang pernah menakutkan. Martha Lillard, 78 tahun, meninggal 26 Juni di Oklahoma, dan keluarganya meyakini long Covid mempercepat akhir hidupnya. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Martha Lillard baru berusia 5 tahun ketika didiagnosis polio dan hidupnya bergantung pada iron lung. Ia tidur di silinder yang membungkus tubuhnya, sementara perubahan tekanan udara memaksa udara masuk dan keluar dari paru-parunya. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Adiknya, Cindy McVey, mengatakan dokter dulu menyebut Lillard “tidak seharusnya hidup melewati usia 20.” Namun Lillard memilih bertahan, dan McVey menyebutnya punya “antusiasme dan dorongan” untuk membuat hidupnya tetap berarti. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Sertifikat kematian mencatat penyebabnya sebagai gagal napas kronis dan sindrom pascapolio, menurut McVey. McVey juga mengaitkan kematian itu dengan dampak long Covid, setelah Lillard dua kali terinfeksi selama pandemi. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Kisah ini bukan hanya tentang satu orang, melainkan tentang jejak panjang polio di Amerika. Polio pernah menjadi penyakit paling ditakuti, dengan wabah tahunan yang melumpuhkan ribuan orang, terutama anak-anak. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Vaksin polio mulai tersedia pada 1955, dan kampanye vaksinasi nasional mengubah arah sejarah kesehatan publik. Data CDC mencatat kasus tahunan di AS turun menjadi kurang dari 100 pada 1960-an, lalu kurang dari 10 pada 1970-an. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Pada 1979, polio dinyatakan tereliminasi di AS, artinya tidak lagi menyebar secara rutin. Tetapi eliminasi bukan berarti luka lama hilang, karena banyak penyintas menghadapi sindrom pascapolio dan kerusakan pernapasan seumur hidup. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Iron lung, yang kini nyaris hanya artefak museum, dulu adalah teknologi penyelamat nyawa bagi pasien kelumpuhan pernapasan. Dalam kasus Lillard, mesin itu bukan sekadar alat, melainkan “rumah” yang memungkinkannya melewati dekade demi dekade. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Di masa kecil, Lillard hanya bisa sekolah dua jam per hari dan selebihnya ditutori. Ia bahkan mengikuti Shawnee High School lewat sistem telepon, berinteraksi dengan guru dan teman melalui interkom di kelas. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Keluarganya melakukan perjalanan darat ke Missouri dengan trailer khusus, dan ayahnya menelepon hotel untuk memastikan pintu cukup lebar bagi mesin itu. “Buat saya, itu normal saja,” kenang McVey, kini 75 tahun. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Internet kemudian menjadi jendela baru bagi Lillard untuk belajar, termasuk tentang penyakit yang melumpuhkannya dari leher ke bawah. Dengan terapi, ia mendapatkan kembali sebagian fungsi lengan kiri dan penggunaan kaki, meski gerak lengan kirinya terbatas di pinggang. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Di titik inilah narasi berubah dari sekadar bertahan hidup menjadi merawat martabat. Meski tak bisa meraih ke atas, ia bertahun-tahun tinggal sendiri dan menyiapkan makanannya sendiri, sebuah detail kecil yang menunjukkan skala keteguhan. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Internet juga mempertemukannya dengan calon suami, ketika ia ingin memahami serangan teroris 11 September 2001. Di ruang obrolan, ia berkenalan dengan seorang pria di Mesir dan berkomunikasi daring lebih dari 20 tahun, kata McVey. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Lillard menikah dengan Baha Salh pada Februari, setelah ia akhirnya memperoleh visa untuk datang ke Oklahoma. “Mereka benar-benar belahan jiwa,” kata McVey, seraya menambahkan suaminya “sangat patah hati.” (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Namun pandemi Covid-19 memperlihatkan rapuhnya tubuh yang sudah lama bertahan. Sebelum terkena Covid, kapasitas paru Lillard kurang dari 25%, dan lima tahun terakhir ia makin sulit bernapas hingga tidak bisa keluar rumah. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Dua tahun terakhir, ia berada di iron lung hampir 24 jam sehari, menurut McVey. Jika polio adalah badai pertama, maka long Covid menjadi angin dingin yang memperpanjang penderitaan pada organ yang sudah tersisa sedikit cadangannya. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Kisah ini juga membuka isu lain yang jarang dibicarakan, yakni ketergantungan pada teknologi tua yang tak lagi punya ekosistem perawatan. McVey dan Lillard sempat putus asa mencari orang yang bisa memperbaiki iron lung, salah satu dari beberapa mesin yang ia gunakan sepanjang hidup. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Di tengah euforia “penyakit sudah hilang,” cerita Lillard mengingatkan bahwa kesehatan publik punya ekor panjang. Vaksinasi memang memutus penularan polio, tetapi tidak otomatis menutup kebutuhan perawatan jangka panjang bagi para penyintas yang membawa kerusakan seumur hidup. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Long Covid dalam kisah ini terasa seperti ironi sejarah, karena pandemi modern menabrak tubuh yang sudah ditempa wabah lama. Saat sertifikat kematian menyebut gagal napas kronis dan sindrom pascapolio, keluarga justru menegaskan konteks baru, yaitu “long-haul Covid 19,” yang bahkan ditambahkan Lillard dalam obituarinya sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Di sini, obituari bukan sekadar pengumuman kematian, melainkan pernyataan politik tentang sebab dan pengalaman. Ketika seorang penyintas menulis sendiri akhir hidupnya, ia sedang merebut hak untuk mendefinisikan penderitaan yang sering disederhanakan statistik. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Detail bahwa ia menjadi relawan Humane Society, menulis puisi, dan menggubah lagu, menolak narasi bahwa hidup dalam keterbatasan hanya berisi kekurangan. Ia menyebut dirinya pecinta Beagle dan membantu penyelamatan hewan sebagai “cross poster” di Facebook, sebuah bentuk kepedulian yang tetap berjalan meski tubuh tak bebas bergerak. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Kalimat McVey yang paling menohok justru yang paling sederhana: “Karena dia yang terakhir, kita tidak membutuhkan itu lagi.” Kalimat itu terdengar seperti kemenangan sains, tetapi juga menyimpan kesedihan, karena “yang terakhir” berarti ada seseorang yang menanggung beban sampai garis akhir sendirian. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Kematian Martha Lillard, pasien polio iron lung terakhir di AS, adalah penutup yang sunyi bagi era ketika satu virus bisa melumpuhkan generasi. Namun ia juga cermin bahwa wabah tidak benar-benar selesai ketika kurva kasus turun, karena dampaknya bisa tinggal puluhan tahun dalam tubuh manusia. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)

Jika vaksin mengajarkan kita tentang pencegahan, maka kisah Lillard mengajarkan kita tentang tanggung jawab setelah pencegahan berhasil. Pertanyaannya kini, apakah sistem kesehatan dan masyarakat siap merawat “ekor panjang” penyakit—dari sindrom pascapolio hingga long Covid—dengan keseriusan yang sama seperti saat kita panik menghadapi wabahnya. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)