Memoar Earl Spencer soal Putri Diana, Kritik Raja Charles
ORBITINDONESIA.COM – Memoar Earl Spencer tentang Putri Diana kembali mengguncang narasi keluarga kerajaan, terutama lewat kritik terhadap Raja Charles. Ia menyebut penulisan buku itu sebagai “duty… as an eyewitness to history” dan ingin “to put things down once and for all that were true”.
Earl Spencer diwawancarai BBC menjelang rilis memoir Swan Song pada Selasa, dengan sorotan pada klaim-klaim yang memantik kontroversi. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah tudingan bahwa Charles, saat masih Pangeran Wales, pernah berkata “we'll forget her soon enough” dalam perdebatan tentang apakah Pangeran William dan Harry perlu berjalan dalam prosesi pemakaman Diana.
Istana Buckingham membalas dengan pernyataan keras yang menekankan duka saudara bisa “cloud reason, affect judgement and colour memory” bahkan bertahun-tahun setelah kehilangan. Respons ini bukan sekadar bantahan, melainkan upaya membingkai ulang sumber masalah: bukan fakta, melainkan ingatan yang terluka.
Di balik pertukaran narasi itu, publik melihat satu hal yang konsisten sejak 1997, yaitu perebutan makna atas kematian Putri Diana. Setiap memoar, wawancara, dan pernyataan resmi menjadi arena baru yang mempertemukan kesedihan pribadi, kepentingan institusi, dan rasa ingin tahu massa.
Terjemahan akurat bagian inti artikel BBC menunjukkan posisi Spencer yang tegas. Ia mengatakan menulis buku tentang Diana adalah “kewajibannya… sebagai saksi mata sejarah”, dan ia ingin “menuliskan hal-hal sekali dan untuk selamanya yang benar”.
Artikel itu juga memuat detail awal yang manusiawi dan getir dari malam kematian Diana. Spencer berada di Afrika Selatan ketika Diana tewas dalam kecelakaan mobil di Paris pada dini hari 31 Agustus 1997 bersama Dodi Fayed dan sopir, lalu ia menerima telepon tengah malam dari Lady Jane Fellowes yang mengatakan Diana mengalami kecelakaan tetapi “tidak terlalu serius”.
Kontras antara “tidak terlalu serius” dan kenyataan tragis beberapa jam kemudian menegaskan bagaimana tragedi publik dimulai dari miskomunikasi privat. Dalam konteks ini, memoar menjadi alat untuk mengunci versi peristiwa sebelum versi lain mendominasi ruang publik.
Klaim “we'll forget her soon enough” memiliki daya ledak karena menyentuh dua lapis emosi sekaligus: duka keluarga dan citra monarki. Jika benar, kalimat itu terdengar dingin; jika tidak benar, ia menjadi contoh betapa ingatan bisa berubah menjadi senjata politik.
Pernyataan Istana Buckingham menarik karena tidak membantah secara rinci, melainkan menawarkan penjelasan psikologis tentang duka. Dengan mengatakan duka saudara dapat mengaburkan nalar dan mewarnai ingatan, istana menggeser perdebatan dari “apa yang terjadi” menjadi “bagaimana seseorang mengingat”.
Strategi ini efektif untuk meredam tuntutan bukti, namun berisiko dianggap meremehkan kesaksian keluarga sendiri. Di era digital, publik terbiasa menuntut verifikasi; ketika yang muncul adalah bahasa empatik yang abstrak, kecurigaan justru bisa membesar.
BBC juga menyinggung bahwa wawancara memuat kritik Spencer terhadap liputan pers tentang Duke dan Duchess of Sussex. Ini menghubungkan tragedi 1997 dengan konflik media masa kini, seolah ada garis lurus antara perlakuan pers terhadap Diana dan tekanan yang dialami generasi berikutnya.
Secara historis, kematian Diana pada 31 Agustus 1997 memang menjadi titik balik relasi kerajaan dan media Inggris. Namun memoir dan wawancara semacam ini menunjukkan “titik balik” itu belum benar-benar selesai, melainkan berulang dalam bentuk baru.
Memoar Earl Spencer tampak seperti upaya merebut kembali kontrol atas cerita yang selama ini dimiliki institusi dan media. Ia mengklaim berbicara sebagai saksi sejarah, tetapi saksi juga manusia, dan manusia membawa luka, sudut pandang, serta kebutuhan untuk menutup bab yang tak pernah benar-benar tertutup.
Di sisi lain, respons Buckingham Palace memperlihatkan refleks klasik monarki: menjaga stabilitas dengan bahasa yang rapi dan terukur. Namun ketika publik membaca “duka bisa mewarnai ingatan”, yang terdengar bukan hanya empati, melainkan juga pesan tersirat: jangan terlalu percaya pada narasi yang mengganggu tatanan.
Masalah utamanya bukan siapa yang paling benar, melainkan bagaimana kebenaran diproduksi di ruang publik. Ketika keluarga kerajaan, keluarga kandung, dan media saling menguatkan atau saling menegasi, “kebenaran” berubah menjadi hasil tarik-menarik kekuasaan.
Klaim tentang William dan Harry berjalan dalam prosesi pemakaman juga memunculkan pertanyaan etis yang tetap relevan. Apakah keputusan-keputusan besar keluarga harus diputuskan demi tradisi, demi psikologi anak, atau demi kamera yang menunggu di ujung jalan?
Jika Spencer benar ingin “sekali dan untuk selamanya” menuliskan yang benar, ia juga sedang menantang publik untuk menilai ulang apa yang selama ini dianggap pasti. Tetapi tantangan itu datang dengan konsekuensi: setiap kalimat bisa menjadi peluru baru dalam perang citra yang tak pernah sepi.
Wawancara BBC dan memoar Swan Song memperlihatkan bahwa kematian Putri Diana bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan trauma yang terus diperebutkan maknanya. Di antara klaim tajam Spencer dan bahasa diplomatis istana, publik melihat satu pelajaran: duka personal bisa berubah menjadi krisis institusional ketika dibaca oleh jutaan mata.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan hanya apakah sebuah kutipan pernah diucapkan, tetapi mengapa kita terus membutuhkannya untuk menilai karakter seseorang. Mungkin yang lebih mendesak adalah menimbang bagaimana kita, sebagai masyarakat, memperlakukan kesedihan orang lain sebagai konsumsi, lalu menyebutnya “sejarah”.
(Orbit dari berbagai sumber, 22 September 2026)